Pebisnis Sosial ASEAN Diberikan Beasiswa Pelatihan DI Australia

Para pemimpin sosial dari negara ASEAN punya kesempatan untuk meningkatkan kemampuan mereka di Australia.

Sebanyak sepuluh pebisnis sosial dari negara anggota ASEAN berkesempatan untuk mendapatkan beasiswa pelatihan selama 4 bulan dari Australia. pemberian beasiswa pelatihan penuh ini diharapkan mampu memperkuat jaringan antar pebisnis di negara Asia.

Berdasarkan informasi yang dirilis Departemen Luar Negeri dan Perdagangan Australia (DFAT) dan Australiaplus, beasiswa pelatihan ini adalah program perdana AAC yang bertujuan untuk mendukung para pemimpin sosial dengan pembekalan kewirausahaan sosial.

Momentum pelaksanaan pelatihan ini memberlakuan Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA). Sektor kewirausahaan sosial makin diharapkan untuk bisa menjadi cara efektif dalam mengatur transisi menuju pasar tunggal kawasan Asia Tenggara yang luas.

Dewan Australia-ASEAN (AAC) bekerja sama dengan sejumlah institusi asal Australia, seperti Universitas Melbourne, menawarkan program beasiswa ‘Australia-ASEAN Emerging Leaders’ (A2ELP) kepada 10 pebisnis atau entrepreneur sosial muda asal negara ASEAN (Perhimpunan Bangsa-Bangsa Asia Tenggara) dan 5 berprofesi serupa asal Australia.

“Program ini memberi peluang untuk mengembangkan model bisnis, memperkuat strategi pemasaran dan advokasi mereka serta memperluas jaringan pribadi dan profesional di antara para peserta,” sebut Juru Bicara DFAT dalam surel kepada Australia Plus.

Pelatihan tersebut selain memperluas jaringan, para peserta program A2ELP selama 4 bulan juga diharapkan untuk bisa mengarahkan perdebatan isu sosial di lingkungan mereka masing-masing.

“Para pebisnis sosial akan memainkan peran penting dalam membangun hubungan orang per orang antara Australia dan negara-negara Asia Tenggara. Karenanya, dalam menyeleksi para pemimpin sosial ini untuk berpartisipasi dalam A2ELP, AAC juga menekankan pentingnya hal tersebut,” tulis DFAT.

Kewirausahaan sosial dipandang sebagai cara inovatif dalam mengatasi masalah-masalah kesenjangan sosial serta persoalan lain di tengah masyarakat.“Dalam bidang seperti pangan, agrikultur, kesehatan, disabilitas, pemuda dan pendidikan, pebisnis sosial bisa berkontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi dan pemberantasan kemiskinan di Asia Tenggara.”

Menurut situs Asialink Universitas Melbourne -salah satu pendukung program ini, sebelum diberangkatkan ke Australia, semua peserta terpilih (baik yang berasal dari negara ASEAN maupun Australia) akan mengikuti persiapan pra-keberangkatan. Di akhir sesi ini, para peserta diminta untuk membuat sebuah video yang berisi proposal bisnis sosial mereka.

Setelah itu, ke-15 peserta akan mengikuti pelatihan intensif di Melbourne dan Sydney selama 8 hari pada bulan Maret 2017.

Dari keterangan yang dikirim DFAT kepada Australia Plus, calon peserta beasiswa setidaknya memiliki pengalaman 2 tahun bekerja untuk bisnis sosial atau organisasi terkait dengan ketertarikan pada kawasan Asia Tenggara.

“Aplikan harus berusia antara 25-35 tahun dan harus berkomitmen untuk mengikuti pelatihan intensif 8 hari, meluangkan waktu untuk persiapan pra-keberangkatan dan program pasca pelatihan. Yang tak kalah penting, peserta harus punya minat untuk meningkatkan kapasitas profesional dan pribadi lewat interaksi dengan rekan sebaya mereka di kawasan ini.”

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here