Pohon Rantau Gerakan Kebaikan Indonesia untuk Indonesia

Adopsi pohon

Gerakan Kebaikan Indonesia menyelenggarakan program adopsi pohon yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia di luar negeri, dengan nama pohon rantau, yang ditanam pada Hari Kasih Sayang 14 Februari 2016. #pohonrantau #valentineforearth.

Kini telah banyak fakta bukti terjadinya perubahan iklim yang melanda Dunia. Tanda-tanda umum antara lain: jumlah CO2 mencapai level lebih tinggi dibanding kehidupan bumi selama 650 ribu tahun; peningkatan suhu yang lebih cepat; musnahnya beberapa spesies binatang; perubahan pola hujan; peningkatan ketinggian air laut. Yang juga mengerikan adalah dampak terburuk perubahan iklim menimpa sektor pertanian. Menurut World Food Program, pada 2015 total orang yang terkena akibat perubahan iklim bisa mencapai 350 juta jiwa per tahun; dan harga makanan menurut Oxfam, akan meningkat 50 hingga 60 persen pada 2030.

Suka atau tidak, setuju atau tidak pemanasan global memang terjadi. Pilihan ada pada kita, yaitu menjadi bagian yang peduli pada bumi, biasa-biasa saja atau tidak sama sekali. Gerakan Kebaikan Indonesia memilih peduli. Cara yang dilakukan adalah memulai program pohon rantau, yaitu adopsi –pohon-pohon ditanam di Indonesia– oleh orang-orang Indonesia yang tinggal di luar negeri, atau di tanah rantau. Nah, tradisi pohon rantau ini dimulai pada 14 Februari 2016, bertepatan dengan Hari Kasih Sayang. Pohon-pohon yang ditanam di Desa Sukatani, Kecamatan Pacet, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat ini merupakan kerjasama GKI dengan Green Initiatives Foundation (GIF), sebuah lembaga yang sejak 2009 bergerak di bidang rehabilitasi hutan dan pemberdayaan petani salah satunya dengan cara tanam pohon.

Menanam pohon bisa dilakukan di mana saja dan kapan saja, caranya pun bisa bervariasi. GKI, sebagai sebuah gerakan publik non partisan yang bertujuan membangun jejaring kebaikan antara orang-orang atau kelompok orang Indonesia di dalam negeri dengan yang tinggal di luar negeri, menjadikan program pohon rantau sebagai satu cara silaturahim orang-orang rantau dengan bumi Indonesia. Meski mereka tidak tinggal di bumi Indonesia, mereka dapat menanam kebaikan. “Pohon rantau diharapkan akan menjadi tradisi adopsi pohon orang-orang rantau di berbagai tempat di Indonesia,” kata Ketua Gerakan Kebaikan Indonesia, Nusantio Setiadi. “Rayakan penanaman pohon, rayakan kebaikan.”

Untuk itu, tanam dan budidaya pohon untuk kelestarian lingkungan jelas tidak cukup dilakukan sekali saja. Butuh kreativitas agar program pohon rantau bisa terus bergulir. Teman-teman di luar negeri demi mengumpulkan donasi untuk adopsi pohon juga melakukan berbagai hal unik memanfaatkan komunitas-komunitas orang-orang Indonesia yang ada di berbagai kota dan negara, hingga berhasil mengumpulkan 910 pohon.

Banyak yang menarik dari cerita di balik layar dalam mengumpulkan para adopter pohon rantau hanya dalam waktu sekitar satu bulan –sejak program ini diluncurkan, yaitu pada 10 Januari 2016, bertepatan dengan peringatan Hari Tanam Pohon. Diorganisir oleh Koordinator GKI Luar Negeri, Indah Morgan dan Eva Reinhard, teman-teman yang tinggal di Eropa berkumpul di Milan, Italia untuk sosialisasi sekaligus mengumpulkan para penyumbang pohon rantau. Kelompok yang mayoritas terdiri dari para perempuan itu sempat diterima Duta Besar Indonesia di Italia, August Parengkuan pada pertengahan Februari lalu.

Dari Belanda, Kapten Klub Sepakbola Utrecht, Mark van der Maarel, yang memiliki darah Indonesia, melelang jersey bertandatangan beberapa pemain klub sepak bola tersebut untuk dana adopsi pohon rantau. Sedangkan benua paling selatan, Jaringan Diaspora Indonesia (IDN) Australia yang dikomandani Rudolf Wirawan, memberi tajuk pohon rantau dengan Kangpohon: 1000 Trees for Indonesia. Menurut Rudolf program ini layak diteruskan dengan kerjasama makin banyak pihak.

Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Siti Nurbaya pun memberi apresiasi terhadap pohon rantau. Menteri Siti yang mengikuti acara tanam di Desa Sukatani pada 14 Februari 2016 menyebut bahwa program ini sangat baik, membuktikan diaspora Indonesia mendukung lingkungan berkualitas. “Saya akan bicara dengan Menteri Luar Negeri dan semua KBRI kita di dunia,. Kita dorong terus inisiatif adopsi yang sangat bagus ini,” jawaban Menteri Siti secara tertulis. (BB)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here