Silaturahmi ke Bosnia-Herzegovina (BiH) 22-25 April 2019

Oleh

Maharani

Sarajevo
Kunjungan pertama ke negara Bosnia bagi saya adalah pengalaman yang fantastis, mendebarkan dan hampir tak terbayangkan bisa terwujud. Mengingat Bosnia saja saya sudah dibuat merinding akan fakta sejarah kelam yang masih bisa kita saksikan diinternet dan buku sejarah. Bosnia-Herzegovina adalah negara di semenanjung Balkan, selatan Eropa. Dinegara ini terdapat tiga etnis yaitu Bosnia, Serbia dan Kroasia dengan ibukota Sarajevo. Setelah pasca perang 1992-1995 para investor dan wisatawan mulai berdatangan mengunjungi negara yang kaya akan air dan lembah serta bukit-bukit cadas ini.

Hal utama penggerak kekuatan saya untuk melangkah adalah hati yang terusik membaca artikel tentang Masjid megah hadiah dari rakyat Indonesia untuk Bosnia. Apa kabar masjid megah yang diprakarsai bapak Soeharto ( Presiden Republik Indonesia ke 2) pada tahun 1995 saat kunjungan ke Bosnia dan menunjuk Fauzan Nouman sebagai arsitek masjid tersebut dan selesai pembangunan diresmikan oleh ibu Megawati Soekarno Putri (Presiden Republik ke 5) pada 22 September 2001.
Masjid ini bernama Dzamija Ístiklal atau Indonezanska Dzamija atau orang biasa mengingatnya disebut Masjid Soeharto. Terletak dijantung kota Bosnia, Sarajevo yang memiliki luas 2.800 meter persegi dengan ukuran bangunan 28 x 30 meter persegi.


Mengelilingi seluruh masdjid Dzamija Istiklal Indonesia adalah hal pertama yang saya lakukan, melihat kondisi apaadanya sekarang. Lantai pertama, lantai kedua sampai lantai ketiga semua sudut tak terlewatkan. Kondisi bangunan beberapa bagian pelapis dindingnya lepas, fasilitas cukup baik, tempat wudhu pria dan wanita yang terpisah, ada beberapa ruang kosong dan ruang meeting lengkap kursi berderet dan televisi untuk presentasi. Mengamati desain interior yang mengutamakan ukiran jati Jawa Tengah dan rancang bangun arsitektur terlihat sederhana, simple, modern dengan ciri khas dua menara mirip masjid-masjid lain di Bosnia, perlambang persahabatan dua negara yang sama-sama mayoritas muslim.


Pengamatan aktifitas disana berakhir sampai suara adzan memanggil. Tampak beberapa orang saja memasuki masjid ini. Mengagumi ukiran-ukiran kayu berwarna coklat tua pada pintu masuk setiap laintai, ukiran ini juga ditempel melingkari jendela, dinding, tiang-tiang didalam masjid sehingga terasa memang ini ukiran dari Indonesia (Jawa), sampai mimbarnyapun ukiran jati motif Jawa. Tampak mencolok karena kontras dengan warna dinding yang putih. Seandainya ada biaya pemeliharaan gedung saya mengusulkan membuat perpaduan warna yang manis guna menunjang keindahan ukiran asli Indonesia ini. Bisa juga ditambahi ornamen relief ukiran nusantara sehingga lebih Indonesia.
Berikutnya adalah keliling Old Town dimalam hari pertama, melihat keindahan kota tua yang tenang, bersih, rapi, walaupun banyak turis dan pembeli. Makan malam dengan menu daging cincang padat yang dipanggang (cevapi) beserta roti dan sup semakin lengkap dengan sajian kopi ala Turkey.

