CID 4: Rencana Strategis Menerapkan Sister Cities Seluruh Kota Indonesia, Untuk Indonesia Yang Lebih Makmur

Seminar ‘SISTER CITIES & PROMOTING COOPERATION AMONG LOCAL GOVERNMENT. di ruang Nissi 2, lantai 3.Kongres Diaspora (Conggres of Indonesia Diaspora/CID) di JS Luwansa, Jakarta Selatan,

Salah satu sessi menarik dalam Kongres Diaspora (Conggres of Indonesia Diaspora/CID) di JS Luwansa, Jakarta Selatan, adalah seminar dengan tema ‘SISTER CITIES & PROMOTING COOPERATION AMONG LOCAL GOVERNMENT. Peserta akan mendengar gagasan, informasi dan usulan menarik.

Kota Kembar (bahasa Inggris: sister city, twin cities, sister cities) atau kota bersaudara adalah Kerjasama Dua Kota dengan Kesamaan Karakter atau Visi dengan penggandengan dua kota yang berbeda lokasi dan administrasi politik dengan tujuan menjalin hubungan kerjasama diberbagai bidang dengan melihat potensi karakter pengembangan, bisa meliput kerjasama bidang budaya, pendidikan dan kontak sosial antar penduduk serta landscape kota serta infrastruktur kota. Dalam sesi ini para panelis yang dipandu oleh moderator Martino Tangkar Wakil Presiden Nasional Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) di Amerika Serikat. Ia meraih penghargaan prestasi, termasuk: Excellence in Leadership Award pada Perayaan Bulan Madya Asia Pasifik 2017 di Chicago, Lifetime Achievement Award & Medal dari The Corporation for National and Community Service dan Office of the President of the United States 2015, dan Indonesian Diaspora Award 2015.

Pada sesi ini moderator dan para panelis datang dari beragam domisili dari Amerika, Australia Belanda dan Singapore, untuk memastikan para peserta untuk mendapatkan informasi jalinan kota kembar dari sumber pertama. Kota kembar umumnya memiliki banyak persamaan terutama persamaan kondisi demografi, karakter kota, potensi kota dan visi kota. Konsep kota kembar bisa diutamakan untuk menciptakan kerjasama yang saling menguntungkan, terutama untuk kota yang ada di Indonesia untuk dapat mencontoh dan mempelajari pola pengelolaan kota yang lebih maju. Program pertukaran budaya, pelajar, pelatihan pejabat pemerintah dan kerjasama perdagangan dapat dikembangkan lebih lanjut.

Hubungan kota kembar sudah dijalin antara kota-kota di Indonesia dengan berbagai kota di luar negeri, misalnya: Banda Aceh dengan Apeldoorndan Samarkand; Medan dengan George Town (Penang) Ichikawa, Gwangju, Chengdu; Jakarta dengan Beijing, Hanoi, Berlin, Paris (sebagai kota rekan) Pyongyang, Rotterdam, Seoul, Tokyo, Athena, Bangkok, Casablanca, Jedda, Istanbul, Islamabad, Los Angeles ; Bogor dengan St. Louis; Bandung dengan Fort Worth, Texas, Braunschweig, Yingkou, Luizhou, Suwon, Bega Valley, New South Wales, Hamamatsu; Semarang dengan Brisbane; Yogyakarta dengan Kyoto, Hefei, Savannah, Distrik Commewijne, Suriname; Surabaya dengan Guangzhou, Seattle, Busan, Kochi, Xiamen; Malang dengan Lyon, Manchester, Pécs, Tasikmalaya, Varaždin; Makassar dengan Lismore, New South Wales; Manado dengan Davao; Kupang dengan Palmerston, Northern Territory; Ambon dengan Darwin Vlisingen; Kabupaten Kepulauan Aru dengan Urk, Belanda; Padang – City of Fremantle (sebagai kota rekan – friendship city)

