SMU-PBB, Krisis Pengungsi dan Hijrah

Imam Shamsi Ali
Oleh
Imam Shamsi Ali*
Minggu lalu pemimpin dunia kembali melakukan tradisi tahunan, berkumpul di kota New York untuk membicarakan permasalahan dunia kita. Perhelatan akbar tahunan PBB ini dikenal dengan Sidang Majelis Umum PBB. Indonesia sendiri kali ini diwakili oleh Wakil Presiden Jusuf Kalla.

Tema umum pembahasan kali ini masih seputar isu-isu pembangunan berkelanjutan (sustainable development), khususnya pada tataran implementasinya. Walaupun sejujurnya diakui jika kata “implementasi” ini hanya sekedar meminum “pain killer” bagi orang yang sedang meredang karena kanker.

Masalah pengungsi

Salah satu isu yang dibahas dalam kaitan pembangunan berkelanjutan adalah isu krisis pengungsi, khususnya yang membanjiri negara-negara Barat saat ini. Pembahasan ini tentunya karena kekhawatiran beberapa negara, khususnya Eropa, dengan membanjirnya pengungsi dari negara-negara konflik Timur Tengah, termasuk Suriah dan Irak.

Berbagai isu terkait diperdebatkan, mulai dari isu politik, economi, bahkan isu keamanan. Tapi dalam penglihatan saya ada satu isu fundamental yang sengaja atau tidak, dihindari dari pembahasan itu. Yaitu isu moralitas kemanusiaan yang sejatinya menjadi penyebab utama dari krisis pengungsi.

Krisis moral yang saya maksud tidak lain adalah penyebab utama terjadinya perang, yang juga sekaligus penyebab utama terjadinya krisis pengungsi. Kita sadar bahwa peperangan yang terjadi di dunia kita, apapun justifikasi yang dipakai, semuanya dikarenakan oleh satu faktor, ketamakan. Ketamakan kekuasaan, ketamakan ekonomi, ketamakan militer, merupakan indikator dari krisis moral dalam format “ketamakan” tadi.

Oleh karenanya berbicara tentang krisis pengungsi tidak akan menyelesaikan permasalahannya jika tidak menyentuh akarnya. Dan akarnya adalah peperangan yang terbangun di atas dasar krisis moral dalam bentuk ketamakan manusia.

Ambillah contoh terdekat dengan pembantaian warga Suriah saat ini. Ribuan warga sipil telah terbunuh akibat ketamakan negara-negara kuat dunia. Ketamakan dominasi kekuasaan politik maupun pengaruh kawasan. Sementara dua kubu yang bertikai di dalam negeri juga tidak terlepas ketamakan kekuasaan yang tidak lagi memperhatikan penderitaan rakyatnya.

Pengungsi dalam sejarah Islam

Pengungsi dalam sejarah Islam bukanlah sesuatu yang asing. Sejak awal perjalanan sejarahnya umat ini telah melakukan pengungsian karena tantangan hidup yang dihadapinya.

Kita ingat sejarah para sahabat yang diperintah oleh Rasulullah SAW mengungsi ke kerajaan Al-Habasyah, atau negara Ethiopia mederen saat ini. Di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib, 70 orang sahabat melakukan pengungsian ke negara ini. Tentu karena anjuran Rasul Allah SAW. Dan mereka diterima dengan baik oleh negara atau kerajaan itu.

Raja Najasyi, seorang raja yang sangat religious, menerima mereka dengan hati yang penuh kasih dan rahmah. Setelah paman Rasulullah, Ja’far, membacakan ayat-ayat Al-Quran yang membicarakan bagaimana Islam menghormati Jesus dan ibunya Maryam, sang raja itu meneteskan airmata. Bahkan berjanji untuk menerima mereka sebagai bagian dari keluarganya.

Peristiwa pengungsi Muslim ke Ethiopia ini harusnya menjadikan umat ini sadar bahwa menerima dan mengayomi mereka yang mengungsi karena tantangan di negara asal mereka harus diterima dengan tangan terbuka. Kenyataannya kadang hal ini belum dipahami maksimal.

Kalau dalam bahasa orang lain pengungsi diistilahkan “the other” (orang lain) atau “strangers” (orang asing), harusnya dalam Islam pengungsi adalah saudara dan keluarga (brothers/sisters and family). Karena memang Islam mengajarkan kekeluargaan manusia yang bersifat universal. (Bersambung)….

* Presiden Nusantara Foundation & Muslim Foundation of America, Inc.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here