Keesokan harinya jalan pagi ngopi dan makan cake 3 lapis susu yang lembut di slasticarna cream shop, the best kudapan pagi di old town bersama sang guru,teman kami yang baik hati, Senat yang jauh datang dari kota Konjic dengan suka cita membantu menemani menyusuri sejarah old town di kota Sarajevo ini.
Kamipun mengitari peninggalan Raja Gazi Husrev- Begov Vakuf The Gazi Husrev-beg waqf, yaitu tanah luas dalam old town yang terdiri bangunan-bangunan lama diantaranya yang sekarang masih difungsikan. Tanah ini diwaqafkan (diberikan cuma-cuma untuk rakyat) tampak megah sebuah masjid dengan shadirwan-fountain yang terus menerus mengucurkan air suci untuk umat Islam yang akan menjalankan ibadah sholat, lalu kami berhenti untuk minum kopi khas Bosnia.

dirumah cafe tradisional khas Turkey yang sekarang menjadi restaurant ”Morica Han” (gazi husrev-begov vakuf) (foto).
Tampak muda mudi millenial masa kini Bosnia berbaur, juga segerombol turis sedang memperhatikan instruksi guide, juga ada beberapa yang melihat-lihat produk khas Bosnia seperti souvenir, kerajinan, karpet, baju, aksesories dan lainnya yang menyatu dengan restaurant. Pada bangunan lantai dua restauran Morica Han rumah khas Turki ini sedang berlangsung pameran siswa sekolah berupa karya tulis yang ditempel didinding. Tampak juga foto-foto tokoh setempat yang pernah berjasa untuk masyarakat. Pameran ini gratis. (foto lantai atas)
Kembali ke masjid Dzamija Istiklal, salah seorang sahabat terbaik dari Jakarta telah menitipkan dua buah mukena cantik untuk disumbangkan bagi masyarakat yang hendak menjalankan ibadah sholat disini. Mukena diterima langsung oleh Imam Besar Masjid yaitu Ahmed Skopljak. Pada kesempatan itu pula saya memberikan tanda ucapan terima kasih kepada beliau dengan menyerahkan satu buah lukisan kaligrafi untuk Masjid Dzamila Istiklal yang sudah merawat dan menjaga amanah cinta rakyat Indonesia dengan sepenuh hati hingga masih bisa kita menjalankan ibadah disana. Tuhan Maha Besar.
Kita tahu bahwa masyarakat di Indonesia dimanapun berada, setiap masjid dan musholapun disediakan mukena untuk kaum hawa, untuk masyarakat umum yang sedang perjalanan (musyafir). Hal ini tidak pernah ada di Bosnia, juga di masjid-masjid Eropa lainnya. Mereka terbiasa mempersiapkan diri jika akan beribadah maka sudah dalam kondisi menutup badan (aurat) juga menutup rambut.

Konjic

Kota ini terletak di antara perjalanan menuju kota Mostar dari kota Sarajevo dengan jarak tempuh 50 km. Kota cantik yang dikelilingi bukit dan gunung, sampai dikejauhan tampak gunung es masih bertahan dimusim semi ini. Dikelilingi Neretva River, sungguh indah dan bersih airnya. Air dari sungai ini bisa diminum dan tidak berbahaya. Konjic juga termasuk kota tua yang juga pusat produksi ukiran kayu di Bosnia. Konjic Bridge atau Konjicka Stara Cuprija juga tak kalah menarik, sebuah jembatan yang megah dibangun oleh Ali-aga Hacecic terbuat dari batu pada saat pemerintahan Raja Sulajman Ottoman tahun 1682-1683.

Old town atau kota tua Konjic memiliki Museum Zavicajn, makam-makam tokoh agama dan masyarakat muslim korban peperangan antar etnis disana, cafe, sekolah dan toko pribadi banyak berderet sepanjang sungai menambah eksotis kota. Tampak dikejauhan masdjid, rumah-rumah tradisional Bonia dan ternak penduduk setempat.

