Mohei Waerebo Nan Damai

Laporan

Nugroho Dewanto

Belasan bocah kecil langsung mendekat begitu kami tiba di Kampung Waerebo, Manggarai Tengah, Flores, pada 5 Mei 2017. Mereka menyapa akrab lewat tatapan mata dan lambaian tangan. Ketika kami mengajak foto bersama, spontan mereka berhamburan ke dekat kami. Sebagian tanpa ragu menggelayut di punggung, meminta pangku atau menggandeng tangan. Anak-anak itu jelas sudah terbiasa bergaul dengan orang asing yang datang ke kampung mereka. Dengan cepat mereka juga mau diajak nyanyi bersama, misalnya lagu Indonesia Raya. Sesekali beberapa anak berteriak keras, “Mohei Waerebo” yang langsung diikuti suara lantang “Mohei!”. Kepala Adat Kampung Waerebo Alex Ngadus menjelaskan arti teriakan itu adalah “Hidup Waerebo” dan “Hidup!”.

Sambutan ramah dan hangat dari anak-anak dan warga Waerebo membuat rasa lelah berjalan 4 jam menembus hutan dan melalui jalan mendaki langsung menguap. Suasana Waerebo yang damai dan pemandangannya yang eksotis menjadi pelengkap kebahagiaan bagi rombongan kami yang sehari-hari merasa sumpek dengan kesibukan kota besar. Kampung di lembah gugusan perbukitan Manggarai Tengah itu terlihat cantik dari ketinggian. Rumah tradisionalnya yang berjumlah tujuh buah melambangkan garis keturunan keluarga. Yang unik, warga Waerebo percaya mereka keturunan orang Minangkabau yang lari untuk menghindari perang di daerah asal. “Lambang di atas rumah adat utama kami berbentuk kepala kerbau,” ujar Marsel, warga Waerebo yang biasa menemani wisatawan. Bila orang Minang menyebut kainnya songket, “kami sebut songke,” kata Alex.

Selama ratusan tahun warga Waerebo seperti sengaja mengisolasi diri di tempat terpencil agar bisa hidup damai. Mereka tak pernah konflik, apalagi berperang dengan suku lain. Penjajah Belanda agaknya juga tak pernah sampai ke sana. Jika ada perselisihan, kepala adat — yang dipilih bukan karena garis keturunan melainkan karena kebijaksanaannya– akan membuat keputusan. Dan seluruh warga akan mematuhi.

Seorang jenderal mengatakan seluruh suku di nusantara berjiwa ksatria dan memiliki peralatan perang serta tarian perang. Sang jenderal mungkin belum pernah pergi ke Waerebo. Warga di sana tidak punya peralatan dan tarian perang. Kesenian yang mereka kembangkan hanya musik dengan gendang dan gong serta lagu tradisional yang dipentaskan sambil duduk bersila. Mungkin memang tak semua orang harus jadi ksatria. Perlu ada yang cinta damai seperti warga Waerebo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here