Unair Temukan 6 Whole Genome Baru Covid-19

Universitas Airlangga (Unair) Surabaya berhasil menemukan enam whole genome yang diambil dari 21 sampel pasien positif Covid-19 pada bulan Maret dan April. Whole genome merupakan sidik jari yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi virus.

“UNAIR juga telah berhasil mendapatkan whole genome sequences dari enam jenis virus COVID-19 yang menginfeksi pasien Indonesia,” tutur Koordinator Produk Riset Covid-19 Universitas Airlangga Prof Ni Nyoman Tri Puspaningsih dikutip dari lansiran Liputan6.

Rektor Unair Surabaya Prof Dr Mohammad Nasih SE MT Ak CMA menjelaskan bahwa penemuan enam whole genome itu akan segera di-upload dan dilakukan proses lebih lanjut.

“Jadi ini nanti kita segera upload di GISAID (organisasi penelitian dunia), karena ini menjadi temuan yg menurut saya sangat strategis. Karena temuan whole genome khas Indonesia ini akan dilakukan proses lebih lanjut,” kata Nasih dikutip dari lansiran Detik.

Nasih menlanjutkan bahwa enam whole genome yang ditemukan Unair menunjukan pola yang mirip dengan yang ada di China dan Eropa.

“Pertama adalah berdasarkan waktunya untuk sampel yang diambil Bulan Maret itu dari 4 sampel, 3 tipe polanya itu mengikuti China. Sementara 2 sampel yang diambil bulan April itu tipe polanya mengikuti dan mirip tipe di Eropa,” lanjutnya Detik.

Kampus Universitas Airlangga. Foto: Universitas Airlangga
Kampus Universitas Airlangga. Foto: Universitas Airlangga

Dalam laporan Jawa Pos, Ketua Lembaga Penyakit Tropis (LPT) Unair Prof dr Maria Lucia Inge Lusida SpMK memperjelas bahwa Intitute Tropical Disease (ITD) memiliki alat canggih next generation squencer yang dapat memetakan seluruh gen dari virus Covid-19. ”Dari 21 sampel yang diambil, hasilnya yang hampir komplet ada enam whole genome. Sekitar 96 persen,” katanya.

Prof Inge menambahkan, selanjutnya setelah enam varian whole genome mencapai 100 persen hasil analisa pihaknya akan deposit bersama dengan seluruh dunia. Dengan demikian pihaknya akan mampu menganalisa varian whole genome di Indonesia.

“Seberapa jauh atau seberapa dekat, dengan (tipe) yang mana. Untuk perkembangan lebih lanjut untuk vaksin atau diagnosis,” pungkas Prof Inge dikutip dari lansiran Republika.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here