Pandangan Negara-negara Eropa tentang Pengalihan Sistem GSM-R

Oleh
Arnold Ph Djiwatampu
Delegasi RI ke sidang WP 5A-22
Jenewa, 07-05-2019

Konferensi WP 5A membahas berbagai acara komunikasi, termasuk sistem Kereta Ril. Ini bukan hanay GSM-R atau TETRA, dll. Melainkan mengenai yang disebut harmonisasi frekuensi sehingga di satu kawasan (Region) atau Global disepakati rentang (range) frekuensi yang sama, sehingga memudahkan digunakan di berbagai Negara, khususnya untuk menyeberang batas negara.

Sidang regional Asia-Pasifik dan terkait dengan materi yang akan dibawa ke sidang ITU, yang disebut APT Wireless Group (AWG) akan diadakan di BSD, Tangerang. 1-5 Juli’19 mendatang.

Suatu Konferensi 4-tahunan yang disebut World Radiocommunication Conference 2019 (WRC-19) yang biasanya dihadiri 3000-5000 peserta akan berlangsung di Sharm El-Sheik, Mesir.
Di sini diputuskan semua kebijakan frekuensi radiokomunikasi sedunia, Idonesia dari dulu kesulitan mengundang suatu konferensi besar dari ITU, karena masalah tiadanya hubungan diplomatik dg Israel.

Kami berkesempatan menjumpai delegasi dari Finlandia dalam waktu jeda antar- sidang Working Party 5A (WP 5A) ke-22, 29 April ¬ 9 Mei 2019, mengingat negara ini merupakan negara Eropa pertama yang beralih dari penggunaan komunikasi Kereta Ril (KRL), RSTT (Radiocomunication System Train to Trackside), GSM-R ke TETRA.
Selain itu kami juga berkesempatan menanyakan Ketua Delegasi Jerman mengenai kebijakan RSTT mereka.
Pengalaman dan kebijakan kedua negara ini, yang satu sudah beralih menggunakan RSTT TETRA dan yang kedua masih mempertimbangkan beralih ke RSTT yang baru, dapat kiranya dijadikan pegangan Indonesia bagi kebijakan perkembangan RSTT nasional, khususnya dengan rencana pembangunan Kereta Ril (KRL) Cepat nasional pertama, Jakarta-Bandung.

1. Penjelasan Delegasi Finlandia tentang Peralihan dari GSM-R ke TETRA
Alasan Finlandia meninggalkan sistem GSMS-R oleh karena sistem RSTT ini telah mendekati masa hidup teknisnya, sedankgan standar baru LTE-R belum diketahui kapan akan disepakati dan dikembangkan. Di sisi lain sistem GSM-R yang baru juga masih harus dikembangkan.

Mereka beralih ke sistem TETRA, lebih karena pertimbangan ekonomi, oleh karena dengan beralih ke sistem GSM-R yang baru, mereka harus membangun kembali seluruh jaringan RSTT nasional mereka. Di sisi lain sistem TETRA sudah  dikenal dan digunakan dalam sistem jaringan PPDR (Public Protection and Disaster Relief).
Finlandia telah memperhitungkan dengan matang bahwa penggunaan sistem RSTT TETRA akan banyak menghemat biaya, dibandingkan beralih sistem GSM-R. Lebih lanjut,  sistem TETRA dapat digunakan untuk jangka waktu 5 tahun atau lebih, saat standar sistem LTE-R telah disepakati dan dikembangkan, tanpa mengeluarkan dana yang relatif besar apabila menggunakan GSM-R.

Sistem GSM-R yang baru akan membutuhkan infrastruktur baru, sehingga biayanya lebih dari sistem TETRA yang sudah digunakn oleh sistem PPDR

2. Penjelasan Delegasi Jerman tentang Kepindahan dari GSM-R ke TETRA
Delegasi Jerman menjelaskan bahwa keputusan Finlandia untuk beralih dari sistem GSM-R ke TETRA, merupakan keputusan  dengan pertimbangan ekonomi dan pengalaman  yang baik.
Jerman sendiri juga masih harus mempertimbangkan apakah akan beralih ke sistem GSM-R yang baru atau ke TETRA yang sudah teruji dan ekonomis. Dia menjelaskan bahwa memang GSM-R yang baru akan membutuhkan pembangunan infrastruktur yang baru yang mahal.
Kebijakan yang diambil kedua negara di atas nampaknya searah  dengan melihat contoh di salah satu negara di Timur Tengah  yang pengelola RSTT mereka menyewa jaringannya dari pengelola PPDR.

3. Kesimpulan
Dari penjelasan di atas dapat disimpulkan bahwa Finlandia yang sudah melaksanakan pengalihan sistem RSTT dari GSM-R yang sudah mendekati umur teknisnya, maupun dari Jerman yang masih harus memutuhkan pengalihan dari sistem GSM-R ke sistem RSTT yang baru, terdapat kesamaan pandangan, yaitu bahwa beralih ke sistem TETRA akan lebih ekonomis daripada pindah ke sistem GSM-R yang baru yang masih diolah.

Kedua negara Eropa ini juga memiliki cara pandang kebijakan yang sama, mereka telah mengenal sistem TETRA dan telah digunakan untuk sistem PPDR
Indonesia dapat mengambil hikmah dari pandangan kedua negara Eropa, Finlandia dan Jerman, yang dapat dikatakan mewakili pandangan negara2 Eropa tentang sistem GSM-R yang telah mendekati masa hidup teknisnya. Sistem TETRA telah mereka kenal, dan pengalihan ke sistem RSTT ini dianggap lebih ekonomis daripada harus membangun infrastruktur untuk GSM-R yang baru yang masih harus dikembangkan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here