Jablanica

Setelah Konjic kita memasuki kawasan Jablanica, kawasan yang penuh terowongan (tunnel) menembus batu-batu cadas dan bukit yang sepanjang jalan berdampingan dengan lembah dan sungai Neretva yang hijau airnya, bukit dan gunung berlapis-lapis sangat cantik tidak kalah dengan panorama di Swiss. Ujung gunung es abadipun masih nampak dimusim semi ini. Udara dingin nan segar membuat perut kelaparan, mampirlah kami ke Svarna Voda barbeque grill restaurant, Jablanica. Tampak kambing atau domba utuh berguling-guling diatas bara. Cobalah, dan carilah yang ramai pengunjung. Pastilah itu restaurant yang menyajikan makanan terbaik.

Blagaj
Satu kota berikutnya sekitar 32 km sesudah Mostar, sebelum kita bermalam dikota Mostar. Dikota Blagaj anda akan menemukan sebuah wisata alam yang menarik. Sebuah gua berair yang disampingnya berdiri rumah penduduk lama yang digunakan untuk ibadah yang disebut Dervish House. Arsitektur dan interior yang kental nuansa Bosnia. Didalam rumah berlantai dua tersebut terdapat mushola, ruang tamu dan ruang keluarga.

Lebih menarik lagi, sebelum memasuki rumah tersebut bisa makan siang atau ngopi di restaurant-restaurant yang menyatu dengan aliran sungai Neretva menuju gua. Sajian khas disini adalah daging panggang (cevapi) dan masakan aneka ikan goreng yang pastinya segar, hasil budidaya masyarakat disekitar sepanjang sungai yang kami lalui. Harus dicoba.

Mostar

Dari Blagaj kami kembali ke Mostar, kota tua Mostar. Old town yang sangat cantik, mungil, indah dengan icon jembatan tua Mostar yang sangat historis dan terkenal dan tentu saja sangat bersih. Ukuran saya jika tempat wisata lingkungannya bersih dan nyaman pastilah cantik luar biasa, termasuk penduduknya yang ramah. Berawal dari ujung gang menuju jembatan atau stari most (mostar bridge) sangat terasa nuansa jaman Ottoman yang memang pernah menguasai Bonia lebih dari 400 tahun lamanya. Jalan yang terbuat dari batu-batu tersusun rapi dan mengkilat. Kanan kiri para pedagang menjual aksesoris, cindera mata, oleh-oleh khas seperti manisan buah, cafe dan restaurant.

Tampak juga masjid-masjid menjulang tinggi dibeberapa sudut kota, museum dan jangan lewatkan toko barang antik, anda bisa menemukan hal-hal tak terduga. Paling tidak bisa mengingatkan barang-barang lama dikampung halaman kita Indonesia.

Sarajevo

Di hari terakhir kami kembali menuju Sarajevo, menyempatkan singgah di Museum National (archeology, kerajinan dan lainnya) serta menemui teman- teman yang sedang mempromosikan produk dan wisata Indonesia disalah satu hotel ternama.

Jalan-jalan diseputaran kota dan Old town, kami melewati jembatan Latin atau Latin Bridge peninggalan kerajaan Ottoman yang melintasi sungai Miljacka Sarajevo, Bosnia and Herzegovina. Dijembatan inilah putra mahkota Archduke Franz Ferdinand dari Austria by Gavrilo Princip ditahun 1914 dibunuh, sehingga memicu Perang Dunia ke 1.