Di Eropa, kota kembar dikenal sebagai twin towns atau friendship towns. Istilah sister cities lebih dikenal di Asia, Australia dan Amerika Utara, sedangkan di negara-negara CIS dikenal dengan sebutan “kota bersaudara” (brother cities). Gagasan kota kembar (sister city) atau sister state berawal dari pencanangan program “People-to-People” yang berkeinginan meningkatkan kunjungan warga sipil untuk mempelajari negara-negara asing. Sebuah program yang menyediakan berbagai macam cara untuk meningkatkan arus manusia dan arus gagasan dengan menggunakan terbitan, siaran radio, pameran, presentasi budaya, pameran dagang, pertukaran tim olahraga, delegasi warga sipil dan sebagainya.

Tim dari Indonesia Diaspora Network (IDN) dari Amerika Serikat bersama tim dari US Embassy berkunjung ke Balaikota Cirebon di tahun 2015, untuk menjajaki kerjasama internasional antara Kota Cirebon dengan beberapa kota di Amerika Serikat di bidang pariwisata kebudayaan, sosial, pendidikan dan ekonomi. Dalam sesi diskusi panel akan dibahas secara langsung oleh Alexander Soetjipto, presiden program kerjasama St Louis-Bogor Sister Cities. Lebih lanjut Indonesia sudah memiliki empat program ‘Sister Cities’ dengan Amerika Serikat untuk menjadi target langkah kerja nyata diaspora.

Beberapa waktu lalu tim IDBC dari Australia, yang diwakili oleh Astrid Vasile, Leny Maryouri dan Iskandar Basro bersama delegasi pemerintah dan pebisnis menyaksikan penanda tanganan pada tanggal 3 Mei 2017 di Padang, Walikota Mahyeldi dan Walikota Fremantle, Brad Pettitt, menandatangani Surat Pernyataan Kehendak (LoI) untuk menandai kerjasama ‘Sister City’ (Kota Bersaudara) antara Kota Padang, Sumatera Barat dengan Kota Fremantle, Australia Barat. Pengembangan Kota Fremantle pada waterfront telah mengilhami Kota Padang untuk kedepannya juga dikembangkan kotanya dengan konsep waterfront, dengan keberadaan pelabuhan dan lautan luas sebagai wajah kota. Ada empat sektor kerjasama yang disepakati oleh LoI itu dan menjadi fokus program ‘Sister City’, meliputi sektor pariwisata dan budaya; perdagangan dan investasi; pembangunan infrastruktur; serta peningkatan kapasitas Sumber Daya Manusia. Pengembangan Pendidikan, pariwisata, perdagangan dan retail investasi pengelolaan kota tua serta budaya akan menjadi target kerjasama berikutnya.

Apa yang ingin dikatakan sesuai dengan sudut pandang dan kreativitas masing-masing Panelis?

Alex Soetjipto seorang Amerika kelahiran Indonesia yang mencintai negara asalnya: Indonesia, dan juga negaranya: Amerika Serikat. Dia lulus dengan M.B.A. dan M.Sc. Gelar dari University of Missouri – St. Louis. Di Amerika, Alex telah secara aktif membantu KJRI Chicago di Midwest USA – terutama di St. Louis, Missouri. Di Indonesia, dia telah aktif membantu pemerintah AS (Kedubes AS) di Kota Cirebon, Jawa Barat. Saat bekerja sebagai aktivis Pusat Hubungan Internasional St.Louis, Alex mendirikan San Fransisco-Bogor Suster Cities pada tahun 2005 di St. Louis, Missouri. Saat meresmikan Prakarsa PEMDA BERKARYA, ia juga turut mendirikan dan memulai Pusat Hubungan Internasional Cirebon pada tahun 2015 di Cirebon, Jawa Barat. Sebagai aktivis IDN USA – Midwest Chapter, Alex juga merupakan penggerak Sister Cities Task Force di Jaringan Diaspora Indonesia. Untuk informasi lebih lanjut mengenai kegiatan Alex mengenai inisiatif Kota Bogor dan Cirebon serta kegiatannya di Jaringan Diaspora Indonesia dan PEMDA BERKARYA

