Perjalanan Ke Baduy Dalam

Memasuki Kampung Desa Baduy Kanekes

Perjalanan Ke Baduy Dalam
Oleh
Galih Permata
Rasa penasaran akan adanya suatu suku yang sangat memegang erat adat dan tidak terpengaruh dengan pengaruh perubahan tehnologi membuat saya ingin sekali mengunjungi suku Baduy.

Ada tiga perkampungan di BaduyDalam ;
1. Cibeo
2. Cikeusik
3. Cikartawana

Dari Tiga perkampungan tersebut kami memilih untuk mengunjungi Cikeusik, desa yang paling tua disana.
Kami tiba menjelang maghrib, duduk2 dulu diteras sambil ngobrol dengan pak Erwin tanya sana sini perihal kehidupan masyarakat BaduyDalam.
Setelah hari gelap kami masuk kedalam rumah dan dinyalakan lampu kecil dari bambu yang menggunakan sumbu dengan bahan bakar minyak goreng.
Biasanya lampu hanya dihidupkan saat mereka belum tidur, apabila akan tidur lampu dimatikan semua termasuk perapian. menurut kepercayaan kalau tidur harus gelap.
Malam hari kami ingin pipis diantar oleh Lilis cucu pak Jaro ke sungai, semua suasana sekitar gelap gulita dan kami hanya membawa kayu yg masih ada baranya dan saya menyalakan lampu HP, aduh gelap bok kalau gak lihat bawah sandal bisa masuk kelumpur.

Kami bermalam di rumah seorang sesepuh disana yang bernama pak Jaro Alim.
Sebenarnya nama Jero Alim adalah nama anak pertama beliau, nama aslinya sendiri tidak boleh untuk diucapkan / dianggap tidak sopan.
Menurut cerita terkadang anaknya sendiri tidak tahu nama ayahnya karena mereka pamali untuk menyebut nama asli ayahnya.

Penamaan juga hanya satu kata, apabila ada nama yang sama mereka membedakannya dengan si anu.. utara, si anu selatan atau si anu timur… bila lebih dari empat si anu tengah… si anu kakaknya si…. Padahal si anu itu (bukan menyebut nama asli tapi nama anak pertamanya).

Masuk kedalam wilayah ini harus mendapatkan pengawalahn dari seorang mantan suku baduy dalam dan harus mematuhi peraturan setempat, diantaranya :
– Dilarang menghidupkan gadget selama berada disana.
– Dilarang bersuara gaduh, berisik, bernyanyi, dll
– Hanya menerima kaum muslimin dan tidak untuk non muslim dan suku asing lainnya (Bule, Chines, dll).
– Tidak menggunakan accessories yang berlebihan, pergunakan baju yang sopan dengan warna soft dan tidak bercorak aneka ragam.spt bergambar (pergunakan yang polos).
– Dilarang untuk memotret dan merekam video di dalam kawasan Badui Dalam.
Segala bentuk mengexpose gambar dengan mencuri dari atas udara misalnya melalui drone.

Segala bentuk pelanggaran akan mengalami sangsi dari leluhur, bentuknya bisa sakit sampai meninggal dunia.
Kebetulan saya kali ini kesana diajak oleh mb Lilik yang biasa menemani saya bila blusukan ke gunung2.. awalnya kami tidak diberikan penjelasan secara details, hanya begitu memasuki wilayah HP dan camera diminta untuk dimatikan.

Setelah kami makan malam, tiba-tiba Willy anak mbak Lilik mual, pusing yang sangat setelah dia berbaring tidur disamping perapian yang berada dalam bilik kamar dan bukan bilik ruang tamu.
beliau bilang yang boleh masuk kesitu hanya keluarga pemilik rumah, tamu tidak boleh masuk… saya beri willy obat sakit kepala namun katanya tidak bereaksi, bahkan malam hari demam tinggi dan mengigau.. kebetulan saya mendengar saat dia mengigau.

Pagi harinya dia masih demam dan tidak bersedia untuk mandi dikali saat kami minta untuk membersihkan diri.

Saat pagi hari kami bertemu dengan bapak Puun kepala suku di kampung tersebut, saya menanyakan apa saja yang dilarang kepada ki para pendatang dari luar ? setelh dijelaskan semuanya ternyata ada bagian yang kami langgar, dan kami baru mengetahuinnya saat itu.. Mbak Lilik sekeluarga adalah beragama Kristen.

