Shamsi Ali: Yang Damai dan Yang Beragam

Imam Shamsi Ali (dok pribadi)

Nama saya Shamsi Ali. Saya lahir di sebuah kampung terpencil di Kecamatan Kajang, Kabupaten Bulukumba, Sulawesi Selatan. Hampir dua pertiga hidup saya ada di luar Indonesia, negeri tanah airku tercinta. Sejak tamat dari pesantren “Darul-Arqam” Muhammadiyah di Makassar saya telah meninggalkan Indonesia menuju Pakistan untuk kuliah di universitas Islam antar Bangsa Islamabad. Saya tinggal belajar di negara itu selama tujuh tahun; 1988 – 1995. Lalu di pertengahan 1995 saya mendapat kesempatan menjadi tenaga pengajar di kota Jeddah, Saudi Arabia hingga akhir 1996.

Di penghujung 1996 itulah saya ditakdirkan bertemu Duta Besar Republik Indonesia untuk Perserikatan Bangsa-Bangsa, Bapak Nugroho Wisnumurti, dalam acara musim haji di Jeddah. Beliau bersama beberapa petinggi negara dan kepala-kepala perwakilan RI di berbagai negara melaksanakan ibadah haji tahun itu dan kebetulan saya diminta Konsul Jenderal RI Jeddah untuk memberikan ceramah manasik haji. Setelah ceramah itulah Dubes Wisnumurti mendekati saya dan mengajak saya datang ke Kota New York. Singkat cerita saya terima dan tepatnya pada Desember 1996 saya mendarat di negara Uncle Sam, negara yang oleh sebagian orang Islam dipersepsikan sebagai musuh Islam.

Saya harus akui jika di awal saya menyetujui untuk datang ke Kota New York dalam hati saya juga ada kekhawatiran, bahkan mungkin rasa takut. Saya adalah tamatan pesantren, sekolah di universitas di Pakistan. Di saat-saat perang Afganistan bergejolak, saya tinggal mengajar di Saudi Arabia selama hampir dua tahun, sebuah negara yang dikenal banyak sebagai negara yang super konservatif dan ekslusif. Dalam benak saya ketika itu apakah nantinya saya aman? Akankah saya bebas menjalankan agama saya? Bagaimana dengan keluarga dan anak-anak saya? Dan berkecamuklah beribu pertanyaan lainnya.

Berbagai kecurigaan itu tidak sepenuhnya benar. Amerika ternyata merupakan negara yang sangat toleran dan secara konstitusi menjamin setiap warganya untuk menjalankan agama. Kebebasan yang ada di Amerika ternyata memberikan peluang luas kepada saya, tidak saja menjalankan agama saya, tapi juga peluang besar untuk menyampaikan ajaran agama yang saya yakini kepada masyarakat Amerika.

Realita tersebut menjadikan saya berbalik dari curiga, khawatir, benci, menjadi yakin, tenang, bahkan untuk membangun komitmen persahabatan dan kerjasama. Saya memulai dialog antar agama dengan sebuah gereja yang tidak jauh dari masjid yang saya pimpin. Hasilnya luar biasa. Tidak jarang jamaah dari gereja itu mendatangi salat Jumat kami untuk sekadar melihat-lihat atau bahkan ikut-ikutan beribadah.

Tragedi 11 September 2001

Di pagi itu saya dalam perjalanan menuju kantor Perwakilan RI di PBB. Setiba di sebuah jalan raya di Kota Manhattan saya mendengar raungan ambulans dan juga mobil-mobil polisi berlarian cepat di mana-mana. Setelah menanyakan ke beberapa pihak diberitahu bahwa baru saja ada serangan teroris di kota New York dan semua tranportasi umum lumpuh.

Saya tetap memaksakan ke kantor pagi itu. Tapi baru masuk gedung kantor semua pegawai diperintahkan meninggalkan kantor karena serangan tersebut. Saya berjalan menelusuri jalan Second Avenue menuju jembatan Queens Borough untuk kembali ke rumah. Di tengah jalan saya sempat menghentikan sebuah mobil yang dikendarai oleh seorang Hispanic, Colombia atau Mexica. Baru saja saya duduk di kursi belakang sang sopir itu mencaci maki Islam dan pemeluknya. Kecurigaan saya dia tidak tahu kalau saya seorang Muslim.

Kesokan harinya, saya mendapat undangan untuk mewakili komunitas Muslim dalam acara konferensi pers pimpinan agama atas serangan itu. Sungguh sebuah kejutan sekaligus kehormatan karena saya secara relatif orang baru di kota ini. Alhamdulillah ternyata kehadiran saya mendapat apresiasi dari media dan pimpinan agama yang hadir. Beberapa hari selanjutnya kembali saya diminta mewakili komunitas Muslim dalam sebuah acara doa bersama untuk Amerika. Acara yang dihadiri mantan Presiden Bill Clinton dan isterinya yang saat itu menjabat sebagai senator, Gubernur New York George Pataki, Walikota New York Guilani, ratu talk show Oprah Wimprey dan banyak lagi.