Kamipun menyempatkan mengunjungi Sarajevski Ratni Tunel atau the Sarajevo war tunnel yang terletak beberapa kilometer dari pusat kota, melewati batas Republika Srpska. Sedikit mengenang kelamnya peperangan antar etnis yang sudah saya tulis diawal, kami menuju rumah penduduk yang ikhlas dipakai untuk membuat terowongan bawah tanah tersebut. Rumah ini sekarang menjadi museum dan berbayar.
Tampak alat-alat perang, dokumentasi surat dan foto, pemutaran film tragedi peperangan sampai kami menuju terowongan bawah tanah yang mendebarkan. Tanah di Bosnia ini kering dan banyak batu, jadi bisa dibayangkan perjuangan mereka membuat lorong bawah tanah untuk bersembunyi dan sebagai lorong pengiriman logistik bagi rakyat Bosnia yang kekurangan. Mengingat pasukan Serbia pasti berdiam dibukit-bukit. Mengintai dengan mudah kearah lembah dan segala bantuan logistik, obat-obatan serta senjata dengan mudah mereka dapatkan. Rakyat Bosnia yang mayoritasmuslim, miskin dan kelaparan berada dilembah. Pembantain dan permusuhan antar etnis dan agama yang berbeda merenggut nyawa ribuan orang yang dampaknya sampai sekarang masih terasa dan tidak mudah lenyap.

Piramida Bosnia

Sebelum masuk kota Sarajevo, kami mampir di kota Visoko (Visocica) sekitar 32 km dari Sarajevo. Keunikan kota ini di bukit Brdo Grad/Visocica memiliki gunung berbentuk piramid yang di klaim oleh Semir Osmanagic sebagai peninggalan nenek moyang buatan manusia terbesar di Dunia. Diyakini oleh pembuktian para ilmuwan yang menyatakan gunung tersebut merupakan bentukan alam (flatirons). satu-satunya di Eropa. Piramid tersebut nyatanya telah menarik wisatawan mancanegara dan dengan adanya archeology park menjadikan sumber devisa bagi kota kecil berpenduduk muslim yang hancur karena perang saudara lalu.

Perkembangan terakhir BiH April 2019 (sumber :The Economist, Apr 27)
Satu hal dalam melakukan perjalanan antar negara adalah kita tidak boleh melewatkan berita-berita penting setempat maupun ulasan internasional tentang kondisi negara yang akan kita tuju.
Bosnia-hercegovina mungkin akan segera memiliki pemerintahan baru. Mungkin bisa juga tidak, sepertinya tidak akan ada yang tahu. Bosnia mengadakan pemilu Oktober 2018 tetapi partai-partai pemenang masih belum sepakat tentang bagaimana bentuk pemerintahannya. Kekuasaan Pemerintah pusat Bosnia lemah. Negara ini memiliki tiga Presiden bergilir, tetapi Ketua Presedensi mereka saat ini berharap rotasi jabatan tidak ada. Puluhan ribu warganegara Bosnia berimigrasi setiap tahun keluar negara, mereka kehilangan harapan untuk masa depan. Dari tahun 1992-1995 Bosnia seperti Suriah pada zamannya. Sekitar 100.000 orang tewas dalam perang tiga arah antara komunitas negara itu: Serbia Ortodoks, Kroasia Katolik dan Muslimnya (sering disebut sebagai Bosniaks). Namun, tidak seperti di Suriah, kekuatan Barat turun tangan dan akhirnya mengakhiri genocida. Mengakhiri pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa dengan maksud memusnahkan bangsa tersebut. Sebuah perjanjian perdamaian ditandatangani di sebuah pangkalan udara Amerika di Dayton, Ohio dan 60.000 penjaga perdamaian dikirim ke Bosnia. Tetapi sampai kini orang-orang percaya bahwa kesepakatan rumit yang dibuat untuk mengakhiri perang tersebut memberi dampak pada pemerintahan yang baik. Situasi tidak menampakkan kemauan politik untuk mereformasi negara dengan cara yang dapat menguntungkan semua warganegara Bosnia.
Tulisan ini tidak bermaksud menakut nakuti wisatawan untuk berkunjung kenegri nan cantik ini, tetapi kita tetap harus waspada. Indonesia juga bisa tidak aman seperti saat ini, konflik politik, wisata tetap jalan terus karena berwisata adalah salah satu tindakan mensyukuri karunia Tuhan terhadap ciptaannya (alam semesta beserta isinya). Jadi, tetaplah berwisata dengan aman.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here