WORKING HOLIDAY VISA (WHV) Subclass 462 KE AUSTRALIA

Laporan

Indah Morgan

dari Australia

Michael Andrean, pemuda yang lahir hingga lulus SMA di Palangkaraya, kemudian melanjutkan ke perguruan tinggi di BINUS – Jakarta Barat. menuturkan pengalaman pribadinya menjadi pekerja Indonesia di Australia dengan menggunakan Working Holiday Visa  (WHS) Subclass 462.

Sebelum merantau ke luar negeri, Michael bekerja pada sebuah perusahaan konsultan IT di Jakarta. Posisi yang sudah lumayan bagus terpaksa ditinggalkan demi mencari suasana baru, pengalaman travelling dan bekerja diberbagai industri di seluruh Australia.

Informasi WHV diperoleh dari blog pribadi seorang temannya yang telah berhasil berangkat ke Australia. Dari informasi tersebut diketahui bahwa WHV ini sudah banyak berlaku dibanyak negara, namun bagi pemegang paspor Indonesia, sejauh ini baru bisa apply WHV ke Australia saja.

Untuk tahun 2017, quota untuk WHV sebanyak 1.000 dalam setahun dan pergantian tahun setiap bulan Juli. WHV merupakan visa yang memperbolehkan anak muda Indonesia berusia antara 18-30 tahun untuk berlibur sambil bekerja di Australia selama satu tahun. Dengan adanya WHV ini anak muda Indonesia bisa bekerja casual untuk mendapatkan biaya tambahan selama berlibur di Australia.

Berikut ini hasil wawancara redaksi Kabarrantau.com Indah Morgan (red) dengan Michael Andrean di Australia :

Apa saja persyaratan WHV pada tahun pertama?

Informasi lengkapnya bisa dilihat di website imigrasi Indonesia. www.imigrasi.go.id

  1. Berusia 18-30 tahun
  2. Tidak mempunyai anak dibawah umur ketika berada di Australia
  3. Belum pernah apply WHV sebelumnya
  4. Memiliki kualifikasi setingkat perguruan tinggi atau
  5. Telah menjalani pendidikan di perguruan tinggi minimum 2 tahun & merupakan mahasiswa aktif
  6. Memiliki paspor yang berlaku minimum 12 bulan
  7. IELTS minimum score 4.5
  8. Surat dari Bank yang menyatakan kepemilikian dana minimum AU$ 5000 atau setara.

Bagaimana cara mendaftar WHV (Subclass 462)

  1. Mengajukan Surat Rekomendasi (SPRI) ke Direktorat Jendral Imigrasi Republik Indonesia. Pengajuan dilakukan secara online di website imigrasi Indonesia www.imigrasi.go.id
  2. Menunggu panggilan interview oleh pihak imigrasi Indonesia. Setelah interview, dalam beberapa hari, mereka mengirimkan SPRI ke email. SPRI ini digunakan mengajukan aplikasi WHV.
  3. Apply WHV ke AVAC (Australia Visa Application Centre). Agen resmi untuk mengurus pembuatan visa ke Australia.
  4. Menunggu HAP ID (ID untuk medical check up) dari Kedutaan Australia. HAP ID dikirim melalui email
  5. Melakukan medical check up
  6. Dalam beberapa hari, akan menerima email pemberitahuan tentang visa disetujui atau tidak dari kedutaan Australia.

Berapakah biaya total untuk mendapatkan WHV (Subclass 462)?

  1. IELTS – Rp 2.850.000
  2. Biaya pengajuan visa di AVAC = AU$ 440 tergantung nilai tukar Rupiah
  3. Medical Check up di RS Premier Bintaro Rp. 895.000
  4. Biaya transport dari daerah ke Jakarta untuk mengikuti test IELTS, wawancara SPRI, mengajukan visa dan medical check up.

Persiapan Wawancara SPRI dalam Bahasa Inggris:

  1. Mengajukan dan verifikasi document persyaratan
  2. Persiapkan tulisan singkat, mau ngapain di Australia, subject saat kuliah dan
  3. Alasan ketertarikan berlibur sambil bekerja ke Australia

Medical Check up seperti apa ya?

  1. Test Urine
  2. Tensi darah, suhu tubuh, berat badan dan tinggi badan
  3. Test mata
  4. General check up oleh dokter
  5. Rontgen: memastikan bahwa calon pemegang WHV tidak menderita TBC, karena Indonesia merupakan negara ke 3 TBC terbesar sementara Australia negara  urutan terakhir.

Apakah perlu mendapatkan jaminan kerjaan sebelum berangkat?

Jawabanya TIDAK. Kebanyakan pemegang WHV melamar pekerjaan sesampai di Australia, namun sebelumnya telah mencari pekerjaan secara online dengan bantuan teman yang telah berada di Australia. Sebagai pemegang WHS bisa bekerja dimana saja dengan upah kerja per jam yang lumayan tinggi. Meskipun yang tersedia hanyalah pekerjaan casual namun bisa menjadi batu loncatan untuk mencari pekerjaan yang terbaik setelah mengenal dan beradaptasi dengan baik.

Michael menginjakkan kakinya untuk pertama kali di kota Melbourne pada tanggal 11 October 2016.

Pekerjaan pertama yang dia lakukan di Melbourne adalah sebagai DJ a.k.a dishwasher di sebuah restaurant asia bernama Din T*i Fung, yang berlokasi di Emporium Melbourne. Enaknya bekerja di Melbourne adalah, bisa nonton orang ngamen di Bourke st sebelum/setelah kerja. Dengan gaji seadanya Michael bisa bertahan hidup selama 6 minggu di Melbourne.

