Nick Alexander, Penyandang Down Syndrome Memiliki Prestasi Segudang

-BERPRESTASI: Banyak medali yang diraih Nick Alexander di bidang olahraga basket dan lari sprint.

Keterbatasan harus dilawan dengan usaha yang lebih giat dan keras. Begitu prinsip yang dipegang Nick Alexander sebagai atlet Down Sindrom yang memiliki banyak prestasi.

Sejak 2011 Nick menyabet juara I dalam Pekan Olahraga Nasional (Pornas) di Jakarta pada ketegori sprint 50 m. Prestasi juara I sprint itu kembali diraih Nick pada Pornas 2014.

Berkat pencapaiannya tersebut, Nick yang tergabung dalam atlet special olympics Indonesia (Soina) kini beberapa kali mendapat kepercayaan untuk mendampingi dan memotivasi para junior.

’’Nick memang memiliki postur kecil untuk ukuran pemain basket. Tapi, kemampuanya dalam shooting tak bisa diremehkan,’’ ungkap ayah Nick, Budihardjo Admadja, kepada Jawa Pos saat menemani putranya berlatih pada Jumat (30/12/2016).

Budi menyampaikan, kemampuan jitu Nick diperoleh berkat latihan panjang. Sejak kecil putranya itu terlihat memiliki minat pada basket. Minat tersebut tampak dari ketepatannya melempar bola ke ring

’’Padahal, dia punya masalah pada penglihatan. Dia silinder 3,’’ paparnya. Kondisi itu membuat keluarganya takjub. Di tengah keterbatasan sebagai penyandang down syndrome, Nick tidak pernah lelah berlatih setiap hari.

Sepulang sekolah dia bergegas nyangking bola dan bersiap berlatih basket di halaman rumahnya. Kegemaran Nick pada olahraga basket, tutur Budi, sebenarnya sempat dikhawatirkan keluarga.

Sebab, olahraga yang menguras fisik itu umumnya menjadi pantangan bagi penyandang down syndrome. ’’Tapi, setelah melihat Nick tak pernah mengalami sakit setelah berlatih basket, kami tak khawatir lagi,’’ kata pria 56 tahun itu.

Melihat potensi Nick pada basket, keluarga pun terus mendukung. Cowok kelahiran 9 Desember 1990 tersebut mulai berlatih di beberapa lapangan basket di Surabaya.

Nick juga sempat tercatat sebagai pemain klub basket Warriors Surabaya. Budi mengisahkan, keterbatasan Nick tidak jarang membuat banyak orang yang belum mengenalnya kerap bersikap merendahkan.

Namun, kondisi itu, lanjut Budi, biasanya tidak berlangsung lama. Setelah bertemu dan bermain dengan putranya, sikap merendahkan tersebut perlahan luntur.

’’Nick dikenal sebagai spesialis three point dalam tim. Karena kemampuan jitu shooting jarak jauh yang dimilikinya,’’ kata pengusaha keramik itu.

Berkat kemampuan tersebut, pada 2013 Nick mendapat kesempatan untuk bertanding di ajang special olympics di Newcastle, Australia.

Dia menjadi satu-satunya atlet Jatim yang bergabung dalam perlombaan yang diikuti negara di seluruh Asia-Pasifik itu. Nick berposisi sebagai penyerang.

Tubuhnya yang kecil membuat lawan main menyepelekan kemampuannya. Namun, kondisi itu mulai berubah ketika Nick berhasil mencentak three point saat laga baru mulai beberapa menit.

’’Sejak itu lawan Nick yang memiliki rata-rata tinggi di atas 170 cm terus menempel ketat padanya (Nick, Red),’’ tutur Budi antusias.

Berkat usaha keras tim, pada lomba internasional tersebut, Indonesia berhasil menyabet juara III dan memboyong medali perunggu.

Tidak hanya jago bermain basket, alumnus Sekolah Luar Biasa (SLB) Kumara II itu juga andal dalam olahraga lari. Khususnya perlombaan lari jarak pendek.

Khususnya memberikan semangat di tengah keterbasatan. Jika ada usaha, prestasi akan mudah diperoleh.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here