Warga Kehormatan Jerman dan Prestasi Habibie di Kancah Dunia

Setelah Presiden ke-3 RI BJ Habibie wafat, namanya masih menjadi pembicaraan. Publik Tanah Air masih mengenang sosok negarawan sejati itu.  

Prestasi gemilang yang ditorehkan Habibie selama 83 tahun hidupnya tak hanya terukir di Indonesia tapi juga berbekas di dunia internasional, terutama Jerman.

Dilansir CNN.com, Habibie memang tidak bisa dipisahkan dari Jerman. Habibie muda pernah mengenyam pendidikan lanjutan di Universitas RWTH Aachen, Jerman Barat, pada 1955 silam. Di sana, suami Ainun Besari itu mendalami teknik penerbangan dengan penjurusan konstruksi pesawat terbang.

Setelah lulus, Habibie juga sempat berkarier di negara Eropa barat itu. Ia sempat bekerja di perusahaan kereta api Jerman, Waggonfabrik Talbot, pada 1962. Perusahaan itu kini menjadi pemasok utama perusahaan kereta api pelat merah Jerman, Nederlandse Spoorwegen.

Kala itu, Habibie menjabat sebagai penasihat yang mendesain kereta api. Karena kinerjanya yang impresif, beberapa tahun setelahnya Habibie didapuk menjadi pemimpin perusahaan konstruksi kereta api itu namun ia menolaknya.

Sekitar 1965, Habibie berhasil meraih gelar doktor teknik penerbangan dari RWTH Aachen University. Di tahun yang sama, Habibie terlibat dalam sebuah penelitian terkait Thermoelastisitas tetapi menolak penawaran untuk menjadi seorang profesor di universitas itu.

Thesis doktor Habibie menorehkan nilai “sangat baik” terkait konstruksi supersonik atau hipersonik. Idenya itu bahkan menarik raksasa industri penerbangan dunia seperti Boeing dan Airbus untuk menawarkannya pekerjaan. Tapi, lagi-lagi Habibie menolaknya.

 
Habibie lebih memilih bekerja di perusahaan manufaktur penerbangan Messerschmitt-Bölkow-Blohm (MBB) di Hamburg. Di sana ia mengembangkan sejumlah teori thermodinamik, konstruksi, dan aerodinamik yang dikenal dengan sebutan Teori Habibie, Habibie Factor, atau Metode Habibie.

Teori Faktor Habibie merupakan rumus penghitungan keretakan atau crack progression pada konstruksi pesawat. Akibat temuan rumus itu, Habibie kerap dijuluki Mr. Crack.

Faktor Habibie bahkan hingga kini dipakai di dunia penerbangan dan konstruksi pesawat terbang.

Ia juga berhasil membuat desain pesawat Airbus A-300. Pada 1974, ia diangkat menjadi wakil presiden MBB, perusahaan yang sekarang merupakan bagian dari Airbus.

Selain terkenal karena kecerdasannya dalam industri teknologi Jerman, Habibie juga diketahui memiliki hubungan dekat dengan komunitas ilmuwan, politikus, hingga kanselir Jerman. Ia disebut bersahabat baik dengan mantan Kanselir Jerman, Helmut Schmidt dan penerusnya, Helmut Kohl.


Berkat jasa dan prestasinya dalam dunia industri penerbangan, Jerman memberikan dua penghargaan kepada Habibie yakni “Das Grosse Verdenstkreuz Mit Stern und Schulterband” dan “Das Grosse Verdienstkreuz” pada 1980. Habibie bahkan diberi gelar Warga Negara Kehormatan Jerman pada 1988.

Habibie menjadi orang Asia pertama yang mendapat penghargaan bergengsi Edward Warner dari International Civil Aviation organization (ICAO) pada 1994 silam di Montreal, Kanada.

Penghargaan itu diberikan ICAO karena menganggap Habibie banyak berjasa atas pengembangan desain pesawat terbang dunia dan kemajuan industri dirgantara RI.

Nama Habibie juga disejajarkan dengan penemu helikopter, Igor Sirkorsky, dan Charles Lindbergh, orang pertama yang melakukan penerbangan tunggal melintasi Atlantik Utara.

Tak habis sampai di situ, Habibie turut mendapat sejumlah penghargaan lainnya semasa hidupnya dari Prancis, Taiwan, Spanyol, Chile, Italia, Belgia, Yordania, hingga Amerika Serikat.

Nama besar dan penghargaan serta puja-puji yang diberikan dunia tak membuat Habibie silau.

Bapak dua putra itu rela melepas karier yang telah ia rintis di luar negeri demi berbakti pada Ibu Pertiwi.

Habibie kembali ke Indonesia pada 1973 atas permintaan Presiden Soeharto.

Pada tahun 1978, Habibie didapuk menjadi Menteri Negara Riset dan Teknologi pada 1978. Terobosan pertamanya dimulai dengan implementasi “Visi Indonesia” yang mendambakan lompatan-lompatan dari negara agraris menjadi negara industri penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi.

 
Selama 20 tahun menjabat Menristek, Habibie telah membuat sejumlah teroboson. Dia menggagas sejumlah industri strategis seperti PT IPTN (yang sekarang merupakan PT Dirgantara Indonesia), Pindad dan PT PAL. Di tangan Habibie, Indonesia berhasil membuat pesawat sendiri.

Puncak karier Habibie tercatat pada 1998 saat diangkat sebagai Presiden ke-3 Republik Indonesia setelah Soeharto berhenti sebagai pemimpin negara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here