Sambutan Letjen TNI Doni Monardo Bukti Pentingnya Komunikasi di Era Digital

Oleh

Eva Reinhard

Tidak dapat dipungkiri bahwa akhir-akhir ini setelah smartphone menjadi kebutuhan penting dalam kehidupan manusia di era milenial, kita sering mengabaikan silaturahim. Pemikiran manusiapun sudah mulai sedikit berubah. Hal-hal yang dulu menjadi suatu keharusan, sekarang bisa dianggap sepele, karena adanya berbagai platform sosial media dan kemudahan lainnya dalam berkomunikasi.

Salah satu contohnya kita seringkali menganggap enteng cara berkomunikasi yang baik. Mungkin kita juga sudah sangat terlena dengan adanya berbagai kemudahan dalam berkomunikasi tersebut. Sehingga lupa bahwa menjaga silaturahim tetaplah menjadi hal yang penting sekali dan mendasar dalam kehidupan manusia.

Saya termasuk orang yang sangat bersyukur karena mempunyai sahabat dan teman-teman baik yang selalu mengingatkan akan pentingnya hal tersebut. Walaupun saya sudah meninggalkan Tanah Air lebih dari 20 tahun, tetapi komunikasi dengan para relasi tetap terjaga dengan baik. Silaturahimnya lancar sekali.

Kilas balik yang bisa saya tulis: sekitar 5 tahun yang lalu, ketika saya mengenal teman-teman yang tergabung dalam jaringan kebaikan Indonesia (Suatu gerakan publik non partisan, yang mempunyai visi untuk menduniakan Indonesia, dan bertukar informasi timbal balik dari dalam dan luar negeri, dengan benang merah “Kebaikan Indonesia“), wawasan, dan pola pikir, serta semangat saya menjadi bertambah besar. Berguru pada teman-teman di jaringan tersebut, sedikit banyak telah mengubah kehidupan dan kebiasaan saya sebagai diaspora Indonesia di Jerman.

*Selalu Menginspirasi dan Mengingatkan Komunikasi yang Baik dengan Menjaga Silaturahim*
Karena kesamaan tujuan dengan Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI) tersebut yakni untuk kemajuan dan kebaikan Tanah Air Indonesia itulah, saya dengan sukarela menawarkan diri menjadi perwakilan GKI divisi luar negeri wilayah Jerman, dalam mempromosikan Indonesia di negara ibu Merkel ini.

Selama belum mengenal GKI kebetulan kegiatan-kegiatan promosi Indonesia baik melalui budaya, kuliner, maupun yang lainnya sudah sering saya lakukan di sini. Kegiatan ini tentu akan membawa dampak dan manfaat yang lebih luas dengan bergabungnya saya di GKI tersebut.

Melalui GKI ini, lagi-lagi saya juga beruntung sekali bisa mengenal sosok motivator Dr Aqua Dwipayana. Pak Aqua – biasa saya panggil beliau – selalu menginspirasi dan mengingatkan bahwa komunikasi yang baik adalah hal penting yang harus terus dipupuk untuk menjaga tali silaturahim dengan semua orang.

Di sela-sela kesibukan beliau sehari-hari yang relatif padat termasuk saat pandemi Covid-19 ini, masih selalu memberikan “bumbu batin“ dengan tulisannya mengenai berbagai macam aktivitas yang beliau lakukan. Tentu saja tulisan tersebut menjadi “bacaan wajib“ yang biasa saya baca setelah sarapan pagi, karena perbedaan waktu Indonesia dan Jerman.

Lagi-lagi terbukti apa yang selalu menjadi wejangan Pak Aqua tersebut. Terlebih di saat pandemi Covid-19 yang melanda dunia sekarang ini. Beberapa teman-teman diaspora menjadi lebih kreatif dalam memanfaatkan waktu karena harus “di rumah saja“.

Hingga suatu ide tercetus untuk membuat buku tentang pengalaman para diaspora menghadapi masa pandemi di negara mereka berdomisili. Akhirnya GKI bersepakat untuk bekerjasama dengan media liputan6.com menjadi inisiator dan memfasilitasi ide yang muncul. 19 penulis diaspora Indonesia bersepakat untuk membuat goresan pena tentang pengalaman pribadi yang dialami di negara masing-masing.

Setelah berkoordinasi dengan tim panitia akhirnya terjadilah kesepakatan bahwa buku ini akan diluncurkan pada Sabtu, 22 Agustus 2020. Harapannya buku ini bisa menjadi referensi teman-teman di Tanah Air yang mungkin tidak terinfokan dari media mainstream jika diaspora Indonesia di luar negeri juga mengalami dan merasakan apa yang saudara-saudara kita di Indonesia juga rasakan saat pandemi ini.

*Berhasil Dapatkan Sambutan Letjen TNI Doni Monardo, Tepat Sekali Disebut Pakar Komunikasi*
Kesepakatan bersama juga akan lebih “WOOWWW“ jika saat peluncuran bukunya ada testimoni dari Kepala Gugus Tugas Penanganan Covid-19 Nasional Letjen TNI Doni Monardo, Perwakilan Kementerian Luar Negeri, dan beberapa akademisi di Tanah Air.

