Sindikat Kopi Lokal di PARARA 2017

Menghargai Petani Kopi, Menghargai Negeri

Indonesia dikenal sebagai penghasil kopi terbaik dunia sejak zaman kolonial. Sejumlah jenis Arabica dari Indonesia bahkan tak tergantikan lantaran tumbuh di dataran tinggi pegunungan berapi. Daya tarik kopi di Indonesia seiring dengan meningkatnya trend kopi dikalangan masyarakat Indonesia. Kedai-kedai kopi bermunculan di seluruh pelosok negeri dan barista-barista muda pun lahir termasuk komunitas-komunitas pencinta kopi.

Adalah Sindikat Kopi Lokal, komunitas yang beranggotakan sekitar 50 individu dan “entitas-kopi” dari kedai, mini roastery, penyedia biji, hingga penikmat kopi. Yang menjadi perhatian komunitas ini bukan hanya persoalan cara menyeduh kopi, namun lebih kepada pengetahuan lokal petani. “berbagai teknik menyeduh dan jenis-jenis kopi dari dalam dan luar negeri diperkenalkan. Sayangnya sedikit yang sadar bahwa proses rasa terbesar ditentukan dari petani, “ jelas komunitas ini.

Dalam festival Panen Raya Nusantara (PARARA) 2017, yang digelar di Taman Menteng mulai hari ini Jum’at (13/9) selama 3 hari, komunitas ini akan turut hadir untuk berbagi cerita tentang kopi – mulai dari cerita petani dari pelosok negeri hingga barista serta berbagi cuma-cuma seduhan kopi. “Sebagai penikmat kopi, akan lebih baik bila kita tidak hanya mengenal jenis kopi, namun juga mengenal kopi dari sisi petani. Dengan menghargai kopi petani, kita turut menghargai negeri,” tuturnya.

Komunitas ini meyakini, dengan menghargai petani kopi, masyarakat turut berkontribusi terhadap kopi Indonesia dan berbagai permasalahannya. Mulai dari produksi yang tidak sebanding dengan permintaan pasar yang terus meningkat, peningkatan kualitas biji kopi hingga persoalan-persoalan lainnya yang kerap meresahkan petani seperti penyakit dan konflik kepemilikan lahan.

Produksi Kopi Lokal Indonesia Menurun

Sebagaimana data yang dihimpun Katadata, produksi kopi nasional pada 2016 mencapai 639.305 ton atau turun tipis dari tahun sebelumnya. Pada 2017, produksi kopi diprediksi mencapai 637.539 ton yang berarti kembali turun 0,28 persen dari tahun lalu. Di tengah maraknya kafe-kafe yang menyajikan minuman dari olahan butiran biji kopi, produksi kopi nasional justru mengalami penurunan produksi.

Produksi kopi Indonesia terus mengalami penurunan dalam empat tahun terakhir. Pada 2012, produksi kopi domestik mencapai 691.163 ton, namun pada 2013 tinggal 675.881 ton. Penurunan ini diperkirakan akan berlanjut pada tahun ini. Produksi kopi domestik pernah mencapai puncak tertingginya pada 2008, yakni sebesar 698 ribu ton. Turunnya produktivitas menjadi salah satu penyebabnya. Pada 2013, produktivitas perkebunan kopi mencapai 739 kg/ha, pada tahun ini diperkirakan hanya mencapai 704 kg/ha.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here