Astrid Vasile Wakil Presiden Indonesia Diaspora Business Council (IDBC), yang sudah 20 tahun hidup di Australia, negeri tersebut telah membantu membentuk dirinya sebagai pengusaha dan pebisnis di bidang rancang bangun dan konstruksi. Astrid yang sudah malang melintang di dunia bisnis di luar Indonesia ini justru bersemangat dalam berorganisasi. Sebagai diaspora Indonesia, Astrid tetap memiliki keinginan kuat berperan membangun tanah tumpah darahnya. Master di bidang administrasi bisnis ini juga aktif berperan meningkatkan kualitas hubungan ekonomi antara Indonesia dengan Australia. Dan sesuai dengan keahliannya di bidang kualitas bangunan, Astrid ingin sekali member sumbangsih nyata untuk membuat Indonesia lebih baik dengan menggunakan kemampuan dan pengetahuan nya untuk Indonesia.

Leny Maryouri memperoleh gelar Master di bidang Manajemen Transportasi Perkotaan dari Universitas New South Wales, Australia. Dia sekarang sedang menunggu hasil disertasinya untuk gelar Doktor di bidang Pendanaan Infrastruktur dari Curtin University Australia. Leny memiliki pengalaman kerja lebih dari 10 tahun. Penasehat DKI Jakarta sebagai tim ahli dalam mengembangkan kerangka kerja dan protokol operasi pengelolaan aset publik sejak tahun 2005, dan telah menjadi ahli PPP di Bappenas sejak tahun 2010. Dia ditunjuk sebagai penasehat Gubernur Propinsi Sumatera Selatan sejak 2013. Pada tahun 2016 , Dia bergabung di Komite Percepatan Pembangunan Infranstruktur Prioritas (KPPIP). Saat ini dia adalah pakar PPP yang fokus pada pembiayaan infrastruktur di Kementerian Perhubungan untuk sistem integrasi transportasi Jabodetabek dan dia berkontribusi untuk mengembangkan proyek Kemitraan Bagi Kemitraan Publik – Pembayaran Ketersedian Layanan (PPP AP) untuk jalan tol dan jalan tol arteri sebagai alternatif pembiayaan untuk mengatasi keterbatasn anggaran pemerintah. Dia berkomitmen untuk bekerja sama dengan pemerintah dan sektor swasta untuk memperbaiki keefektifan manajemen ekonomi Pemerintah Indonesia untuk mempromosikan pertumbuhan ekonomi lebih luas dan pengurangan kemiskinan

Dipl. Ing. Cosmas D. Gozali, IAI belajar arsitektur di Technische Universitats Wien, Wina, Austria, dan berpengalaman selama lebih dari 20 tahun di bidang arsitektur. Cosmas, yang mendirikan Architelier pada tahun 1992 dan kemudian berganti menjadi Atelier Cosmas Gozali pada tahun 2005, sampai sekarang, selalu menciptakan arsitektur dengan sentuhan nilai lokal yang dikombinasikan dengan eksplorasi ruang futuristik. Ia juga dikenal sebagai salah satu arsitek di Indonesia yang pertama kali menerbitkan sebuah buku dengan judul; ‘Soul of Space’. Cosmas juga pernah berpartisipasi dalam Benteng Eropa untuk Venice Architecture Biennale 2016 di Venice Italia, sekaligus sebagai kurator untuk Pameran Kerajinan Induk Asean yang diadakan di Filipina pada akhir Oktober 2016. Ketekunannya dalam arsitektur mengantarkannya meraih beberapa penghargaan: Cultural Award 2011 dari Pemerintah DKI Jakarta dan IAI Jakarta Award 2012 untuk konservasi bangunan bersejarah melalui proyek Swiss Ambassador Residence. Terakhir di tahun 2017, ia menerima Indonesian My Home Award untuk Arsitek Muda, Kreatif dan Global.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here