Pengalaman Abellia Anggi Raih Beasiswa Internasional

Abellia Anggi Wardani

Impian untuk mengejar pendidikan keluar negeri merupakan impian semua orang, namun Tidak semua orang seberuntung Abellia, dara bernama lengkap Abellia Anggi Wardani itu sudah keliling dunia berkat beasiswa. Tak tanggung-tanggung, sepuluh beasiswa diborongnya sekaligus.(Jawapos)

TIDAK pernah terlintas sedikit pun di benak perempuan kelahiran Ambarawa, 12 Desember 1989, itu untuk bisa kuliah di luar negeri. Terlahir dari keluarga sederhana, Abellia sulit membayangkan dapat mengenyam pendidikan tinggi, apalagi di negara lain.

Ketika itu, Abellia hanya mempunyai impian kuliah di Universitas Indonesia setelah lulus SMA pada 2007. Itu pun impian yang dianggapnya sulit terwujud. Namun, hal tersebut tak mematahkan semangatnya. Dia mencoba menggunakan jalur tes penelusuran minat dan kemampuan (PMDK), yaitu jalur tanpa tes untuk mendaftar ke Prodi Prancis Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia.

“Ya, saat itu, hanya ada dua pilihan jurusan lewat PMDK, bahasa Rusia dan bahasa Prancis, pengin aja bisa menguasai bahasa Prancis karena sepertinya akan lebih berguna dibanding bahasa Rusia. Walaupun kenyataannya saya sangat minim sekali dengan penguasaan bahasa tersebut, benar-benar belajar mulai dari nol,” kata perempuan yang memiliki hobi membaca novel itu.

Kerja kerasnya berbuah manis. Impiannya terwujud. Apalagi Abellia bisa diterima di jurusan yang diimpikan di Universitas Indonesia. Tanpa berpikir panjang, dia hijrah ke Kota Depok, Jawa Barat.

Di sana, Universitas Indonesia, Abellia tinggal di asrama kampus. Sebab, dia tidak mempunyai sanak saudara di Depok. Selain itu, sebagai anak dari daerah dan masuk UI melalui jalur PMDK, dia mendapat prioritas untuk tinggal di asrama. Di sana pula, dia merasa senasib dengan anak-anak daerah lain yang terasa berat membayar sewa kos yang jauh lebih mahal daripada asrama.

Hal itu tidak menjadi masalah besar bagi Abellia. Kegigihan serta kerja keras yang dilakukannya jauh lebih berat daripada harus tinggal di asrama. Lagi pula, hidup di asrama dinilai sangat menyenangkan. Dia bisa berkumpul dengan mahasiswa perantau dari wilayah lain.

Sikap mudah bergaul telah tertanam di dalam diri Abellia. Dia sangat mudah bergaul dengan orang yang baru dikenal. Selama di asrama bersama teman seperjuangan, topik beasiswa sering diperbincangkan. Misalnya, beasiswa kampus hingga beasiswa kuliah di luar negeri.

Tidak hanya membicarakan beasiswa, Abellia bersama teman-temannya kala itu melakukan perbincangan hot, yaitu berkeliling ke luar negeri. Khususnya negara di Eropa. “Dari obrolan itu, timbul keinginan baru di dalam diri saya untuk bisa berkeliling ke negara di Eropa,” ujar perempuan 26 tahun tersebut.

Abellia menyadari, menggapai hal itu tidak mudah. Diperlukan biaya besar untuk mendapatkannya. Namun, bukan seorang Abellia jika tidak bisa menaklukkan tantangan itu. Masih banyak jalan menuju Roma.

Abellia sibuk mencari program beasiswa ke luar negeri. Dia menggali informasi dari mana saja. Media sosial, lembaga pendidikan, para kerabat, serta para pengajar. Dari pencariannya, informasi beasiswa yang diinginkannya itu didapat. Beasiswa ke luar negeri pertamanya merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Prancis UI dan Universite d’Angers, Prancis. Kesempatan tersebut tidak disia-siakan Abellia.

Dia berjuang mendapatkan kesempatan itu dengan bersaing bersama teman-teman seangkatan untuk dipilih sebagai penerima beasiswa. Agar usahanya berjalan lancar, Abellia melakukan berbagai persiapan. Proses yang ditempuh pun cukup berliku-liku. Sebab, ada tiga beasiswa yang perlu didaftarkan. Yaitu, beasiswa untuk uang sekolah, beasiswa untuk hidup sehari-hari, dan beasiswa bantuan perjalanan.

Kesempatan emas itu bisa didapat. Abellia mendapat beasiswa unggulan dari Kemendikbud dan Bourse du Gouvernement Francais dari Kedutaan Prancis. Selain itu, bantuan keberangkatan ke luar negeri dari Kemendikbud. Akhirnya, dia berhasil berangkat ke Prancis untuk belajar mengenai manajemen pariwisata selama setahun. “Waktu kuliah di Prancis itu tahun 2011. Saya mendapat double degree. Yaitu, Sastra Prancis UI dan Manajemen Pariwisata Universite d’Angers,” paparnya.

Setahun setelah mendapat gelar S-1, Abellia memutuskan melanjutkan studi ke jenjang magister di Belanda. Tepatnya di Tilburg University dengan studi di Fakultas Management Of Cultural Diversity. Alasannya memilih Belanda adalah ingin mempelajari budaya baru. Selain itu, merasakan kuliah dengan sistem berbeda saat di Prancis.

