Pembangunan Infrastruktur Untuk Kemakmuran Indonesia

Menteri Keuangan Sri Mulyani dalam acara Supermentor20 dengan tema Indonesia’s Great Prosperity Ahead: Will It Happen? Will It Be Yours? di Ballroom Djakarta Theater XXI, Jakarta pada Selasa, (25/07).

Presiden Joko Widodo memfokuskan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) selama 5 tahun kepempinannya untuk pembangunan infrastruktur. Adapun infrastruktur yang dibangun seperti pelabuhan, bandar udara (bandara), jalan, jalur kereta, waduk, irigasi, hingga pembangkit listrik. Tujuan dari pembangunan ini adalah meningkatkan daya saing bangsa terhadap Negara lain, khususnya infrastruktur yang berkaitan dengan peningkatan ekonomi agar tercapai kemakmuran bangsa. Presiden juga menilai, pembangunan dan perkembangan teknologi di dunia sangat cepat. Seperti pembangunan mobil listrik Tesla, pembangunan manajemen ruang angkasa space 8, hingga pembangunan Hyperloop yang memindahkan orang dari satu tempat ke tempat lain dengan cepat. Namun menurut Jokowi, Indonesia masih jauh tertinggal dari berbagai inovasi karena masyarakat Indonesia kerap terjebak pada hal yang tidak produktif seperti demonstrasi dan etos kerja yang rendah.

Sementara itu, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan pembangunan infrastruktur bisa menjadi sarana investasi untuk mengatasi masalah pembangunan, yakni kemiskinan dan kesenjangan sosial. Meski demikian, Sri Mulyani mengakui pembangunan infrastruktur di Indonesia masih membutuhkan peran swasta karena dana pemerintah yang tercantum dalam APBN dan APBD sangat terbatas. Saat ini kebutuhan sarana infrastruktur di Indonesia mencapai Rp 4.796,2 triliun, sementara yang bisa dipenuhi melalui APBN dan APBD di kisaran Rp 1.979,6 triliun (41,3 persen), BUMN Rp 1.066,2 triliun (22,2 persen), dan swasta Rp 1.751,5 triliun (36,5 persen).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati (Menkeu) menegaskan bahwa Indonesia perlu membangun masa depannya mulai dari sekarang.

“Indonesia has a future. Untuk bisa mendapatkan masa depan yang baik, we need to build it now!” tegasnya pada acara Supermentor20 dengan tema Indonesia’s Great Prosperity Ahead: Will It Happen? Will It Be Yours? di Ballroom Djakarta Theater XXI, Jakarta pada Selasa, (25/07).

Ia menyatakan, dalam rangka membangun masa depan tersebut, diperlukan dana APBN yang tidak sedikit atau tidak ada yang gratis. Oleh karena itu ia mengingatkan ke semua yang hadir perlunya kesadaran membayar pajak.

“Kita harus membangunnya dari sekarang. Memang besar biayanya. Tapi tidak ada impian yang tercapai (secara) gratis. Mental gratisan adalah mental yang sangat buruk. Di Republik ada cukup banyak yang punya mental seperti itu. Semuanya mau gratis. (Kita perlu) alokasi pajak dari mereka yang mampu untuk membangun investasi mereka yang tertinggal. Negara harus mengumpulkan pajak. Sekecil apapun pendapatan Anda, Anda harus melaporkan pajak Anda. If you don’t care about your country, jangan pernah expect orang lain akan care about your country,” tegasnya.

Indonesia adalah negara kesatuan yang terdiri dari pulau-pulau. Menurutnya, dengan banyaknya potensi pariwisata, sangat disayangkan konektivitas antar pulau kurang memadai. Oleh karena itu, ia menegaskan bahwa investasi di bidang infrastruktur merupakan kebutuhan. “Indonesia has so many beautiful islands. Tapi connectivity dan aksesnya masih kurang. Invest di bidang infrastructure adalah suatu kebutuhan bukan kemewahan,”Ujar Sri Mulyani.

Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI), Supermentor dan World Bank menggelar seminar ““SUPERMENTOR20 : Will It Happen? Will It Be Yours?” dengan menghadirkan 3 pembicara ternama yakni Dr. Jim Yong Kim (Presiden World Bank), Menteri Keuangan RI Dr. Sri Mulyani Indrawati, Maudy Ayunda (Global Shaper, World Economic Forum), serta Dr. Dino Patti Djalal (Founder FPCI).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here