Sosok Cetha, Tuna netra yang Raih Beasiswa S2 Australia Yang Sisihkan Ribuan Pendaftar

Ilmu yang bermanfaat akan menjadi salah satu amalan yang tidak terputus meskipun nyawa telah meninggalkan jasad. Begitulah filosofi seorang Cheta Nilawaty.

Meski memiliki keterbatasan karena dinyatakan tunanetara saat berusia 34 tahun tak menyurutkan semangat Cheta untuk belajar. Bahkan meski harus ke negeri seberang. Cheta yang kini berusia 40 tahun berkesempatan mendapatkan beasiswa S2 dari Australia Awards Scholarships. Usia yang terbilang tidak lagi muda untuk ukuran mahasiswa pada umumnya.

Dulu Cheta bukanlah penyandang disabilitas hingga ia berusia 34 tahun. Namun, takdir menggariskannya menjadi tunanetra setelah ia mengalami ablasio retina atau sobeknya retina. Kejadian ini berlangsung pada 2016 lalu.

Cheta menamatkan studi S1 di Fakultas Hukum Universitas Padjadjaran (Unpad) pada 2005 silam. Setelah lulus, ia sempat bekerja di Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Pernah juga ia bekerja sebagai customer service di Citibank.

Hingga sekitar akhir 2006 awal 2007 ia mengikuti seleksi di Tempo dan diterima sebagai jurnalis sejak 2007 hingga sekarang.

“Selama 2007 sampai 2022 ini saya belum pernah sekolah lagi jadi ini saya S2, master. Saya memulainya di usia yang cukup tua, sekarang saya masuk usia 40 tahun,” cerita Cetha kepada detikEdu, Senin (20/6/2022).

Keinginan Cetha untuk studi lanjut memang sudah ada sejak dulu. Ia memutuskan untuk mencari beasiswa karena keterbatasan ekonomi. Ia mulai berburu beasiswa sejak ia masih bisa melihat.

Melepas Beasiswa Pemerintah Korea Demi Rawat Sang Ibu

Pada 2012 Cetha lolos seleksi beasiswa dari pemerintah Korea, Korean Government Scholarship Program (KGSP). Namun, kesempatan tersebut tidak diambil karena pada waktu yang bersamaan ibunya sakit.

Sebagai anak tunggal, Cetha lantas memilih untuk melepas beasiswa studi di Korea dan merawat sang ibu meskipun awalnya sempat dilema. Waktu itu, ia juga harus mengembalikan stipend living yang sudah diberikan sebesar Rp 5 juta.

“Tentu saya milih jaga ibu saya karena ibu saya nggak bisa diulang ya. Tapi kalau masa muda, cita-cita masa muda insya Allah kalau masih semangat pas udah tua itu masih bisa dikejar,” ucapnya.

Dinyatakan Buta Total pada 2016

Pada 2016 saat usianya memasuki 34 tahun, Cetha mengalami ablasio retina. Hal ini membuatnya harus melakukan tindakan operasi. Umumnya kondisi seperti ini dapat disembuhkan dengan cara operasi.

Namun, takdir berkata lain. Setelah melakukan operasi sebanyak delapan kali, ia justru dinyatakan buta total (totally blind).

“Saya sudah operasi delapan kali dan akhirnya gagal lalu buta total deh. Saat operasi itu saya baru tahu kalau saya diabetes,” ujarnya.

Ditakdirkan sebagai seorang tunanetra tidak membuat semangatnya untuk terus berkarya pudar. Ia rutin mengisi kanal difabel Tempo dengan tetap liputan ke lapangan, wawancara ke narasumber, dan riset informasi lainnya.

Tetap Eksis Jadi Jurnalis Sambil Belajar Bahasa Inggris

Wanita yang sudah berkiprah sebagai jurnalis selama 15 tahun ini mengaku bersyukur dengan kondisinya. Salah satu hikmah yang ia petik, ia justru memiliki banyak waktu luang ketika menjadi tunanetra. Sebab, beban kerjanya juga berkurang, menyesuaikan dengan kondisinya saat ini.

Sambil tetap aktif menyajikan berita untuk para pembaca, ia awalnya iseng mendaftar semacam kursus bahasa Inggris pada 2018. Namanya English Language Training Assistance (ELTA).

