Perekonomian Indonesia 2021, Mendayung Di Pusaran Ancaman Global

Oleh

Lio Kurniawan
(Mahasiswa Pasca Sarjana UI Sekolah Kajian dan Stratejik Global
No.Mahasiswa 2006612886)

Kini Ibu sedang lara,
Merintih dan berdoa….

(Ibu Pertiwi, Ismail Marzuki)

Pandemi Covid-19 bagaikan pukulan telak tak terduga yang membuat sempoyongan perekonomian global. Indonesia bahkan masuk ke ambang resesi walaupun berbagai upaya kebijakan stimulus ekonomi telah dilakukan. Penghentian berbagai kegiatan ekonomi telah menghilangkan sekitar 5,5 juta lapangan kerja. Pertumbuhan ekonomi kwartal-II 2020 (Q2-2020) memburuk dari Q1-2020 minus 2,97% menjadi minus 5,32% (Sumber:BPS). Imbasnya adalah peningkatan jumlah karyawan yang dirumahkan serta pemutusan hubungan kerja (PHK) berakibat naiknya angka pengangguran terbuka mencapai lebih dari 10 juta orang per September-2020. Jumlah penduduk miskin meningkat hingga 26,5 juta orang. Dari sisi fiskal, penurunan penerimaan tak terhindarkan sementara belanja negara untuk menangkal pandemi covid-19 maupun stimulus ekonomi terus meningkat untuk menjaga putaran roda ekonomi. Hingga Juli 2020 defisit APBN telah mencapai Rp 330,2 triliun atau 2,01 persen dari produk domestik bruto (PDB). Pendapatan negara hanya mencapai Rp 922,2 triliun, sedangkan posisi belanja negara meningkat mencapai Rp 1.252,4 triliun. Hal ini memaksa Pemerintah melakukan kebijakan deficit financing dengan beban utang yang semakin besar melalui Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020 tentang Kebijakan Keuangan Negara dan Stabilitas Sistem Keuangan untuk Penanganan Pandemik Corona Virus Disease 2019. Perppu ini memperbolehkan kebijakan fiskal menjadi fleksibel, yakni defisit dapat melebihi aturan fiskal, di atas 3 persen PDB paling lama hingga akhir tahun anggaran 2022, berarti boleh utang lebih banyak. Ancaman terhadap ketahanan ekonomi semakin nyata.

Peran Penting Investasi pada masa pademi dan dalam menghadapi pertumbuhan ekonomi 2021.

Pertumbuhan ekonomi biasanya selalu dikaitkan dengan iklim bisnis yang subur. Namun kenyataanya, hal ini juga tidak lepas adanya peran investasi dalam pemulihan ekonomi di Indonesia. Bila dilihat lebih mendalam, di tangah kondisi pandemi seperti ini investasi sendiri merupakan akar dari segala upaya demi memulihkan dan menumbuhkan perekonomian di Indonesia. Apabila ingin memprediksi atau menganalisis kondisi ekonomi Indonesia, baik di tahun 2020 maupun di tahun 2021, maka hal yang perlu diketahui adalah angka pertumbuhan ekonomi terkini, peran investasi, serta upaya yang sudah dilakukan pemerintah. Sebab Indonesia merupakan pasar yang besar yang menarik bagi investor.

Berdasarkan data dari para pengusaha yang berinvestasi di Indonesia, kendala terbesar yang dihadapi adalah masalah birokrasi, perizinan, kepastian, peraturan overlapping dan juga kebijakan antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah yang belum harmonis. Hal ini harus disempurnakan sehingga diharapkan akan lebih banyak investasi masuk ke Indonesia dan juga menyempurnakan ease of doing business kita agar peringkat makin naik. Oleh sebab itu diperlukan adanya strategi pemerintah dalam meningkatkan serta mendongkrak investasi. Yakni penyederhaan perizinan menjadi kunci untuk memudahkan investasi masuk.

Berdasarkan data dari BKPM diketahui diketahui 5 (lima) negara asal PMA dengan realisasi investasi terbesar adalah Singapura (US$2,7 miliar, 40,0%); R.R. Tiongkok (US$1,3 miliar, 18,9%); Hongkong, RRT (US$0,6 miliar, 9,3%); Jepang (US$0,6 miliar, 8,9%) dan Malaysia (US$0,5 miliar, 7,1%). Realisasi investasi (PMDN & PMA) pada periode ini didominasi oleh sektor Transportasi, Gudang, dan Telekomunikasi (Rp49,3 triliun, 23,4%); Industri Logam Dasar, Barang Logam, Bukan Mesin dan Peralatannya (Rp24,5 triliun, 11,6%); Listrik, Gas dan Air (Rp18,0 triliun, 8,6%); Perumahan, Kawasan Industri dan Perkantoran (Rp17,8 triliun, 8,4%), serta Tanaman Pangan, Perkebunan, dan Peternakan (Rp17,2 triliun, 8,2%).

Pemerintah saat ini juga telah memberikan berbagai kebijakan yang semakin memudahkan jalannya investasi di Indonesia, seperti pemberian insentif pajak, bantuan perihal kredit dan penjaminan,

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here