Sejak tampilnya saya di acara doa bersama untuk Amerika ini saya kemudian secara tidak resmi diangkat menjadi juru bicara komunitas Muslim di Amerika Serikat pasca tragedi 11 September itu. Kesempatan itulah yang membuka peluang untuk saya membangun hubungan dekat dengan walikota New York, Michael Bloomberg. Satu-satunya Imam di kota New York yang masjidnya dikunjungi dua kali oleh wali kota yang kaya raya itu adalah saya.Kunjungan pertama terjadi sewaktu saya menjadi Imam di Islamic Center New York, dan yang kedua beliau mengunjungi Jamaica Muslim Center di saat Idul fitri di hari-hari terakhir masa jabatan sebagai walikota New York.

Bangga sebagai putra Indonesia

Satu hal yang ingin saya garisbawahi di sini adalah bahwa dari perjalanan panjang hidup saya di luar negeriku tercinta, saya tetap bangga dan cinta Indonesia. Kebanggan dan kecintaan saya terhadap negeri ini bukan sekadar sentimen nasionalisme sempit, tapi memiliki dasar rasional yang kuat.

Semakin jauh saya melangkahkan kaki keluar negeri semakin nampak di hadapan mata saya akan kebesaran Indonesia. Negara kepulauan yang sangat luas, kaya sumber alam dan maritim, dengan penduduk terbesar keempat di dunia. Semakin saya menjauh dari negeriku semakin saya merindukan negeri ini. Merindukan Indonesia kembali memainkan peranan besar dalam dunia global.

Saya bangga dan cinta Indonesia juga karena nilai-nilai kemanusiaan Nusantara yang mulia: rendah hati, bersahabat, berwajah ceria, mudah bergaul, hormat, tenggang rasa, mudah kerjasama dan gotong royong. Dalam realita keragaman yang luar biasa baik secara etnis, suku, budaya, warna kulit, bahasa dan agama, saya membanggakan sikap bangsaku yang selalu mengedepankan toleransi dan saling memahami. Bahkan di atas semua itu mereka akan melupakan batas-batas keragaman itu dan berbaur menyatu dalam membesarkan dan membangun bangsa ini.

Karakter keIndonesiaan yang demikian inilah yang membawa saya mudah diterima di kalangan masyarakat dunia, Muslim dan non Muslim. Mereka merindukan Islam yang berkarakter Nusantara, damai, bersahabat, berwawasan, mengedepankan persahabatan dan kerjasama di atas permusuhan dan konflik. Islam yang luas dalam pergaulan dan mengedepankan pemikiran positif di atas pemikiran negatif. Singkatnya Islam Nusantara mewakili wajah Islam yang ‘rahmatan lil-alamin’.

Di tengah kebanggan itu saya juga memiliki kerisauan besar. Saya risau karena selama ini nama besar Indonesia, dan Muslim Indonesia, tidak terlalu dikenal dan dibanggakan oleh dunia internasional, termasuk Amerika. Saya sebagai putra Indonesia harus melakukan terobosan baru untuk tidak saja mengenalkan Islam kepada dunia Barat, tapi sekaligus mempromosikan nama besar yang melekat ke bangsa ini. Untuk tujuan inilah setahun yang lalu saya mendirikan Yayasan Nusantara untuk menjadi vehicle dalam mempromosikan Islam yang berkarater Nusantara.

Pesan untuk putra putri bangsa: banggalah dengan Indonesia karena kita memiliki semua alasaan untuk bangga dan mencintai negeri ini. Kembalikan kejayaan negeri yang pernah menjadi pelopor pergerakan internasional, mendirikan GNB (Gerakan Non Blok) dengan KAA (Konferensi Asia Afrika) di Bandung. Indonesia menjadi salah satu pelopor berdirinya OKI (Organisasi Negara-Negara Islam). Indonesia pernah dikenal dengan ulama-ulama Islam yang berwawasan global dan “go international”.

Dengan keyakinan akan potensi kita dan kerja keras serta komitmen untuk mengedepankan nilai-nilai kerjasama dan gotong royong, kita akan mampu menjadikan Indonesia sebagai negara bermartabat dan terhormat di mata dunia. Dan saya sebagai putra bangsa dan Muslim menjadikan ini sebagai titik poin jihad saya di negeri orang.

Salah satu yang membanggakan saya tentang Indonesia adalah kemampuan bangsa ini merajut kesatuan dan kerjasama di tengah keragaman yang sangat luar biasa. Keragaman yang dilatarbelakangi oleh juga ragam latar belakang, etnis, budaya atau kultur, bahasa, maupun agama. Keragaman telah menjadi bagian integral kehidupan bangsaku. Tapi sejak beberapa tahun terakhir, dari jauh saya amati nampak terjadi degradasi kerukunan dan toleransi itu. Islam yang berwajah Nusantara dengan karakter teduh, bersahabat, toleran dan membangun persahabatan dan kerjasama mulai terkikis dengan paham dan penafsiran agama dari luar yang belum tentu sesuatu dengan katakter bangsa ini.

Oleh karenanya saya ingin berpesan agar karakter dasar atau jati diri bangsa ini harus dijaga. Indonesia sebagai negara dengan penduduk Muslim terbesar di dunia harus mampu membuktikan kepada dunia bahwa Islam yang dipahami lewat media khususnya oleh dunia barat tidak benar. Jika Anda ingin melihat Islam yang sesungguhnya maka lihat kehidupan umatnya di bumi Nusantara.

New York,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here