Willy bercerita bahwa saat tidur didekat perapian dalam kamar dia didatangi seorang wanita sambil tersenyum dan malam harinya didatangi lagi oleh seseorang dan seekor kucing katanya.
Menurut pak Erwin, apabila tersenyum itu masih bagus hanya sakit namun bila dalam mimpi tsb leluhur menunjukkan kemarahan bisa berakibat meninggal dunia.

Akhirnya kami minta maaf kepada bapak kepala Adat / Pak Puun dan menurut beliau nanti setelah keluar dari wilayah Baduy dalam akan sembuh dengan sendirinya.

Begitu kami mencapai wilayah Baduy luar kami bertemu dengan para bidan yang sedang bertugas disana dan Willy diberi obat.

Baduy Dalam adalah wilayah suci yang tidak boleh dimasukin oleh sembarang orang dan harus mengikuti aturan setempat.

Kami tiba disana menjelang magrib, sambil ngobrol diteras kami banyak bertanya-tanya perihal kehidupan masyarakat setempat, mulai dari mata pencarian, sampai cara berpakaian, memakai ikat kepala dan kebersihan lingkungan.

Masyarakat Baduy Dalam beragama Islam Kawitan, berkiblat pada ajaran nabi Adam dan bukan nabi Muhammad SAW, menurut pak Erwin mereka tidak melakukan sholat 5 waktu dan tidak puasa Ramadhan, namun ada puasa dalam 3 bulan setiap bulannya hanya sehari.

Kawasan disana sekitar 5165 ha, 2000 digunakan untuk pemukiman dan ladang (sawah padi gogoh / sawah tadah hujan) dan 3000 ha untuk wilayah konservasi hutan lindung.
3000an untuk kawasan hutan lindung.

Cara bertanam padinya berpindah2 dengan cara membakar wilayah yang akan ditanami, lalu digunakan sawah tsb sampai panen dan kemudian dibiarkan sawah tersebut hingga 5 th untuk kemudian bisa dipakai kembali.
Selain padi yang boleh ditanah adalah ubi jalar dan talas, untuk buah2an pisang dan durian. Selain itu untuk sayuran dan cabe hanya ditanam sedikit2 saja seperlunya.

Mereka tidak boleh beternak sapi dan kerbau namun boleh makan daging sapi dan kerbau, memelihara ayam juga hanya seperlunya saja yang kira2 cukup untuk dikonsumsi, tidak boleh beternak dalam jumlah besar.

Tidak dibolehkan menggunakan sabun untuk mencuci atau mandi, untuk mencuci pakaian cukup dengan air saja atau menggunakan klerak.
Pada umumnya pakaian yang digunakan lebih domian ke warna putih. ada juga yang dikombinasi dengan warna hitam, namun tidak ada yang memakai warna hitam semuanya kecuali masyarakat Baduy luar.
Warna putih dari pakaian mereka lama kelamaan menjadi kehijauan karena terkena lumpur.
Tidak boleh menggunakan sandal sehari-harinya, begitu sampai ke dalam rumah mereka mencuci di ember yg diberi air dan diletakkan di teras rumah, namun beberapa kali saya perhatikan mereka masuk begitu saja.

Menggosok giginya hanya menggunakan jari atau menyirih / nginang dlm bahasa Jawanya.
Pagi hari saya mencoba mandi di kali di area wanita, jadi pemukimannya diapit oleh dua sungai, satu sungai yg dekat dengan tempat menginap kami khusus untuk wanita dan sungai satunya lagi yg mana lebih dalam, ini khusus untuk laki laki.

Wah sensasi mandi di kali jadi kikuk… menurut mbak Lilik yg tukang mbolang, bila kita berada disuatu pedesaan diusahakan mandi air setempat, katanya bisa bikin awet muda, he he… makanya begitu diajakin mandi di kali mau aja… tapi mata waspada celingukan sana sini, aduh koyo Joko Tarub.

