Mudahkan Nelayan, Mahasiswa ITS Temukan Komunikasi Satelit

Keterbatasan alat komunikasi berbasis satelit sering menjadi kendala pada kapal tangkap ikan nelayan dengan bobot di bawah 30 Gross Ton (GT) menyebabkan terjadinya illegal fishing dan menurunnya industri kemaritiman. Merespon hal itu, mahasiswa Doktoral ITS Qurrotul Aini mencoba mengembangkan alat komunikasi berbasis satelit bagi nelayan Indonesia.

Hasil penelitiannya itu diujikan pada sidang doktor Departemen Teknik Elektro Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Selasa (6/3). Sidang terbuka promosi doktor itu dipimpin oleh Prof Dr Yoyon Kusnendar Suprapto MSc. Pada sidang itu, Aini memaparkan bahwa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) RI mewajibkan kapal dengan bobot di atas 30 GT untuk menyediakan sistem tersebut.Namun, berdasarkan data dari Kementerian Kelautan dan Perikanan tahun 2012, kapal di bawah 30 GT mendominasi 98 persen dari keseluruhan jumlah kapal tangkap ikan di Indonesia. Selama ini kapal menggunakan Vessel Monitoring System (VSM) untuk berkomunikasi antar kapal, dan pusat monitoring yang ada di darat menggunakan media satelit.

Namun, banyak kapal nelayan Indonesia dengan bobot di bawah 30 GT belum dilengkapi peralatan komunikasi berbasis satelit tersebut. “Kita ingin mengembangkan jaringan bergerak maritim dengan berat di bawah 30 GT untuk nelayan Indonesia yang belum memiliki alat komunikasi berbasis satelit,” tutur perempuan yang meraih gelar sarjananya di Universitas Brawijaya (UB) Malang tersebut.

Dipromotori oleh Prof Dr Ir Mauridhi Hery Purnomo MEng, Dr Ir Achmad Affandi DEA, dan Eko Setiaji ST MT PhD, perempuan yang menjadi staf pengajar Program Studi Sistem Informasi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta ini berhasil menemukan jalan keluar dari permasalahan di atas. Yakni dengan terciptakannya algoritma optimasi trafik data _Breadth Fixed Gossip_ (BFG) sebagai kombinasi dari algoritma pencarian Breadth First Search (BFS), model fixed radius atau cakupan transmisi kapal, dan algoritma Gossip serta Chaos Particle Swarn Optimilization (PSO) pada jaringan dinamik.

Selain itu, penelitian yang dilaksanakan sejak tahun 2013 ini juga menghasilkan algoritma optimasi rute destinasi tangkapan ikan dengan menggunakan Firefly Algorithm (FA) dan Genetic Algorithm (GA). Pemodelan optimasi rute trafik data dan destinasi dengan menggunakan algoritma BFS, dan penentuan probabilitas Gossip pada algoritma BFS untuk optimasi data jaringan nirkabel yang didasarkan pada jarak ke kapal tujuan dan konektivitas dengan kapal lainnya.

Ibu empat orang anak ini menjelaskan bahwa dengan algoritma yang telah dibuatnya, memungkinkan kapal tangkap ikan nelayan untuk bertukar informasi melalui media satelit. Hal tersebut mampu dia buktikan dengan simulasi yang dilakukannya. Melalui simulasi tersebut diketahui juga memungkinkan untuk setiap nelayan mengabarkan kondisi terkini (real time) ketika diketahui ada kapal asing yang hendak mencuri ikan (illegal fishing).

“Pemodelan ini diharapkan agar trafik data antar kapal dan destinasi menuju lokasi dengan ikan yang berlimpah dapat diketahui, dan dengan adanya sistem komunikasi berbasis satelit ini pencurian ikan dapat diatasi,” terang perempuan asal Malang tersebut.

Berdasarkan keputusan Komisi Pertimbangan Fakultas yang dibacakan oleh pimpinan sidang Aini dinyataka lulus dan menyandang gelar doktor dengan predikat sangat memuaskan. Perempuan yang menempuh pendidikan S2 dan S3-nya di ITS itu berencana untuk mengembangkan algoritma yang dia ciptakan menjadi perangkat yang siap digunakan. Tak hanya itu, dia juga berencana untuk bekerjasama dengan PT Polytron untuk membangun protokol dan perangkat yang akan digunakan untuk alat komunikasi berbasis satelit kapal di bawah 30 GT.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here