Lagi-lagi pentingnya komunikasi yang baik teruji di sini. Melalui komunikasi dengan Pak Aqua, saya selaku perwakilan divisi luar negeri Jerman dan Mas Nugroho Dewanto sebagai Sekretaris GKI menyampaikan keinginan tersebut ke beliau, agar Pak Doni Monardo berkenan memberikan testimoni sekitar 1-2 menit. Meski kami sadar jadwal mantan Danjen Kopassus itu padat sekali.

Kami yakin Pak Aqua sebagai teman akrab Pak Doni dapat mengkomunikasikan permohon kami. Juga memperkirakan bahwa Pak Aqua bakal mampu meyakinkan Pak Doni untuk memberikan sambutan saat peluncuran buku yang berjudul “The Covid-19 Stories from 19 Countries”.

“Siap Mbak EVA. Saya komunikasikan ke Pak DONI ya. Semoga beliau berkenan. Aamiin… Saya kabari kalau ada respon dari beliau. Mudah2n pandeminya cepat berakhir sehingga Mbak EVA bisa kembali ke Tanah Air untuk melepas rindu. Aamiin… Salam hormat buat keluarga. Makasih banyak Mbak EVA.” Respon Pak Aqua.

Sebelumnya saya kirim WA ke Pak Aqua berisi permohonan ke Pak Doni. “Pak Aqua, ijinkan jika berkenan mohon disampaikan ke Pak Doni, utk memberikan testimoni sekitar 1-2 menit ttg buku cerita covid -19, dari para diaspora. Virtual launching akan diselenggarakan tgl 22/8 ini, GKI bekerjasama dgn liputan6.com. Berikut lampiran-lampiran yg saya bisa sampaikan ke Pak Aqua.”

Rabu malam, 19 Agustus 2020, setelah mendarat di Jakarta dari Medan, Sumatera Utara, Pak Aqua sengaja menemui Pak Doni di kantornya lantai 10 Graha BNPB Jakarta Timur. Salah satunya membicarakan permohonan sambutan yang disampaikan GKI ke Pak Doni.

“Mbak Eva, alhamdulillah Pak Doni bersedia memberikan sambutan di acara peluncuran buku “The Covid-19 Stories from 19 Countries”. Saya barusan ketemu beliau. Sekarang bersama Ero dalam perjalanan ke Bogor,” ujar Pak Aqua lewat WA call sambil mengirimkan foto beliau berdua sama Pak Doni yang diabadikan Ero beberapa menit sebelumnya. Waktu itu jam menunjukkan pukul 00.15 Kamis dini hari, 20 Agustus 2020.

Rupanya gayung bersambut. Tidak sampai 72 jam setelah kami berkomunikasi, video testimoni dari Pak Doni Monardo sudah dikirim oleh Pak Aqua ke saya dan Mas Dede (Nugroho Dewanto).

Waktu mengirimkan videonya Pak Aqua sedang di Palembang, Sumatera Selatan bersama teman akrabnya yang menjabat Dirut Pegadaian Pak Kuswiyoto. Rasa bahagia tentunya tidak bisa kami sembunyikan ke Pak Aqua saat menerima video tersebut.

Memang benar bahwa komunikasi yang baik akan membuahkan hasil yang maksimal. Itu seperti yang ditulis Pak Aqua dalam buku _super best seller_ “The Power of Silaturahim: Rahasia Sukses Menjalin Komunikasi“. Sejak diberikan oleh beliau buku tersebut pada 2016, sedikit banyak saya menjadi pribadi yang sering memperhatikan cara orang berkomunikasi. Hahaha…

Melalui tulisan ini, saya, walaupun sekarang bukan wanita karier tetapi _full time mommy_ dengan empat “buntut” yang saat ini sangat menikmati profesi tersebut, mengucapkan banyak terima kasih khususnya kepada Pak Aqua. Beliau telah berhasil mengkomunikasikan keinginan para diaspora Indonesia agar Pak Doni Monardo memberikan sambutan dalam acara peluncuran buku “The Covid-19 Stories from 19 Countries”. Tepat sekali Anda disebut Pakar Komunikasi Pak Aqua.

Terima kasih juga kepada rekan-rekan di GKI dan liputan6.com serta para penulis diaspora Indonesia dalam buku tersebut atas segala kerja keras dan koordinasinya yang sangat baik. Tentunya tanpa komunikasi yang baik dalam berkoordinasi, buku tersebut tidak mungkin akan terwujud. Apalagi adanya perbedaan zona waktu antar 5 benua yakni Asia, Amerika, Eropa, Afrika, dan Australia.

“Jangan tanya apa yang negara berikan kepadamu, tapi tanyalah apa yang bisa kamu berikan ke negara“. Mengutip pernyataan Presiden Amerika ke-35 John F. Kennedy. Hal itulah yang selalu membuat saya konsen akan Tanah Air tercinta, walau jauh di mata tetapi selalu ada di hati.

Waldshut, 23.08.2020

Salam Rindu Indonesia

*Penulis berasal dari Magelang, Jawa Tengah, yang sekarang tinggal di Waldshut, Baden Württemberg, Jerman.*

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here