Nikmatnya Liberika, Kopi Bercita Rasa Nangka

-DISUKAI NEGERI TETANGGA: Kopi Liberika yang digemari masyarakat Malaysia.

Kabupaten Kepulauan Meranti bukan hanya terkenal sagunya. Meranti ternyata menghasilkan produk kopi langka jenis Liberika yang sangat diminati di negara luar diantaranya Malaysia.
yang menjadi Kopi meranti mempunyai cita rasa yang berbeda. Ada taste buah nangka. Rasa tersebut alami dan tidak sengaja dicampur dengan ekstrak nangka saat pengolahannya.

Jenis kopi itu bisa tumbuh subur di areal lahan gambut di Kecamatan Rangsang, Kabupaten Meranti. Kopi Liberika memang menjadi primadona bagi penikmat kopi di negeri jiran, tapi tak begitu dikenal di negerinya. Buktinya, dalam satu bulan, 3–5 ton kopi di seberangkan ke Malaysia. Sementara itu, yang diserap pasar domestik hanya berkisar puluhan kilogram.

”Mayoritas memang ke Malaysia. Jumlahnya beragam. Kalau pas musim panen raya, yang kami kirim ke sana bisa 3–5 ton. Pengirimannya dalam bentuk green bean (biji kopi yang sudah kering, Red),” ujar Solehudin, petani kopi asal Rangsang, saat ditemui Riau Pos di pergelaran Jambore Masyarakat Gambut 2016 di Jambi, Senin (7/11).

Dari jumlah tersebut, ungkapnya, sebenarnya masih kurang. Malaysia menampung berapa pun jumlah produksi petani Rangsang. Namun, sampai saat ini, yang mampu dipenuhi petani hanya berkisar 3–5 ton. Sebab, luas perkebunan kopi di Rangsang terus menyusut dari 700 hektare menjadi 500 hektare.

Meski hidup di lahan gambut, kopi Liberika tidak bisa terendam air cukup lama. Makanya, petani di sana tetap membuat parit cacing di sela tanaman tersebut.

Solehudin menambahkan, secara ekonomis, bertani kopi Liberika sangat menguntungkan. Sebab, waktu panennya hampir seperti sawit. Kopi itu dipanen dua kali dalam sebulan. Dalam bentuk grean bean, harga jualnya berkisar 34–36 ribu/kilogram untuk kopi campuran, sedangkan untuk kopi kelas satu 70 ribu rupiah/kg.

Sementara itu sepanjang tahun, kopi tersebut terus berbuah dengan musim trek hanya satu sampai dua bulan. Masa produksi juga relatif sama dengan sawit, yaitu bisa dipetik buahnya setelah dua tahun masa tanam. ”Buahnya sepanjang tahun. Kami panen sama dengan sawit, sebulan dua kali. Harganya juga tidak kalah. Kalau pas musim buah bagus, dalam satu hektare, kami bisa menghasilkan 1 Ton,” ujarnya.

dikutip dari Riau Pos (Jawa Pos Group) saat mengunjungi Kabupaten Tanjung Jabung Barat, Jambi, sebagai daerah penghasil kopi Liberika terbesar di Indonesia. Di daerah itu, ada 2.500 hektare perkebunan kopi Liberika yang dikembangkan petani lokal. Hampir sama dengan di Meranti, mereka menanamnya dengan sistem tumpang sari, yakni pinang, kelapa, serta lada.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here