Pekerja Migran Indonesia (PMI) Abad 21 Antara Kejujuran dan Jejak Digital

Oleh

Susan Handoyo

Pekerja Migran Indonesia (PMI) Tiongkok

Umumnya Pekerja Migran Indonesia (PMI) yang bekerja pada sektor domestik di Tiongkok adalah perempuan yang rentan terhadap kesepian, kesedihan serta kesendirian. Akibatnya mudah tergoda dan terhalusinasi dengan kehidupan yang serba cepat untuk mendapatkan uang, kekayaan dan cepat mendapatkan pasangan hidup agar bisa bahagia.

Pengamatan saya, selama bekerja sebagai PMI di negara panda, meskipun tidak bisa akses FB & IG, tetap bisa nampang di sosial media versi RRT bernama WeChat. Untuk bisa akses FB & IG harus menggunakan VPN (Virtual Private Network), seolah-olah mengaksesnya dari luar Cina.

Beberapa minggu terakhir, kami sempat dihentakkan dengan berita perkawinan kontrak, hingga penyekapan terhadap salah satu WNI yang menjadi korban kebohongan. Bahasa kerennya “korban perdagangan manusia”.
Si korban melaporkan kepada salah satu petugas pengaduan komunitas PMI di Tiongkok bahwa kondisinya disegap, dipukulin ditempat umum dan tidak bisa akses HP. Secara otomatis, dengan anggapan bahwa bila korban kekerasan telah mengangkat telpon dan menyampaikan kondisinya, maka perlu ditanggapi dengan serius, oleh karena itu tim pengurus bagian pengaduan mengadakan rapat mendadak untuk membahas pembagian tugas atas laporan ini.

Tim pelaporan langsung menghubungi si korban, mendengarkan keluhannya dan mencatatnya untuk kemudian dilaporkan ke kantor perwakilan RI yang terdekat, hal ini akan dilaporkan ke KBRI Beijing termasuk identitas si korban dalam bentuk paspor, KTP agen di Cina dan bukti pemukulan.

Beberapa hari setelah pelaporan dilakukan, salah satu tim pengaduan melakukan penyeledikian di sosial media dengan memasukkan nama si korban yang tertera di passport, dengan hasil yang mengejutkan ternyata keceriahan si korban di sosial media yang telah di upload dua bulan yang lalu masih tersimpan dengan baik disana. Foto saat jalan-jalan, bergembira menikmati keindahan Tiongkok, menawarkan jasa penitipan barang dari Cina ke Indonesia dan bahkan membuat seri di youtube dengan menyertakan nomer telpon Cina lengkap dengan WeChat ID, FB dan nome WA yang bisa dihubungi.

Keadaan ini sangat berlawanan dengan pelaporan yang telah disampaikan kepada kami yang mana laporan tersebut telah sampai ke kantor perwakilan RI di Beijing.
Pelajaran yang bisa diambil dari kasus ini agar kami pihak penerima laporan tidak begitu percaya begitu saja kecuali krisis menyangkut hidup dan mati WNI. Disatu pihak, semestinya pelapor tidak segegabah itu melaporkan dirinya bila 4 minggu sebelumnya baru saja upload foto kebahagiaan. Untuk menjaga kredibilitas kita semua sebaiknya tidak mudah upload foto yang sifatnya akan mempersulit posisi kita dalam mencari bantuan. Carilah solusi sebelum melaporkan kesengsaraan kepada pihak luar.

Tentang penulis:
Nama saya Susan Handoyo, berprofesi sebagai Pekerja Migrant Indonesia (PMI) di kota Qingdao, RRT sejak 24 agustus 2014.
Saya berasal dari Blitar, Jawa Timur. Dengan berbekal Bahasa Inggris yang sangat minim, tekad juang yang tangguh dan kesadaran segala resiko, saya bertekad mengadu nasib ke Tiongkok untuk mewujudkan salah satu impian saya mengais rejeki ke negeri panda.

Saya masih single, sehingga saya tidak memiliki tanggung jawab untuk mengirim uang atau menghidupi keluarga di Indonesia. Namun yang menjadikan alasan utama untuk merantau ke RRT adalah uang karena saya memiliki cita-cita yang tinggi dan tidak tergantung kepada orang tua karena mereka tidak memilki warisan yang akan diberikan.

Dengan ketrampilan berbahasa Inggris yang pas-pas-an, saya mengetahui bisa bekerja ke RRT. Maka sayapun mendaftar melalui agen penyalur tenaga kerja di Malang, Setelah melakukan general medical check-up, test HIV & TBC. Sayapun dinyatakan sehat, maka sayapun membuat passport dan pihak agen mengurus visa keberangkatan ke RRT.
Saya terbang dari Surabaya menuju Hongkong. Dari Hongkong naik ferry ke Shenzhen, propinsi Guangdong. Kota yang terletak dibagian Tenggara Cina tersebut sangat terkenal dengan pengontrolan yang ketat di imigrasi dan bea cukia karena merupakan perbatasan antara Hongkong dan Cina.

Setelah sekian tahun bekerja di RRT, saya bergabung dengan komunitas online PMI-Tiongkok. Dengan keluangan waktu yang saya miliki sayapun memberikan waktu saya untuk menjadi sukarelawan dan menjadi salah satu pengurus.
Salah satu tugas utama saya adalah memonitor dan memberikan bantuan kepada masyarakat Indonesia yang membutuhkan bantuan atau sekedar diskusi mengeluarkan isi hatinya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here