Bagi pemegang WHV disarankan untuk tidak bekerja pada 1 employer selama 6 bulan berturut-turut. Oleh karena alasan tersebut, pada bulan November, Michael melanjutkan perjalanan menuju ke Sydney. Selama 2 malam pertama di Sydney, belum mempunyai tempat tinggal dan beruntungnya ada senior WHV yang baik hati menampung dia dirumahnya. Pada malam ketiga Michael diterima bekerja di Queen Chow, daerah Enmore sebagai kitchen hand.

Pertengahan Januari, Michael memutuskan untuk mengadu nasib disebuah kota kecil di daerah Queensland bernama Cairns. Sebelumnya telah diketahui bahwa ada 3-4 senior WHV Indonesia yang tiggal di kota Cairn, dengan penuh harapan untuk mendapatkan pekerjaan hospitality. Beberapa WHV Indonesia tinggal diluar kota Cairn karena peluang kerja di sector pertanian lebih besar. Setelah menunggu selama satu minggu akhirnya mendapat kesempatan kerja di hotel Shangri-La sebagai Steward. Profesi steward merupakan pekerjaan pertama kali dilakukan dengan training yang minimum. Michael menemukan environment yang berbeda dari sebelumnya. Disini Michael belajar banyak termasuk mengenai SOP food safety dll. Juru masak di hotel Shangri-La cukup baik dan ramah sekali. Disini Michael seperti menemukan keluarga di rantau, berkumpul dengan teman-teman WHV Indonesia lainya, hingga tanpa terasa telah berada di Australia selama 6 bulan.

Menjelang musim dingin di bulan Juni, Michael pindah ke Melbourne karena mendapatkan kerjaan di salah satu ski resort Mt. Buller. Alasan utama pindah adalah agar berpengalaman bermain salju gratis tiap hari. Michael bekerja disebuah restaurant bernama ABOM, dimana restaurant ini dibawah management yang sama pengelola ski resort di Alpine village Mt Buller. Yang berkesan adalah pemegang WHV diijinkan untuk main snowboarding saat istirahat, masing-masing pekerja memiliki snow gear sendiri yang di simpan d locker restaurant. Hal ini memberikan kemudahan untuk mengikuti free snowboard/ski lessons di saat waktu kosong.

Pembekalan yang diharapkan sebelum berangkat ke Australia:

  1. Anjuran untuk melaporkan keberadaannya baik secara online atau datang ke kantor perwakilan Indonesia setempat dan menyimpan nomer telpon untuk keperluan emergency
  2. Pentingnya mengenal kebudayaan, tata krama, keberanian untuk menyampaikan pendapat dan tradisi orang Australia agar tidak terkena shock culture
  3. Mengenal peraturan dasar termasuk smoking area; perubahan cuaca yang drastik di Melbourne yang terkadang mengalami 5 musim dalam satu hari
  4. Tidak selamanya WHV selalu berada bersama WHV Indonesia, oleh karena itu pentingnya mengetahui bentuk perlindungan yang bisa diperoleh bila terjadi hal-hal yang tidak kita inginkan. Misalnya; kontak detail dari organisasi Union bagi pekerja.
  5. Kebanyakan pemegang WHV adalah fresh graduate, kurang pengalaman dan first abroad traveller. Selain surat pernyataan dari Bank bahwa memiliki jaminan dana selama di Australia, perlu juga persiapan mental sebagai persiapan menghadapi  perbedaan dengan orang asing.
  6. Untuk melengkapi proses adaptasi, perlu dibekali cara menanggulangi home sick dan keperluan spiritual lainya.

Pesan bagi calon pemegang WHV:

Tidak ada kata terlalu cepat atau terlambat untuk mencoba sesuatu hal yang baru. Terkadang kita takut untuk keluar dari comfort zone, sehingga kita memilih untuk stay dan menjadi pribadi yang membosankan. Selama di Australia banyak sekali pelajaran yang bisa kita ambil, tidak hanya mengumpulkan uang, di sini kita bisa ketemu teman2 baru, belajar untuk saling menghargai,  bertoleransi dan juga membentuk karakter menjadi lebih dewasa dalam bersikap.

Michael saat berlibur di Australia

Secara financial, berlibur sambil bekerja di Australia lebih bagus gajinya ketimbang bekerja di Indonesia dengan profesi yang sama. Pengalaman bertemu teman baru mengajarkan untuk bermimpi lebih banyak lagi dan mengerjakan lebih baik. Berlibur sambil bekerja menggunakan WHV mampu mengubah pola pikir bahwa bekerja tidak semata-mata karena uang untuk menjadi kaya, melainkan bekerja perlu diimbangi dengan kegiatan yang kita sukai.

Pengalaman Michael di bidang IT dan sekarang di hospitality menjadi menarik dan mengerti akan arti sebuah “value” bahwa bekerja di hospitality seperti waiter, barista, dll memiliki standard yang sama dengan profesi yang lainya dan tidak dipandang rendah seperti di Indonesia.

Salah satu pemegang WHV memperoleh sponsorship dari (multinational company) yang sebelumnya bekerja di perusahaan yang sama di Indonesia, dengan rasa percaya diri yang tinggi meminta rekomendasi dari kantor lamanya agar bisa bekerja di kantor yang berpusat di Australia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here