Penemu Baterai Ramah Lingkungan Antarkan Pelajar Sidoarjo Raih Gelar Juara Nasional

- PENELITI MUDA: Era (kanan) dan Ihya menunjukkan baterai ramah lingkungan dan trofi yang mereka menangkan dalam ajang Epsilon 2017 di UGM.

Karya mereka memang luar biasa. Kreatif sekaligus bermanfaat. Bisa dikembangkan sebagai pengganti pasta kimia dalam baterai yang sangat berbahaya bagi kesehatan dan lingkungan,  Ihya Ulumudin dan Era Sukowati pelajar Sidorajo ini berhasil meraih prestasi nasional.

Ihya Ulumudin dan Era Sukowati lantas mengeluarkannya satu per satu. Sekilas bentuknya tidak berbeda dengan baterai konvensional yang dijual di pasaran. Ukurannya seperti yang biasa dipakai untuk remote control. isi dalam baterai tersebut sudah diubah total oleh Ihya dan Era. Untuk membuktikannya, mereka mengeluarkan beberapa bahan utama dalam pembuatan biobaterai tersebut. Misalnya, serbuk daun ketapang kering dan cangkang telur asin. ’’Ini semua sudah dihaluskan. Kami blender,’’ kata Ihya sambil menyodorkan dua serbuk tersebut kepada Jawa Pos di ruang guru SMAN 3 Sidoarjo pada Selasa (11/4).

Daun ketapang kering yang sudah diblender itu terlihat seperti serabut kelapa. Namun, lebih lembut. Cangkang telur asin seperti tepung. Dua bahan baku tersebut bisa menghantarkan listrik. Untuk memadukan keduanya, Ihya dan Era menambahkan garam sebagai elekrolitnya. Tiga bahan itu dicampur dengan komposisi yang pas sehingga bisa menghantarkan listrik.

Ihya dan Era yang kini duduk di kelas X memberi nama inovasi tersebut Baterhy. Yakni, biobaterai dari cangkang telur asin dan daun ketapang. Ini adalah terobosan baterai ramah lingkungan. Validitasnya sudah teruji. Bahkan, karya tersebut menjadi juara (peringkat I) dalam ajang Engineering Physic for Environmental Innovation (Epsilon) 2017 di Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 6–9 April lalu.

Mereka berhasil mengalahkan peserta dari berbagai kota. Di antaranya, Bali, Kalimantan, Semarang, Magelang, Pasuruan, Bekasi, dan Jombang. Hal itu tentu membuat bangga Ihya dan Era serta seluruh siswa dan guru di SMAN 3 Sidoarjo. ’’Senang sekali. Ini kemenangan pertama kami berdua,’’ ungkap Era, lantas tertawa.

Meraih prestasi hingga juara karya ilmiah memang membutuhkan perjuangan yang sangat besar. Ihya dan Era merasakan betul. Sebelumnya, mereka beberapa kali mengikuti berbagai perlombaan karya ilmiah. Namun, mereka belum pernah menang. Bahkan, sering tidak lolos seleksi tahap awal.

Namun, hal tersebut tidak membuat Ihya dan Era putus asa. Semangat mereka justru semakin berkobar. ’’Ini prestasi yang sangat luar biasa bagi kami. Jadi, lebih semangat lagi ikut lomba penelitian lainnya,’’ ujar Era.

Ide biobaterai tersebut muncul pada Desember tahun lalu. Awalnya, Era sering melihat baterai-baterai konvensional yang sudah tidak terpakai tergeletak begitu saja di rumah. Sebagai siswa jurusan IPA, dia sangat paham betul bahaya baterai konvensional tersebut terhadap kesehatan tubuh dan lingkungan. ’’Di dalam baterai konvensional kan terdapat banyak logam berat,’’ ujarnya.

Pasta kimia di dalam baterai konvensional itu mengandung bahan mangan oksida dan amonium klorida. Keduanya berbahaya bagi kesehatan tubuh dan lingkungan karena mengandung merkuri, kadmium, nikel, dan timbal.

