Tiga Mahasiswa ITS Ciptakan Alat Bantu bagi Lansia LifePlus,

INOVASI: Dari kiri, Made Detya Dharma Yudha, Luthfi Fathurrahman, dan Natsir Hidayat Pratomo membuat alat LifePlus untuk membantu para lansia.

Tiga mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) ini berhasil menciptakan LifePlus. Yakni, teknologi yang memungkinkan lansia mendapatkan pertolongan secepatnya ketika jatuh.

Saat di temui Jawapos, Lutfi menceritakan awal mula mereka membuat alat LifePlus. Sebagai mahasiswa tingkat akhir di jurusan teknik fisika, dia ingin membuat satu alat yang bermanfaat sebelum pendidikan sarjananya berakhir. Karena itu, dia mengajak dua kawannya, yakni Natsir dan Detya, untuk menciptakan alat orisinal buatan mereka. ’’Itung-itung mengisi waktu luang juga biar nggak kuliah-pulang-kuliah-pulang saja,’’ ungkap laki-laki asal Semarang, Jawa Tengah, tersebut.

Awalnya mereka ingin membuat alat yang bisa menyimpan data kesehatan. Tapi, lama-lama ide itu semakin berkembang. Hingga akhirnya, tercetus pembuatan alat bernama LifePlus. Gunanya, mendeteksi lansia yang terjatuh dan memungkinkan perawat atau penjaganya tahu lebih cepat sehingga bisa segera tertolong.

Ide membuat LifePlus berasal dari pengalaman pribadi Natsir. Dia bercerita bahwa kakeknya merupakan orang yang giat bekerja meski usia semakin senja. Suatu ketika, kakeknya terjatuh dan tidak ada orang yang tahu hingga beberapa jam. Ketika ditemukan dan dibawa ke rumah sakit, sang kakek divonis dokter telah mengalami kelumpuhan. ’’Dan, ternyata setelah kami cek data di rumah sakit dan panti
jompo, kasus serupa sering terjadi,’’ terangnya.

Karena itu, tiga mahasiswa tersebut mengajukan proposal dana bantuan program kreativitas mahasiswa (PKM) dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (DP2M) Ditjen Dikti November 2015. Rupanya, proposal mereka lolos dan berhasil mendapatkan dana penelitian Rp 7 juta.

Penelitian dan perakitan alat berlangsung pada Januari hingga Mei 2016. Mereka juga dibimbing Arief Abdurakhman, dosen jurusan teknik fisika. Awalnya mereka menggunakan sensor detak jantung dan sensor jatuh untuk menunjang alat. Rupanya, sensor detak jantung tidak terlalu berguna. Akhirnya pada prototipe kedua, mereka hanya berfokus pada sensor jatuh.

Pengolahan datanya menggunakan pengendali mikro single-board Arduino. Mereka memasukkan data-data kecepatan jatuh rata-rata lansia parsial. Yakni, para orang tua yang ditetapkan dokter memiliki kemungkinan jatuh antara 20–70 persen karena berbagai faktor. Kode-kode dimasukkan hingga alat bisa mendeteksi sesuai dengan yang mereka inginkan.

Cara kerjanya cukup mudah. Tiga mahasiswa tersebut membuat aplikasi berbasis Android untuk mengatur penggunaan alat. Di dalam aplikasi itu, dimasukkan nomor telepon genggam perawat atau penjaga sang lansia. Ketika lansia terjatuh, alat otomatis mengirimkan sinyal ke aplikasi Android. Selanjutnya, aplikasi tersebut mengirimkan pesan berbentuk SMS short
message service) ke nomor yang telah ditentukan tadi. ’’Alat kami sudah bisa mengirimkan lokasi tepatnya lansia jatuh, jadi bisa segera tertolong,’’ imbuh Detya.

Tidak hanya dicoba sendiri, alat itu juga diujicobakan kepada para penghuni UPTD Griya Wreda Rungkut. Kerja keras tersebut menghasilkan juara pertama dalam Public Health Competition 2016 di Universitas Negeri Jember. Juga, juara III dalam event nasional serupa di Universitas Airlangga.

Saat ini aplikasi dan alat LifePlus masih menggunakan bluetooth sebagai penghubung sehingga jaraknya hanya 10 meter. Ke depan, para mahasiswa itu mengembangkannya dengan wifi atau penghubung nirkabel lainnya agar jarak tempuhnya bisa mencapai kilometer.

Pengembangan lain yang sedang dilakukan adalah memasukkan artificial intelligence (kecerdasan buatan) pada alatnya. Dengan begitu, bukan hanya kecepatan jatuh lansia yang bisa terdeteksi, tetapi juga pasien rehab medik lain yang tidak selalu dari kalangan manula. ’’Karena kecepatan jatuh antara lansia, anak muda, dan dewasa berbeda-beda,’’ tutur Detya.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here