Tim Paduan Suara Unair Raih Juara Dalam Choir Competition 2017 di Austria

Tim Paduan Suara Unair merayakan kemenangan setibanya di Terminal 2 Bandara Juanda Kamis (29/6).

Mahasiswa Indonesia kembali menorehkan prestasi di kancah internasional. Kali ini tim Unit Kegiatan Mahasiswa Paduan Suara Unair (PSUA). Mereka menjadi jawara dalam ajang The Third International Choral Competition Ave Verum yang digelar di Baden, Austria.

Dilansir Unair.co, tim Unair berhasil menyabet gelar juara. Dalam kompetisi tersebut, mereka meraih tiga penghargaan. Yakni, 1st Gold Superior, Best Interpretation of a Choral Piece composed after the Year 2000, dan Special Award for Audience Choice.

Lomba yang diselenggarakan pada 22–25 Juni itu diikuti 8 peserta dari 7 negara. Persaingannya sangat ketat. Ronald Moses Abram, ketua tim PSUA menyatakan, tiga tim di peringkat paling bawah memiliki total nilai sekitar 80. Tim di atasnya mencapai nilai lebih dari 85.

Namun, tim Unair berhasil meraih poin hampir sempurna. Yakni, 97 dari 100. ”Benar-benar ketat, apalagi setelah kami tahu salah satu peserta yang kami anggap paling sulit tidak masuk babak grand prix,” ucapnya. Keputusan itu cukup mengagetkan sekaligus mendebarkan.

Dalam kompetisi tersebut, tim PSUA menyanyikan delapan lagu. Yakni, satu lagu wajib berjudul All That Can Breath. Kemudian, disusul tujuh lagu gerejawi dengan bahasa Latin, Jerman, Prancis, dan Inggris. Masing-masing berjudul Vezzosi Augelli, Dieu! Qu’il La Fait Bon Regarder, Contrition, Ave Maria, Trotz Dem Alten Draehen, Salve Regina, dan Ave Regina.

Moses menuturkan, perjalanan lomba kali ini memang sangat luar biasa. Sejak awal persiapan, mereka mengeluarkan kemampuan maksimalnya.

Sebelum membentuk tim, mereka menyeleksi seluruh anggota PSUA. Seleksi pada November itu menyisakan 39 orang dan 1 konduktor sebagai anggota tim.

”Untuk jadi anggota tidak mudah. Mereka harus bisa nyanyi lagu klasik dan nasional serta baca partitur,” terangnya. Selain itu, para anggota melakukan tes range suara. Masing-masing harus mampu memainkan piano dasar.

Latihan dimulai pada Desember 2016. Sejak saat itu, mereka berlatih setiap hari. Mereka pun bertolak ke Austria pada 15 Juni. Namun, Moses mengaku bahwa sebenarnya tim belum siap. ”Kami belum latihan satu tim full,” ungkapnya. Sebab, selama ini mereka berlatih dalam dua regu.

Sesampainya di Austria, mereka melanjutkan latihan di hotel tempat menginap. Kegiatan itu menjadi salah satu tantangan bagi tim paduan suara Unair. Sebab, siang cuaca di Baden bisa mencapai 34 derajat Celsius. Pada malam, suhunya turun drastis mencapai 12 derajat Celsius.

”Tantangannya, kami harus latihan di luar ruangan pada malam hari,” kenangnya. Tentu saja, hal tersebut membuat tim kewalahan. Hawa dingin terus menusuk selama latihan. Belum lagi, mereka ditegur dan diusir tetangga hotel yang terganggu oleh suara mereka.

Beruntung, pihak KBRI Austria mau membantu. Akhirnya, tim berhasil latihan secara penuh di gedung KBRI. ”Dan, itu cuma sekali. Lalu, besoknya kami lomba,” kata Moses.

Perjuangan keras bukan satu-satunya hal berkesan selama mereka mengikuti kompetisi internasional. Hal lainnya adalah Baden merupakan salah satu lokasi Beethoven menciptakan lagu. Karena itu, kota tersebut sangat ramah bagi para musisi seperti anggota tim paduan suara Unair. Sambutan masyarakat pun sangat antusias dan hangat.

Selama perlombaan di Baden, tidak ada konser kebudayaan seperti kompetisi lainnya. Namun, ada kegiatan long night choral music. Seluruh peserta harus mengikuti dan bernyanyi di dalamnya. Kegiatan tersebut di luar lomba paduan suara. Namun, ada penghargaan untuk penampilan favorit berdasar pilihan penonton.

Dalam kesempatan itu, tim PSUA membawakan lagu Cingcangkeling, Tanah Airku Indonesia, dan Ondel-Ondel. Meski tidak tahu bahasanya, para penonton tampak terhibur dengan penampilan mereka. Salah satunya disebabkan tim itu menyanyi sambil menari. Alhasil, mereka berhasil merebut hati penonton dan memenangkan kategori penampilan favorit.

Paginya, ada kegiatan yang sama di sebuah plaza terbuka di dekat lokasi lomba. Di sana, penonton dari penjuru Austria datang menyaksikan penampilan para peserta. Dalam kesempatan itu, tim PSUA menyanyikan lagu Yamko Rambe Yamko dan Rayuan Pulau Kelapa.

Tidak hanya itu, suasana Ramadan di KBRI juga semakin meriah dengan kedatangan anggota tim PSUA. Mereka diberi tempat untuk tampil dalam kegiatan tersebut. Tak menyia-nyiakan kesempatan, mereka membawakan lagu Tanah Airku Indonesia. ”Akhirnya, jadi seperti konser kebudayaan di KBRI,” celetuknya.

Semua hal tersebut tak akan bisa diraih jika tanpa kerja keras dan tanggung jawab dari masing-masing anggota tim. Moses menuturkan, setiap anggota sudah berkomitmen dengan diri sendiri. Mereka harus mandiri. Ketika ada yang tidak beres dengan suaranya, mereka akan melakukan segala cara agar bisa kembali normal.

Kencur jadi makanan sehari-hari bagi para anggota PSUA. Begitu pula ramuan teh Lo Han Kuo. Mereka juga puasa es krim dan gorengan sebelum perlombaan. Latihan suara dan pernapasan dilakukan sendiri sebelum berkumpul dengan tim.

Marcellino Rudyanto PhD, pembina UKM PSUA yang turut mendampingi anggota saat berlaga di Austria, menyampaikan apresiasinya kepada tim. Dia mengungkapkan, tim yang terbentuk untuk kompetisi itu merupakan anggota-anggota baru. ”Ini regenerasi terbanyak dalam sejarah kompetisi yang diikuti PSUA,” terangnya.

Tak hanya itu, perlombaan kali ini juga cukup berbeda dengan tidak diperbolehkannya peserta menyanyikan lagu daerah. Padahal, di situlah kekuatan tim PSUA selama ini. Namun, mereka berhasil menunjukkan bahwa mereka juga bisa tetap bersinar dengan lagu-lagu klasik. ”Hanya ada satu kategori dalam kompetisi ini dan mereka berhasil menjadi juara. Hebat,” ujarnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here