Pertanyaan saya masalah pendidikan ;
Guru adalah masing-masing orang tua, mereka yang mengajarkan cara berhitung, sopan santun, cara bertanam, cara menjahit, cara memasak, dan lain-lain.
Mereka tidak diajari cara menulis, semuanya dengan hafalan dan daya ingat.
Pak Erwin kalau ke Jakarta mau ke suatu wilayah bisa membaca papan di jalan tol, misalnya CAWANG, namun beliau tidak bisa menulis… tapi SMS di HP bisa, he he.. sudah ber WA ria dengan saya.

Sementara untuk ilmu kanuragan ada guru khusus yang melatih konsentrasi dan ketajaman pikiran. Dengan merem mereka dapat melakukan sesuatu tanpa miss, misalnya melewati jembatan penyeberangan.
Hal ini masuk dilogika karena disana kalau malam sangat gelap gulita tanpa penerangan mereka terlatih untuk melakukan sesuatu dalam kegelapan.

Pak Erwin pemandu kita sepuluh tahun yang lalu keluar dari wilayah Baduy Dalam dan sekarang tinggal di Luar Baduy, isteri pertamanya diceraikan karena tidak mau ikut keluar wilayah dan sampai sekarang belum menikah lagi, kepercayaan masyarakat Badui dalam sekali menikah sampai mati, jadi tidak ada perceraian, sementara pak Erwin sudah menikah lagi dengan wanita dari Baduy luar dan mempunyai anak 2. Isteri pertama dan satu anaknya tinggal di Baduy Dalam, begitu juga dengan kedua orang tuanya. Oleh karena itu pak Erwin masih bolak balik masuk ke wilayah Badui dalam.
Masyarakat Baduy Dalam maksimal 3 hari bisa keluar dari wilayahnya, setelah itu harus kembali, biasanya mereka keluar untuk membeli bahan makanan (gula aren, ikan asin, garam) atau bahan2 lainnya seperti kain, lbenang, ilin,

Masayarakat Baduy mengenal 3 wilayah :
1. Baduy Dalam,
2. Baduy luar,
3. Luar Baduy.

Masyarakat Baduy Dalam dan Baduy Luar tidak membolehkan kendaraan bermotor masuk ke wilayahnya. Hal ini bisa dilihat dengan jalan-jalan di kampung yg sempit hanya cukup dipakai jalan kaki berpapasan.
Apabila suatu daerah disana jalanan kampungnya bisa dilewati kendaraan bermotor berarti sudah Luar Baduy.

Wanita BD tidak menggunakan accessories, perhiasan yang digunakan emas atau monte2… jadi mereka akan senang sekali bila diberi oleh2 monte atau manik2.

Kebiasaan makan mereka, nasi panas dimakan dengan gula aren terkadang dicocolin garam, lauknya ikan asin..
Saat kami disana disajikanlah ikan asin tersebut namun gak dikasih sambal… ohhh kasihan deh saya.yg nota bene suka ikan asin dengan sambal.
Kalau malam hari mereka tidak makan terlalu banyak.

karena selama kami disana membawa makanan ringan, sosis siap makan dan telur asin, lalu sampah2nya dikumpulkan dikantong, pagi harinya sampah2 plastik dan tisue tsb dibakar.
Walaupun tanah terbuka dimana mana disekitar rumah mereka tidak ada sampah berserakan di luar rumah. Malahan dikawasan Baduy luar banyak sampah2 plastik, gelas plastik, bungkus makanan berserakan. 
Masyarakat Baduy Dalam sangat menjaga kelestarian alam dan kebersihan, mereka mengganti pakaiannya sesuai kebutuhan, misalnya untuk berladang dan untuk tidur tidak sama.

Jam 7 pagi suasana perkampungan sangat sepi, rupanya bapak2nya sudah pergi ke ladang, dan ibu2nya sibuk didapur.
Benar-benar suasana yg sangat sunyi walau rumah mereka satu sama lain saling berdekatan… mereka bicara sangat pelan dan lembut, menurut informasi selama disana pak Erwin tidak pernah mendengar ada keributan, perkataan yg keras atau pertengkaran, baik itu di dalam keluarga sendiri maupun dengan tetangga… sangat tenteram dan damai..
Ini dikarenakan juga mereka belajar ilmu mengolah emosi dan menghormati orang lain dan sangat santun, saya melihat sendiri kesantunan anak-anak disana.

Galih Permata

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here