Beruntungnya ia termasuk satu dari 12 orang yang dinyatakan lolos mengikuti program ELTA. Dari 12 tersebut, enam di antaranya adalah penyandang disabilitas.

Kursus berlangsung selama tiga bulan dengan jam belajar rutin mulai jam 8 pagi hingga 3 sore. Beberapa kali bahkan sampai jam 8 malam. Selain bisa belajar gratis, Cetha juga mendapat uang dan gratis tes IELTS.

Walaupun sempat masih keteteran dalam membagi waktu, namun semua bisa dilaluinya. “Kadang jam 1 malam belum tidur karena masih nyari-nyari berita atau wawancara atau terjemahan atau apalah untuk besok paginya,” ujar Cetha.

Lolos Beasiswa AAS Menyisihkan Ribuan Pendaftar

Para siswa yang belajar di ELTA didorong untuk mendaftar beasiswa Australia Awards Scholarships. Pada saat itu, Cetha sudah berusia 36 tahun dan paling tua di antara teman-temannya.

“Waktu itu saya pernah menunda cita-cita di saat saya masih muda, terus kalau saya kehilangan lagi kapan lagi nanti,” pikir Cetha waktu itu yang akhirnya memutuskan untuk mendaftar beasiswa bergengsi ini.

Menjalani rangkaian tahapan seleksi beasiswa bukanlah hal mudah bagi Cetha. Dalam seleksi tersebut, pihak pemberi beasiswa tidak membedakan antara penyandang disabilitas dan non disabilitas dalam hal syarat kelengkapan beasiswa dan skor IELTS yang ditentukan.

Hanya saja, perbedaannya terletak pada aksesibilitas ujian. Selama mengerjakan tes IELTS, Cetha menggunakan bantuan pembaca layar di laptop untuk membaca setiap soal. Sehingga, ia mendapatkan waktu khusus untuk mendengar recording soal dan waktu untuk mendengar pembaca layarnya.

Alhasil, wanita kelahiran Jakarta ini berhasil lolos menyisihkan ribuan pendaftar beasiswa kala itu. Dari sekitar 6.600 pendaftar, hanya 250 peserta yang diterima. Itu pun hanya lima orang yang penyandang disabilitas termasuk Cetha.

Setelah mendapatkan beasiswa, Cetha kembali berjuang untuk mendapatkan kampus tujuan. Ia memilih dua kampus di Negeri Kangguru tersebut, Curtin University dan Murdoch University. Keduanya terletak di Perth.

Singkat cerita setelah mengikuti serangkaian tes lagi, Cetha diterima pada pilihan kedua, Murdoch University, untuk program Master of Communication. Jurusan ini selaras dengan latar belakangnya sebagai seorang jurnalis.

Harusnya Cetha berangkat studi ke Australia pada 2020 lalu. Namun, situasi pandemi membuat keberangkatannya tertunda. Ia baru bisa berangkat pada 18 Juni 2022 kemarin.

Selama menempuh pendidikan dalam 4 semester ke depan Cetha ditemani oleh seorang pendamping, yakni temannya waktu SMP. Untungnya beasiswa yang ia peroleh ini juga menanggung biaya hidup pendampingnya.

“Menurut beasiswa saya itu harusnya kandung, misalnya kakak atau adik kandung atau orang tua kandung. Tapi saya nggak punya dua-duanya, saya nggak punya kakak atau adik kandung. Kebetulan saya tunggal dan orang tua saya juga sudah meninggal dua-duanya, terpaksa saya ditemani oleh teman saya dari SMP,” ujarnya.

Meskipun mendapatkan izin cuti kuliah dari kantor tempatnya bekerja, ia tetap aktif sebagai jurnalis. Hanya saja untuk tanggungan berita yang ia kerjakan lebih sedikit, seminggu tiga berita.

Cetha memang terkenal sebagai seorang pekerja keras dan tetap semangat dalam menjalani berbagai kondisi. Salah seorang temannya, Erwin, mengatakan, “Cheta orang yang kuat dan tabah, sederet musibah yang menimpanya dia tetap tegar. Ibaratnya dia sudah kebal dengan musibah.”