Seniman Bali Jadi Finalis di Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik

Seniman indonesia patut berbangga karena Singapore Art Museum dan Asia Pacific Breweries (APB) Foundation mengumumkan nominasi dari ajang penghargaan yang bernama APB Foundation Signature Art Prize 2018. Nama seniman asal Bali Gede Mahendra Yasa pun menjadi salah satu finalis. 

Tahun ini, karya seni para finalis dipilih oleh tim juri yang terdiri dari Mami Kataoka (Chief Curator Mori Art Museum Tokyo), Bose Krishnamachari (Presiden Kochi Biennale Foundation), Joyce Toh (Head of Content and Senior Curator di Singapore Art Museum), Dr. Gerard Vaughan (Direktur National Gallery of Australia), dan Wong Hoy Cheong (seniman dan kurator independen). 

Selain nama Gede Mahendra Yasa, ada 14 seniman lainnya yang terpilih dari 113 seniman di 40 negara dan kawasan Asia Pasifik. Mulai dari karya seni lukis, instalasi, dan keberagaman di kawasan Asia. Mereka yang terpilih berasal dari Australia, Hong Kong, India, Indonesia, Jepang, Kazakhstan, Malaysia, New Zealand, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, Tailand, dan Vietnam. 

 
Seniman Bali Dinominasikan di Penghargaan Bergengsi Asia PasifikSeniman Bali Dinominasikan di Penghargaan Bergengsi Asia Pasifik

 

Tim dewan juri lainnya Wong Hong Cheong juga menambahkan ke-15 karya seni para nominator banyak yang menceritakan tentang reklamasi sejarah dan kisah-kisah yang terpinggirkan.

“Para seniman ini telah selesai melakukan penelitian yang sebagian besar mengambil persoalan sejarah pribadi dan kolektif. Katakanlah kembali membayangkan dan kembali memvisualisasikan narasi yang telah hilang atau terlupakan,” kata seniman yang berdomisili di Malaysia itu.

“Seniman yang masuk nominasi di Hadiah Seni kali ini berasal dari latar beragam yang aktif di Asia Pasifik dan Asia Tengah. Karya seni yang disajikan juga terdapat keragaman perspektif yang kompleks. Banyak di antaranya mengeksplorasi bagaimana pribadi terkait dengan identitas, politik, sosial, atau eko-sejarah,” ujar Chief Curator dari Mori Art Museum Tokyo, Mami Kataoka, dalam keterangan pers yang diterima detikHOT.

 


Seniman asal Bali itu menampilkan lukisan yang menggambarkan kehidupan sehari-hari di Bali. Ia menggambarkan versi lukisan terkenal dari sejarah seni Barat dan Indonesia lewat karya berjudul ‘After Paradise Lost #1’ (2014).

“Karya saya menggambarkan seluruh dunia imajiner. Berfungsi sebagai analogi politik dengan perpecahan antar tokoh-tokoh bersejarah dan kerumunan yang rusak,” katanya.

Selain Gede Mahendra Yasa, nominator lainnya di antaranya Au Sow Yee (Malaysia), Bae Young-Whan (Korea), Club Ate (Bhenji RA+Justin Shoulder) (Australia), Fang Wei-Wen (Taiwan), Jitish Kallat (India), Leung Chi Wo + Sara Wong (Hong Kong), Mata Aho Collective (New Zealand), Yerbossyn Meldibekov (Kazakhstan), hingga Chikako Yamashiro (Jepang).

Pengumuman pemenang Triennial APB Foundation Signature Art Prize kategori Grand Prize, Juror’s Choice Award, dan People’s Choice Award akan dibacakan pada 29 Juni 2018. Pecinta seni dapat turut memilih lewat kategori People’s Choice Award di situs resmi mereka.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here