Muda dan Berprestasi, Indra Rudiansyah Bantu Ciptakan Vaksin Oxford untuk Hadapi Pandemi

Nama Indra Rudiansyah seketika populer sejak pertengahan 2020. Ia disebut-sebut sebagai salah satu anak negeri yang ikut berkontribusi terhadap penelitian mengenai vaksin Covid-19 yang dilakukan Oxford University.

Saat dihubungi Kompas.com, Minggu (17/1/2021), mahasiswa doktoral Program Medicine Oxford University tersebut mengamini hal itu. Ia mengaku, keterlibatannya dalam penelitian dan pembuatan vaksin dilatarbelakangi oleh kurangnya tenaga penelitian.

“Di lab waktu itu sedang kekurangan orang dan penelitian terhadap Covid-19 ini kan membutuhkan orang yang banyak. Itu yang mendasari saya untuk sukarela dalam membantu pengembangan vaksin ini,” ujar Indra.

Diberitakan Kompas.com, Sabtu (21/11/2021), vaksin virus corona yang dikembangkan Indra dan tim Universitas Oxford diklaim dapat membangun kekebalan pada orang tua.

Vaksin tersebut dikatakan terbukti memicu respons imun yang kuat pada orang dewasa sehat berusia 18-55 tahun.

Menurut para peneliti, respons kekebalan serupa juga muncul pada kelompok usia 55-69 tahun dan mereka yang berusia lebih dari 70 tahun.

Dalam prosesnya, studi dilakukan terhadap 560 orang dewasa yang sehat, termasuk 240 orang berusia di atas 70 tahun. Hasilnya, vaksin lebih dapat ditoleransi pada orang yang lebih tua daripada orang dewasa muda.

Respons mengenai vaksinasi

Saat ini, beberapa negara termasuk Indonesia telah melaksanakan proses vaksinasi. Meski begitu, Indra mengingatkan agar masyarakat tidak abai, apalagi menganggap remeh virus corona.

“Jadi, sebenarnya vaksin yang ada sekarang ini (dan sudah mulai diberikan pada masyarakat) kan bisa dikatakan sebagai emergency used ya sehingga clinical trial itu masih terus berjalan. Pasien yang sudah divaksinasi akan terus dipantau. Menurut data yang diumumkan, (semua jenis) vaksin ini memiliki efektivitas hingga enam bulan,” jelas pemuda asal Bandung tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, Indra juga sedikit memberikan pandangannya terhadap vaksin Sinovac yang digunakan di Indonesia.

Ia menyebut, vaksin Sinovac memang benar dapat melindungi seseorang dari gejala berat Covid-19 seperti halnya vaksin Oxford dan Pfizer. Hanya saja, belum menjamin seseorang kebal dan tidak akan terinfeksi.

“Bisa terhindar dari penyakit akibat virus corona. Meski begitu, (masyarakat) tetap harus waspada. Sebab, sampai saat ini belum ada data apakah semua vaksin bisa mencegah seseorang dari terinfeksi,” tutur Indra.

Artinya, sambung Indra, seseorang yang divaksin masih bisa terinfeksi dan dapat menularkan ke orang lain.

Oleh karena itu, ia tak bisa memprediksikan kapan pandemi ini akan berakhir meskipun sudah ada vaksin. Namun, bukan berarti masyarakat menjadi apatis dan pesimistis terhadap situasi sekarang.

Pasalnya, keberadaan vaksin saat ini setidaknya membantu masyarakat dalam meringankan gejala virus corona.

Selain itu, Indra juga mengingatkan kepada masyarakat Indonesia untuk tetap taat pada protokol kesehatan yang berlaku.

“Seperti memakai masker, mencuci tangan dan menjaga jarak (3M). Itu tetap harus dilakukan. Lalu, sebisa mungkin sistem kesehatan nasional harus dijaga dengan baik agar rumah sakit tidak kolaps dan tidak menambah daftar korban yang ada,” ucap Indra.

Berjuang bersama

Melihat situasi di Indonesia saat ini, tingkat orang yang terinfeksi virus corona cukup mengkhawatirkan.

Berdasar data covid19.go.id, Kamis (21/1/2021), jumlah orang yang positif terpapar Covid-19 di seluruh Indonesia mencapai 939,948 orang.

Data tersebut merupakan angka tertinggi untuk jumlah penderita yang berada di kawasan Asia Tenggara. Indra mengimbau, baik pemerintah maupun masyarakat untuk bekerja sama dalam menghadapi pandemi.

Menurutnya, saat ini sudah banyak data yang bisa dijadikan acuan untuk membuat kebijakan. Pemerintah dan masyarakat pun bisa lebih siap dengan data-data tersebut.

“Lembaga pemerintah harus membuat regulasi yang jelas, sehingga masyarakat memiliki panduan untuk menaati regulasi tersebut. Selain itu, masyarakat juga harus disiplin dan memiliki kesadaran diri untuk tetap mematuhi aturan yang ada,” katanya.

Indra juga menyayangkan kalau ada masyarakat yang tanpa sadar dapat memperparah tingkat penyebaran virus corona.

“Sangat disayangkan sebenarnya. Oknum (orang-orang) ini merasa mereka sudah menaati protokol kesehatan, padahal tidak sama sekali. Mereka masih suka nongkrong di keramaian, tidak memakai masker ataupun menjaga jarak,” ujarnya.

Situasi tersebut, menurut Indra, memang cukup kompleks. Meski begitu, tidak seharusnya seseorang berlaku egois.

“Sebisa mungkin, setiap orang harus memosisikan dirinya sudah terkena virus. Dengan begitu, mereka akan lebih memikirkan kondisi sekitar karena tak ingin menularkannya kepada orang terdekat,” terangnya.

Ke depannya, Indra berharap laju transmisi penularan virus corona di Indonesia menjadi rendah. Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk lebih siap menghadapi situasi seperti saat ini sembari berharap infrastruktur penunjang sistem kesehatan di Indonesia semakin baik.

Bagi mereka yang tetap harus keluar rumah untuk mencari nafkah, Indra menyarankan supaya tetap menaati protokol kesehatan yang berlaku.

“Indonesia ini kan dibangun dari mikroekonomi. Banyak dari mereka adalah pedagang dan harus keluar rumah mencari uang. Tidak bisa disalahkan karena mereka tetap harus menyambung hidup. Nah, yang bekerja dari rumah ini kan sebenarnya privilese. Jadi, sebisa mungkin jangan egois ingin keluar rumah dengan alasan bosan atau ingin hiburan,” jelasnya.

Sebagai informasi, Indra Rudiansyah merupakan alumnus Beswan Djarum periode 2011-2012. Program beasiswa itu ia gunakan untuk menuntaskan pendidikan S1 di Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan program studi Mikrobiologi.

Lulus dari ITB, Indra terlibat dalam pengembangan vaksin rotavirus dan novel polio di perusahaan vaksin nasional, Biofarma

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here