Sukses di FFI 1982, Film ‘’Ratu Ilmu Hitam’’ Dapat Penghargaan Internasional

Murni dituduh menggunakan ilmu hitam oleh Kohar untuk mengacaukan pernikahan Kohar. Calon istri Kohar kesurupan, reog yang ditanggap mengamuk, pesta pernikahan itu pun berakhir kacau. Bahkan, dukun yang hendak membantu pun tewas mengenaskan.

Itulah salah satu alur kisah tentang Murni yang kala itu diperankan oleh Suzanna sang pemilik ilmu hitam dalam film Ratu Ilmu Hitam pada 1981. Kala itu film Ratu Ilmu Hitam dibuat di tengah booming-nya film horror tahun 1980-an. Apalagi Suzanna kala itu sedang mencapai puncak karir sebagai ikon film horror Indonesia.

Pada laman FilmIndonesia.or.id, saat ajang Festival Film Indonesia 1982, film Ratu Ilmu Hitam berhasil menyabet lima penghargaan sekaligus, antara lain Suzanna meraih penghargaan sebagai pemeran utama wanita terbaik, lalu WD Mochtar meraih penghargaan pemeran pembantu pria terbaik, dan tiga penghargaan lain mendapuk penghargaan editing terbaik, fotografi terbaik, dan artisitik terbaik.

38 tahun kemudian, sutradara kenamaan Kimo Stamboel dan Joko Anwar sebagai penulis naskah, membuat ulang film ini sebaga bentuk apresiasi sekaligus mengenang mendiang Suzanna sebagai pemeran Ratu Ilmu Hitam tahun 1981.

Setahun perilisan film, saat reboot film Ratu Ilmu Hitam dengan judul The Queen of Black Magic ini melenggang di film festival film internasional dan kembali mendapat menuai respons positif dengan segmentasi penonton yang lebih luas. Film garapan duo Kimo Stamboel dan Joko Anwar itu dinobatkan sebagai pemenang Audience Award for Best Motion Picture pada pergelaran Sitges Film Festival 2020 pada Minggu (18/10/2020).

Untuk diketahui, Sitges Film Festival merupakan festival khusus film bergenre spesifik seperti horor, fantasi, thriller, dan aksi. Festival yang biasanya berlangsung di Sitges, Catalunya, Spanyol ini termasuk festival film yang paing bergengsi di Eropa.

Sepanjang tanggal 8-18 Oktober, Ratu Ilmu Hitam masuk dalam jajaran festival yang diputar di sesi Midnight X-treme. Menariknya, Indonesia tidak hanya memboyong satu film saja, melainkan tiga film bersama Perempuan Tanah Jahanam karya Joko Anwar dan Sebelum Iblis Menjemput Ayat 2 karya Timo Tjahjanto yang diputar pada sesi Panorama Fantastic.

Pemutaran Ratu Ilmu Hitam rupanya disambut meriah dan berhasil membawa kesan horor yang melekat kepada para penonton. Mereka dibuat merinding dengan suguhan adegan pertumpahan darah, adanya hewan mengerikan, dan terror ilmu hitam yang dinilai menjadi salah satu daya tarik film. Itulah alasan mayoritas pengunjung datang dan memilih Ratu Ilmu Hitam sebagai film favorit di sesi Midnight X-treme.

 

 

Produser Ratu Ilmu Hitam, Sunil Samtani dari Rapi Films menilai bahwa salah salah satu faktor yang membuat film ini menarik perhatian penonton internasional adalah ciri khas horor Indonesia. ‘’Di situ kelihatan banget unsur lokalnya, terus dicampur dengan adegan ekstrem yang menurut mereka bagus,’’ ungkapnya dikutip Jawapos.com (20/10/2020).

Selain itu, Putri Ayudya, pemeran Murni, turut menilai bahwa ada satu hal yang diapresiasi penonton sehingga meninggalkan kesan seram yang melekat. ‘’Selain faktor gore-nya, Ratu Ilmu Hitam punya cerita tentang keluarga yang bisa diterima secara universal,’ ungkapnya kepada Jawapos.com.

Sebelum melenggang di Sitges Film Festival, film Ratu Ilmu Hitam tayang perdana di luar negeri dalam pergelaran Bucheon International Fantastic Film Festival 2020 pada Juli lalu. Selain itu, September lalu juga film ini rupanya berhasil lolos seleksi festival film Austin Fantastic Fest 2020.

Siap Garap Sekuel

Kimo Stamboel, Sutradara Film Ratu Ilmu Hitam

info gambar

Melihat kesuksesan dengan menyabet penghargaan internasional, Sunil sebagai produser sempat mengatakan untuk merencanakan adanya sekuel. ‘’Apalagi kan ending-nya Ratu Ilmu Hitam terbuka. Jadi memang ada sekuelnya,’’ ungkapnya.

Kimo dan Joko masih akan tetap digandeng sebagai sutradara dan penulis naskah seperti formasi pada Ratu Ilmu Hitam yang pertamanya ini. Saat dihubungi Kompas.com pun Kimo juga mengatakan sudah sangat siap jika harus menggarap sekuel, meski agak terhalang oleh sibuknya jadwal Joko Anwar.

‘’Insya Allah tahun depan kami persiapkan karena si Joko juga lagi sibuk mempersiapkan sekuel juga kan. Nanti yang kedua si Joko juga yang akan nulis. Jadi kami nunggu dia. Kalau semuanya lancar, mudah-mudahan tahun depan,’’ jelas Kimo.

Kimo mengungkapkan bahwa dirinya masih merasa penasaran dan dalam pertimbangan apakah tingkatan gore yang dipakai dalam Ratu Ilmu Hitam boleh dinaikkan atau tidak. Pasalnya film ini memang disebut-sebut sebagai film horor gore kejam yang menampilkan banyak adegan-adegan tak ramah mata.

Maka dari itu, Ratu Ilmu Hitam harus mengantongi klasifikasi film 17+ karena mengandung banyak unsur yang cukup keras di dalamnya.

‘’Gue nggak tahu boleh ditingkatin lagi apa enggak karena kalau dibolehin, kita bisa dapat sensor 21+. Itu aja sih. Karena kalau udah 21+, serem buat Pak Sunil dan Rapi Films,’’ tuturnya sambil tertawa kepada Kompas.com (18/10/2020).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here