Era mengatakan, nikel bisa mengakibatkan gangguan dermatitis. Kadmium dapat mengakibatkan keracunan makanan. Merkuri juga bisa membuat orang menjadi gila atau bahkan meninggal. Sementara itu, paparan timbal dapat memicu kanker serta abrasi kromosom di sel-sel darah.

’’Saya dan Ihya mencari literatur tentang bahaya baterai konvensional dan memang sangat berbahaya,’’ jelas anak pasangan Machfud dan Sri Dewi Suproborini itu.

Setelah berdiskusi panjang, Era dan Ihya mencari solusi. Mereka akhirnya menemukan banyak limbah daun ketapang kering di sekitar sekolah. Setelah ditelusuri, daun ketapang itu ternyata mengandung asam laktat yang bisa menghantarkan ion-ion dalam garam beryodium.

Mereka juga memanfaatkan cangkang telur asin yang merupakan limbah industri. Gagasan itu muncul karena Sidoarjo memiliki kampung telur asin di kawasan Candi. Cangkang telur asin tersebut mengandung magnesium klorida (MgCL2). ’’Kami ingin mengangkat local wisdom. Jadi, semua bahan yang kami gunakan ditemukan bisa di lingkungan sekitar,’’ sambung Ihya.

Cowok kelahiran Sidoarjo, 9 Juli 2002, itu menambahkan, membuat biobaterai dari cangkang telur asin dan daun ketapang terbilang sulit. Setidaknya membutuhkan waktu sekitar emapat bulan untuk menemukan komposisi yang pas antara daun ketapang, cangkang telur asin, dan garam. ’’Sudah ratusan kali gagal uji coba,’’ ungkapnya.

Ihya dan Era terus menggali literatur resmi dari berbagai sumber. Mulai buku hingga internet. Hampir setiap hari mereka menghabiskan waktu di laboratorium sekolah untuk melakukan uji coba. Sudah tidak terhitung lagi baterai konvensional dan telur asin yang dihabiskan untuk penelitian tersebut. ’’Ada 50-an baterai dan 100 telur asin,’’ kata anak pasangan Nasihin dan Siti Masrukah itu.

Era menambahkan, ketika keluar pengumuman dari panitia lomba bahwa proposalnya lolos 10 besar, orang tuanya ikut gembira. Hampir setiap hari mereka membelikan Era telur asin untuk dikonsumsi di rumah. Cangkangnya dikumpulkan dan dibuat uji coba. ’’Saya sekarang jadi suka telur asin gara-gara penelitian ini,’’ ujarnya, lantas tertawa.

Tidak cukup mengandalkan cangkang telur asin yang dibelikan orang tua. Era dan Ihya pun mencari cangkang telur asin ke sejumlah warung makan. Begitu juga baterai bekas. Mereka selalu meminta teman-temannya membantu untuk memberikan baterai yang sudah tidak dipakai. ’’Kadang kami juga membeli baru sendiri. Terpaksa karena memang butuh untuk uji coba,’’ tuturnya.

Persis H-7 dari final lomba di Departemen Teknik Nuklir dan Fisika UGM, Ihya dan Era baru menemukan komposisi yang tepat. Yakni, dari tiga bahan yang digunakan, perbandingannya 1:1:1. Daya yang dihasilkan pun cukup fantastis. Yakni, 1,38 volt. Baterai konvensional biasanya 1,5 volt. ’’Sebelumnya, kami hanya bisa menghasilkan 0,8 volt. Akhirnya, kami menemukan komposisi yang mendekati voltase baterai konvensional,’’ ungkapnya.

Biobaterai tersebut diuji coba pada lampu belajar. Cahaya yang dihasilkan cukup terang. Keberhasilan itu akhirnya berbuah prestasi. ’’Sekarang kami sedang menyiapkan inovasi baru untuk lomba karya ilmiah berikutnya,’’ tandasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here