Pantang Surut Karena Pandemi

Pandemi Covid-19 belum reda. Namun, pandemi bukan alasan bagi pemerintah untuk lesu dalam mewujudkan program-programnya. Salah satu program yang terus digenjot adalah program sejuta rumah (PSR). Berdasarkan data Kementerian PUPR, hingga 31 Oktober 2020 capaian Program Sejuta Rumah sudah tembus 601.637 unit rumah.

Jumlah itu meningkat dibanding Agustus lalu. Pada Agustus lalu, program sejuta rumah baru terealisasi 258.252 unit.

Dirjen Perumahan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Khalawi Abdul Hamid optimis meski pandemi program sejuta rumah bakal terwujud hingga akhir tahun ini. Keberadaan rumah yang layak huni ke depan dirasa sangat penting guna membantu masyarakat agar tetap terjaga kesehatannya sekaligus melaksanakan berbagai aktivitas seperti belajar, memulai usaha, serta beribadah di rumah.

Melalui program sejuta rumah, pemerintah akan terus berupaya menjaga kesehatan masyarakat dengan menyediakan hunian yang layak huni. Selain itu, program perumahan juga menjadi salah satu lokomotif utama dalam upaya pemulihan perekonomian nasional.

Melalui program sejuta rumah, menurut Khalawi, setidaknya ada 175 industri yang akan bergerak guna mensuplai kebutuhan proyek pembangunan rumah. Dengan program ini ratusan ribu orang juga akan terserap sebagai tenaga kerja. Selain itu, UMKM bergerak mendukung peningkatan ekonomi bagi masyarakat.

“Kami juga terus berkoordinasi dengan Pemda, pelaku pembangunan, perbankan, sektor swasta dan masyarakat untuk mendukung program ini,” kata Khalawi di Jakarta, Selasa (3/11/2020) dikutip laman Indonesia.go.id.

Berdasarkan data Kementerian PUPR, jumlah 601.637 unit itu terdiri 434.828 unit untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) dan 166.809 unit untuk non MBR.

Pembangunan rumah MBR tercatat dari pembangunan rumah swadaya Kementerian PUPR sebanyak 77.812 unit dan Dana Alokasi Kkhusus (DAK) Perumahan sebanyak 393 unit. Selain itu juga pembangunan rumah yang dilaksanakan Kementerian/Lembaga lain sebanyak 50.836 unit rumah, Pemerintah Daerah sebanyak 28.862 unit rumah, pengembang perumahan sebanyak 273.724 unit rumah, CSR perusahaan 3.134 unit dan masyarakat tercatat sebanyak 40 unit rumah.

Sedangkan pembangunan rumah non MBR berasal dari pengembang rumah tapak sebanyak 85.764 unit rumah, pengembang rumah susun 39.100 unit dan masyarakat sebanyak 41.945 unit rumah.

“Kami masih memiliki stok pembangunan rumah susun dan rumah khusus serta Dana Alokasi Khusus (DAK) bidang perumahan yang saat ini pelaksanaan pembangunannya masih berjalan di lapangan,” ujar Khalawi.

Untuk mendukung program itu terwujud PT Bank Tabungan Negara Tbk (BTN) juga berkomitmen untuk memfasilitasi masyarakat Indonesia agar dapat memiliki tempat tinggal melalui program sejuta rumah ini.

“Dalam 5 tahun mendatang, Bank BTN berkomitmen untuk dapat memberikan pembiayaan kredit KPR kepada 1,5 juta penduduk Indonesia,” kata Direktur Utama Bank BTN, Pahala Nugraha Mansury, di Jakarta, Rabu (4/11).

Menurut Pahala, pada 2015, Bank BTN berhasil memberikan dukungan pembiayaan perumahan sebanyak 474.099 unit. Di tahun 2016 menjadi 595.540 unit, di tahun 2017 menjadi 666.806 unit, di tahun 2018 menjadi 755.093 unit hingga di tahun 2019 menjadi 735.749 unit.

Menurut Pahala, hingga akhir 2019 backlog perumahan di Indonesia masih tinggi. Ini menunjukkan masih banyak penduduk Indonesia yang belum punya rumah, khususnya masyarakat berpenghasilan rendah.

Program sejuta rumah merupakan program yang diinisiasi Presiden Joko Widodo pada tahun 2015. Program ini dilaksanakan dalam rangka mendorong percepatan dan peningkatan kolaborasi antar stakeholders perumahan untuk menyediakan rumah yang layak huni bagi masyarakat khususnya masyarakat berpenghasilan rendah (MBR).

Untuk mewujudkan program itu, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggandeng perbankan termasuk Bank BTN. Hingga kini, Bank BTN mendapat andil besar untuk mendukung berjalannya program tersebut.

Berdasarkan catatan kinerja Bank BTN di kuartal III-2020, Bank BTN berhasil menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp 254,91 triliun. Dari angka tersebut, KPR masih mendominasi yakni senilai Rp 196,51 triliun atau naik 1,39 persen year on year (yoy) dari Rp 193,8 triliun pada kuartal III-2019.

KPR subsidi mengambil porsi lebih besar yakni senilai Rp 116,32 triliun dibandingkan KPR non-subsidi yang sebesar Rp 80,18 triliun. (Ilustrasi pembangunan rumah baru. Foto: tangkapan layar instagram @programsejutarumah.id).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here