CID 4: Sister Cities dan Upaya Mempromosikan Kerjasama Antar Pemerintah Daerah

"Sister Cities & Promoting Cooperation Among Local Government‟ serta kehadiran perwakilan dari pemerintah kota padang dan dari pemerintah kota Cirebon pak Hanry David-Bapeda dan Pusat Hub internasional PHIC ibu Galih permata apsari yang diselenggarakan pada "Congress of Indonesian Diaspora: CID 4 th Global Summit‟Selasa (23/8) di JS Luwansa Hotel Jakarta.

Salah satu kota di dunia yang mengelola kerja-sama Internasionalnya dengan baik dan menghasilkan kemakmuran bagi penduduk kota itu adalah Saint Louis, Misouri, Amerika Serikat. Pengelolaan kerja- sama Internasional ini dilakukan secara bergotong-royong oleh pemerintah kota, pelaku-pelaku ekonomi, kebudayaan, sosial, dan juga oleh masyarakat biasa di kota itu. Jangkar dari sistem pengelolaan kerja-sama Internasional di Saint Louis ini adalah “Pusat Hubungan Internasional Saint Louis‟ atau “Saint Louis Center for International Relations‟ (SLCIR).Demikian dikemukakan oleh Alexander Soetjipto, M.B.A., M.Sc. dalam presentasinya pada acara “Sister Cities & Promoting Cooperation Among Local Government‟ serta kehadiran perwakilan dari pemerintah kota padang dan dari pemerintah kota Cirebon -Bapeda Hanry David dan Pusat Hub internasional/ PHIC Galih permata apsari yang diselenggarakan pada “Congress of Indonesian Diaspora: CID 4 th Global Summit‟Selasa (23/8) di JS Luwansa Hotel Jakarta.

Soetjipto, yang adalah Diaspora Indonesia warga kota Saint Louis yang aktif di SLCIR ini, juga menyampaikan bahwa kota seperti Saint Louis memiliki banyak sekali kebutuhan (needs) maupun peluang (opportunities) yang sifatnya Internasional. Dengan adanya „Jangkar‟ yang bisa membawa seluruh kebutuhan dan peluang ini ke satu wadah –yaitu SLCIR-, maka segenap pelaku kepentingan Internasional di kota ini bisa saling berkoordinasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan itu dan juga untuk mengkapitalisasi peluang-peluang yang ada.

Sebagai contoh yang mudah dan sederhana menurut Soetjipto adalah: Ada komunitas di Saint Louis yang membutuhkan tenaga pengajar atau penterjemah bahasa Indonesia. Untuk memenuhi kebutuhan ini, maka komunitas tadi berhubungan dengan SLCIR untuk menyampaikan kebutuhannya. Pada komunitas yang sama, ternyata ada peluang bisnis yang bisa dikonsumsi oleh komunitas di Indonesia. Untuk mempertemukan
pelaku-pelaku bisnis ini dari Indonesia dan Saint Louis, maka komunitas termaksud berhubungan dengan SLCIR untuk mengutarakan kepentingan bisnis mereka. Ungkap Soetjipto, yang juga adalah pendiri program “Saint Louis-Bogor Sister Cities‟.
“Sebagai sumbangsih saya ke NKRI yang juga saya cintai ini, sudah sejak beberapa tahun terakhir ini – didukung oleh tim dari Kedutaan Besar Amerika Serikat di Indonesia- saya turut membantu Kota Cirebon mendirikan „Pusat Hubungan Internasional Cirebon‟ / PHIC (“Cirebon Center for International Relations‟). Saya berdoa, semoga seluruh komunitas yang ada di Kota Cirebon dapat mempergunakan PHIC ini untuk memenuhi kebutuhan dan mengkapitalisasi peluang bisnis Internasional mereka,“ tutur Soetjipto.

“Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) sudah bersama kita di Indonesia. PHIC adalah salah satu  jawaban dalam Kota Cirebon menghadapi MEA,” kata penggagas PHIC dan PEMDA BERKARYA, yang sangat mencintai tanah air kelahirannya ini, menutup presentasinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here