Pelukis Botani Indonesia yang Karyanya Diakui Dunia, Eunike Nugroho

-DARI HOBI: Eunike Nugroho di studio lukisnya di Jogja. Foto kanan, botol- botol wine produk Spanyol dengan gambar karya Eunike pada labelnya.

Melukis tanaman mungkin bagi sebagian kita bukanlah pekerjaan yang membutuhkan kesabaran Namun, bagi Eunike Nugroho, seni botani adalah passion-nya. Dia pun menjadi satu-satunya wakil Indonesia dalam pameran 15th International Exhibition of Botanical Art & Illustration di AS.

Salah satu pameran seni dan ilustrasi botani terbesar di dunia, 15th International Exhibition of Botanical Art & Illustration, berlangsung di Pittsburgh, Amerika Serikat, 15 September–15 Desember 2016. Ada 43 karya dari 43 seniman dan ilustrator botani dari 15 negara yang dipamerkan dalam ajang tiga tahunan itu.

Di antara 43 seniman tersebut, terdapat nama Eunike Nugroho. Dia merupakan satu-satunya pelukis botani dari Indonesia dalam event itu. Bagi perempuan yang biasa dipanggil Keke tersebut, mengikuti pameran itu seolah mimpi di siang bolong.

Sebab, saat mulai menyelami seni lukis botani sekitar empat tahun lalu, tidak pernah terpikir dalam benak Keke akan memamerkan karyanya. Apalagi ini pameran internasional.

’Saya mengawali seni ini sebagai hobi. Untuk mengisi waktu. Tidak lebih dari itu,’’ kata Keke ketika ditemui di rumahnya di Jogja pekan lalu.

Kenyataannya, karya Keke berhasil mencuri perhatian Hunt Institute for Botanical Documentation, penyelenggara pameran itu. Dia direkomendasikan komunitas seniman botani di Sheffield, Inggris. Tak heran bila kemudian Keke terkejut mengetahui bahwa pameran tersebut berlevel dunia.

Keke mengungkapkan, di tempat acara, Pittsburgh, AS, dirinya bertemu peserta konferensi dari berbagai negara. ’’Saya diperkenalkan sebagai peserta pameran yang diprakarsai Hunt. Mereka pun lalu ngasih selamat dengan antusias.’’

Meski begitu, Keke tetap belum menyadari bahwa pameran seni botani itu sekeren yang dikatakan para peserta konferensi yang ditemuinya. ’’Ada yang bilang, kamu tuh di langit. Dan, kami mesti memandang ke atas sana, pengin juga seperti kamu,’’ ungkap Keke menirukan ucapan seorang peserta konferensi.

International Exhibition of Botanical Art & Illustration sudah berlangsung sejak 1960-an. Pameran itu merupakan satu di antara dua pameran seni botani terbesar di dunia. Satu lagi ada di London. Pesertanya hanya punya satu kesempatan tampil. Kalau sudah di AS, dia tidak bisa ikut pameran di London.

Karena itu, Keke tidak mau menyia-nyiakan kesempatan langka tersebut. Sebagai satu-satunya peserta dari Indonesia, dia membawa misi untuk mengenalkan flora Indonesia ke mata dunia. Anggrek jadi pilihan.

Dia lalu berburu anggrek di kawasan wisata Kaliurang, Sleman, Jogjakarta. Ada tiga lukisan anggrek yang diusulkan Keke ke penyelenggara. Namun, hanya satu karya yang dipilih.

Keke merasa makin tersanjung karena digolongkan seniman botani newbie (pendatang baru) yang terpilih dalam pameran tersebut. Dia baru empat tahun mendalami seni tersebut.

Keke adalah alumnus Desain Komunikasi Visual (DKV) Universitas Sebelas Maret (UNS) Surakarta. Dia pun dengan bersemangat menyimak materi demi materi. ”Di sana, jenis kertas lukisan cat air beda. Kuasnya juga beda. Harusnya kayak gini dari dulu,” katanya.

Di Eropa, kegiatan melukis tanaman sudah biasa. Taman-taman di Eropa juga memberi kesempatan orang-orang yang ingin belajar melukis tanaman. Keke mengatakan, melukis botani merupakan tradisi yang ada sejak zaman kolonial di Eropa.

”Saat menjajah negara lain, mereka juga mencatat tanaman apa yang bisa diolah menjadi apa. Dan mereka masih melakukan itu sampai sekarang,” ujar Keke.

Dari komunitas tersebut, Keke mengenal seni botani yang ternyata sangat menarik. ”Saya tadinya enggak ngerti cara melukis tanaman. Awalnya lebih ke binatang,” jelasnya.

Minat dan bakat Keke itu kemudian membawanya untuk masuk Jurusan DKV UNS Surakarta pada 1999. Tidak disangka, di jurusan itu Keke justru kehilangan minat melukis. ”Entah kenapa, kalau sudah jadi rutinitas, jadi tugas, malah passion-nya turun,” tutur perempuan berambut pendek tersebut.

Sejak itu, Keke meninggalkan hobi melukisnya. Dia memilih berfokus kuliah, kemudian menyambi bekerja di sebuah perusahaan periklanan di Jakarta. Selama bekerja, Keke tidak pernah lepas dari dunia menggambar. Namun, dia lebih sering menggambar dengan aplikasi. Kuas-kuas lukisnya tak pernah tersentuh.

”Total, mungkin sekitar sepuluh tahun saya enggak melukis,” ucapnya.

Usai tinggal di Inggris Eunike Nugroho menetap di Jogjakarta pada 2014, Keke tergugah untuk mendokumentasikan ragam flora asli Indonesia. Dia sadar bahwa Indonesia punya ragam flora dan fauna yang sangat banyak.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here