Ini Panduan Isolasi Mandiri di Rumah Bagi Pasien Positif Covid-19

Sudah sekitar satu setengah tahun, pandemi Covid-19 di Indonesia masih belum berakhir. Menurut data Covid19.go.id, hingga 10 Juli 2021 kasus positif di Indonesia mencapai 2.491.006, dengan 2.052.109 sembuh, dan 65.457 meninggal dunia.

Setiap harinya, ribuan orang terinfeksi Covid-19 dan harus menjalankan perawatan di berbagai tempat isolasi yang disediakan. Namun, ada juga mereka yang memilih untuk melakukan isolasi mandiri (isoman) di rumah.

Menurut Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin, seperti dikutip dari Gatra.com, pasien positif Covid-19 dengan kondisi saturasi di atas 95 persen, tidak sesak, dan tidak memiliki komorbid atau penyakit bawaan, dianjurkan untuk melakukan isoman di rumah.

Hal ini dilakukan agar terhindar dari paparan virus di rumah sakit. Selain itu, kata Budi, isoman di rumah juga akan membuat pasien lebih tenang secara emosional dan imunitas bisa terjaga.

Sedangkan untuk mereka yang mengalami sesak atau saturasinya di bawah 95 persen, ditambah memiliki komorbid, ada baiknya langsung dibawa ke rumah sakit.

Untuk waktu isoman pasien Covid-19 sebenarnya berbeda-beda. Orang tanpa gejala bisa isoman 10 hari sejak tes antigen atau PCR. Bagi yang mengalami gejala ringan, bisa isoman 10 hari ditambah 3 hari bebas demam dan tanpa gangguan pernapasan. Untuk yang ada kontak erat dengan pasien Covid-19, isolasi bisa dilakukan selama 14 hari.

Bila ada orang terdekat yang baru saja terdeteksi positif Covid-19 atau sekadar untuk berjaga-jaga, berikut panduan isoman yang wajib diketahui:

Tempat isoman

Rumah bisa jadi tempat isoman bagi pasien positif Covid-19. Namun, perhatikan saran isoman dari WHO, yaitu pasien harus tinggal di kamar atau ruangan terpisah. Ruang isoman harus memiliki ventilasi yang baik, baik itu di kamar tidur atau area bersama. Bukalah jendela di rumah bila memungkinkan dan aman.

Jika tidak sendirian di rumah, maka pasien wajib mengenakan masker dan menjaga jarak minimal satu meter saat ada orang lain. Jika menerima kunjungan, misalnya saat ada yang mengirimkan obat atau makanan, sebaiknya cukup sampai di luar rumah untuk mencegah penularan virus.

Pasien bisa melakukan isolasi seorang diri di rumah. Bila ada yang menemani, pastikan jumlahnya dibatasi hanya satu orang dalam kondisi sehat tanpa riwayat penyakit dan selalu menjaga jarak.

Orang-orang yang berada satu ruangan bersama pasien Covid-19 di rumah harus selalu menggunakan masker, tidak diperbolehkan menyentuh masker dan wajah, membuang masker setelah meninggalkan ruangan, dan langsung mencuci tangan.

Siapa saja yang ada di rumah tempat isoman wajib cuci tangan secara rutin dengan air mengalir dan sabun, terutama setelah batuk atau bersin, sebelum dan sesudah menyiapkan makanan, sebelum makan, setelah menggunakan toilet, serta sebelum dan sesudah merawat pasien.

Dilarang berbagi perlengkapan pribadi

Ketika ada orang yang positif Covid-19, proses isoman bisa dibantu dengan menyiapkan barang-barang khusus pasien. Ini termasuk piring, gelas, alat makan, handuk, perlengkapan ibadah, dan seprai. Selama isoman, benda-benda tersebut tidak boleh dipakai orang lain dan semua yang disentuh pasien harus dibersihkan setiap hari.

Bila ada sampah dari ruangan pasien, seperti kemasan makanan atau bekas masker, semua harus dikemas dalam kantung tertutup yang kuat sebelum dibuang.

Asupan vitamin

Menurut dr. Herwindo Pudjo Brahmantyo, Sp.PD, spesialis penyakit dalam dari Rumah Sakit Saiful Anwar Malang, memenuhi kebutuhan vitamin tubuh adalah hal yang harus dilakukan selama isoman untuk menjaga kebugaran serta mencegah kondisi memburuk.

Herwindo menyarankan pasien Covid-19 mengonsumsi vitamin D 1000-5000 mg per hari dan vitamin C 1000 mg, ditambah dengan vitamin E dan zinc.

Makan sehat dan bergizi seimbang

Selama masa isoman, tubuh tentu butuh nutrisi yang cukup untuk memberikan energi pada pasien. Kata Stefania Widya Setyaningtyas, Dosen Departemen Gizi Fakultas Kesehatan Masyarakat Unair, kebutuhan gizi orang yang isolasi mandiri bergantung pada kondisi fisiknya sendiri.

“Misal ia mengalami gejala demam maka ia butuh asupan energi dan cairan yang lebih banyak dibandingkan biasanya. Adanya penyakit penyerta juga mempengaruhi kebutuhan gizinya,” ujar Stefania.

Ia pun menjelaskan bahwa tidak ada makanan yang bisa mencegah atau menyembuhkan Covid-19. Konsumsi makanan berperan untuk mengoptimalkan kerja sistem imun tubuh. Untuk itu, pola makan yang baik selama isoman adalah makanan dengan gizi seimbang dan beragam.

Pasien bisa mengikuti anjuran Piring Makanku, dengan selalu mengonsumsi sumber protein, karbohidrat, sayur dan buah, serta air yang cukup.

Memanfaatkan layanan telemedicine

Saat terdeteksi positif Covid-19 dan memilih untuk menjalankan isoman di rumah, salah satu layanan yang bisa dimanfaatkan adalah telemedicine.

“Kita melakukan pelayanan telemedicine karena kalau sekarang harus datang ke rumah sakit, konsultasi dengan dokter, akan susah karena akan menambah risiko. Maka kita bekerja sama dengan 11 platform telemedicine untuk memberikan jasa konsultasi dokter dan juga jasa pengiriman obat secara gratis,” ujar Budi.

Kerjasama Kementerian Kesehatan dengan layanan telemedicine ini dilakukan untuk memenuhi kebutuhan pasien saat isoman. Selama isolasi dari rumah, pasien dapat tetap berkonsultasi dengan tenaga ahli, mendapatkan obat dan vitamin, pemantauan serta pengobatan yang benar sesuai gejala.

Berikut daftar 11 platform telemedicine yang bekerjasama dengan Kementerian Kesehatan:

  1. Alodokter
  2. Getwell
  3. GoodDoctor
  4. Halodoc
  5. KlikDokter
  6. KlinikGo
  7. LinkSehat
  8. Milvik
  9. ProSehat
  10. SehatQ
  11. YesDok

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here