Perjalanan menempuh gelar magister di Belanda tidak seperti yang dibayangkan sebelumnya. Kegagalan dirasakan Abellia ketika ditolak pihak Kemendikbud atas beasiswa unggulan. Padahal, dia sangat berharap untuk bisa mendapatkannya. “Saya yakin dapat saat itu karena belajar dari pengalaman sebelumnya,” ucapnya. Namun, hal tersebut tidak membuat dirinya patah semangat. Untuk menyelesaikan masalahnya, dia berusaha berkonsultasi dengan pihak Tilbur University untuk menanyakan peluang bantuan pendanaan studi.

Saat bersamaan, kondisi itu sempat membuat Abellia terpuruk. Sebab, dia datang ke Negeri Kincir Angin hanya bermodal nekat. Tidak punya saudara atau teman dan uang simpanan yang sangat minim. Ketika itu, dia tidak mungkin pulang. Selain merasa malu, lagi-lagi faktor biaya terus menyelimutinya.

Untuk bertahan hidup, Abellia mencari pekerjaan. Namun, mencari pekerjaan di Belanda tidak mudah. Selain kebijakan pihak universitas untuk mempersulit mahasiswa asing untuk bekerja part time, agak susah mencari pekerjaan sambilan jika tidak dibekali dengan kemampuan berbahasa Belanda. “Frustrasi, kecewa, sedih, campur aduk menjadi satu ketika itu,” paparnya. Keterpurukan itu menyelimutinya cukup lama. Semangat mengejar cita-citanya sempat lenyap menghilang begitu saja di jati dirinya.

Sikap putus asa tidak boleh bertahan pada diri Abellia. Tiba-tiba, dia mengingat kembali perjuangan sampai di Belanda. Khususnya meyakinkan orang tua untuk melepas anaknya pergi ke negeri tersebut. Waktu itu, orang tuanya kurang menyetujui jika Abellia kuliah di Belanda karena beasiswa yang belum jelas. Selain itu, dia akan sendirian di sana. “Dan, saya berusaha meyakinkan mereka (orang tua, Red) dengan selalu memberikan kabar serta menjaga diri,” ujar warga Srengseng Sawah, Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Semangat perjuangan seketika datang kembali. Informasi mengenai beasiswa dicari lagi. Pencarian itu dilakukan dengan cara lama. Abellia mendapat informasi dari salah seorang dosen di Tilburg University soal peluang mendapat fellowship dari Frans Seda Foundation.

Pendaftaran dilakukan. Ketika itu, pihak pemberi beasiswa meminta rencana tesis yang akan dibuat Abellia. Tebersit di pikiran Abellia bahwa dirinya tertarik dengan kehidupan warga permukiman padat Bukit Duri, Jakarta Selatan, untuk menjadi bahan penelitian. “Aku pun memutuskan pulang ke Indonesia dan melakukan penelitian di Bukit Duri,” tuturnya.

Hasil riset tersebut dikemas dengan sangat menarik dalam program studinya. Dengan tenang dan percaya diri, Abellia mempresentasikan hasil penelitiannya dan lulus dari Belanda dengan predikat cum laude. Dia merupakan lulusan terbaik kedua di program studi management of cultural diversity di angkatannya.

Selama setahun, Abellia sangat menikmati hidupnya di Belanda. Impian bisa berkeliling dunia pun mulai dinikmatinya. Setiap libur musim panas, dia menyempatkan waktu untuk menghampiri satu per satu negara di Eropa. Sepuluh negara di Eropa telah berhasil diinjaknya. ’’Tujuan liburan itu tidak hanya bersenang-senang, tetapi untuk mengetahui budaya masyarakat di negara itu,’’ katanya.

Setelah mendapat gelar magister pada 2014, Abellia kembali ke Indonesia. Di Indonesia, dia bekerja sebagai pengajar di Program Studi Prancis Universitas Indonesia. Dia menjadi salah seorang pengajar muda di kampus kuning tersebut.

Selain itu, Abellia bersama beberapa temannya mendirikan sebuah start-up yang bernama www.kelasbahasa.com. Tujuannya, mempertemukan guru bahasa dan murid yang ingin belajar bahasa asing. Platform tersebut juga memberikan program beasiswa kepada guru di daerah terdepan, tertinggal, dan terluar Indonesia untuk belajar bahasa asing.

Hingga saat ini, sekitar sepuluh guru mendapat pengajaran gratis. Guru-guru tersebut bertugas di wilayah terpencil. Misalnya, di wilayah Indonesia Timur seperti NTT, Sangihe, dan Kalimantan Barat.

Hasil yang telah didapat belum membuat Abellia puas. Pada 2016, dia melanjutkan studi ke jenjang doktor di universitas yang sama di Belanda. Dia mendapat beasiswa dari Lembaga Pengelola Dana Pendidikan (LPDP). Jika lulus, dia merupakan doktor Indonesia pertama di bidang management of cultural diversity.

Pengalamannya pun dijadikan suatu buku. Buku itu berjudul Meraih Mimpi dengan Beasiswa. Buku tersebut berisi tentang cara mendapat beasiswa. “Semoga buku ini bisa bermanfaat oleh semuanya. Saya berpesan kerja keras dan keberanian bisa diterapkan generasi muda. Saya bisa karena saya berani apply beasiswa,” tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here