Meriahkan Asian Games 2018, Warga Sidoarjo Hias Gapura dan Kampung Tematik Asian Games

Sambut Pesta olah raga terbesar se-Asia yang diselenggarakan di Jakarta dan Palembang akan dibuka pada 18 Agustus 2018. Tidak hanya instansi pemerintah yang sibuk menyambut Asian Games 2018, ada juga warga kampung di Kabupaten Sidoarjo yang punya cara tersendiri menghias gapura dan kampungnya untuk menggelorakan semangat Asian Games.

Dilansir Voa, Rangkaian hiasan, ornamen dan logo Asian Games 2018, menyambut siapa saja yang akan masuk ke kampung RT 23 – RW 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo. Tidak ketinggalan bendera-bendera kecil dari negara-negara peserta Asian Games 2018, logo cabang olah raga yang diperlombakan, hingga lukisan 3 maskot Asian Games 2018 yaitu Bhin bhin, Atung, dan Kaka, menyambut semua orang yang masuk ke kampung ini.

Tidak ketinggalan, angka 73 sebagai usia kemerdekaan Indonesia, semakin menyemarakkan gerbang masuk kampung Sekardangan, yang sebelumnya telah mendapat julukan kampung edukasi sampah.

Ketua RT (Rukun Tetangga) 23, RW (Rukun Warga) 07, Kelurahan Sekardangan, Kabupaten Sidoarjo, Edi Priyanto mengatakan, dihiasnya kampung dan gapura dengan tema Asian Games 2018 bertujuan untuk menggelorakan semangat Asian Games di mana Indonesia menjadi tuan rumah. Tidak hanya gapura, di jalan kampung juga dibuat lapangan olah raga mini serta sejumlah permainan tradisional. Tujuannya untuk memasyarakatkan olah raga kepada warga, dan melestarikan permainan tradisional kepada anak-anak.

“Dengan tematik Asian Games, itu juga membawa semangat motovasi untuk berolah raga di masyarakat. Olah raga ini harus digelorakan khususnya untuk anak-anak ya, salah satunya tidak hanya gapura yang kita desain dengan tematik Asian Games, tapi juga di sini kita siapkan arenan permainan dan beraktivitas, jadi ada mini sepak bola, ada mini bulu tangkis, ada ular tanga permainan adak-anak, gabak sodor, kemudian ada boi-boian, dan kemudian ada engklek. Ini dimaksudkan untuk mengedukasi pada anak-anak, kita kenalkan kepada mereka permainan tradisional tanpa harus dilupakan. Kalau sepak bola mereka tahu semua, bulu tangkis tahu, karena itu sudah sering mereka lihat, tetapi permainan tradisional mereka tidak banyak kenal. Jadi filosofinya, semangatnya, disamping untuk mengurangi ketergantungan anak-anak dalam penggunaan gadget (gawai) termasuk melihat televisi dan game (online),” tutur Edi.

Permainan tradisonal ular tangga juga dilestarikan agar dikenal anak-anak, selain olah raga pada umumnya. (Foto: Petrus Riski/VOA)
Permainan tradisonal ular tangga juga dilestarikan agar dikenal anak-anak, selain olah raga pada umumnya. (Foto: Petrus Riski/VOA)

Edi menambahkan, dalam pengerjaannya, gapura dan kampung tematik Asian Games 2018 ini melibatkan seluruh warga di RT 23, dengan menggunakan dana dan sumber daya milik warga sendiri.

“Ini dikerjakan bersama seluruh warga, tidak hanya bapak-bapak tetapi juga ibu-ibu, melibatkan semua dan ini peran sertanya semua, supportnya semua, dan ini sifatnya adalah swadaya, jadi tidak ada bantuan dari pemerintah, tidak ada. Jadi semua dilakukan dengan ornamennya itu adalah menggunakan tangan, kerajinan tangan, lukisan,” imbuhnya.

Konsep keaslian ide dari warga dalam membuat gapura dan kampung Asian Games 2018, adalah dasar membuat gapura yang akhirnya terpilih sebagai wakil Jawa Timur dalam lomba nasional kampung Asian Games.

Yusuf, warga RT 23 Sekardangan mengatakan, dibutuhkan waktu sekitar satu bulan untuk merancang dan membuat gapura, serta menghias kampung bertema Asian Games ini. Desain gapura yang telah direncanakan, mampu dikerjakan dengan baik oleh warga dengan memanfaatkan bahan-bahan yang sederhana namun tahan perubahan cuaca.

“Konsep kita untuk mengembangkan gapura dengan nuansa atau semangat Asian Games itu adalah salah satunya memasang logo Asian Games di atas, jadi kesannya itu sebagai plafon di gapura kita. Ada perkuatan-perkuatan yang kita sudah perhitungkan, seperti kita menggunakan struktur bambu, cukup murah, kita perhitungkan kekuatannya di ujung-ujungterutama, biar kalau pun ada angin, dorongan angin itu tertahan oleh struktur bambu ini, nah dari bambu ini baru kita masukkan lagi ke struktur besi yang permananen,” ujar Yusuf.

Lukisan 3 Maskot Asian Games 2018 yaitu Bhin bhin, Atung, dan Kaka menyambut orang yang masuk ke kampung Sekardangan. (Foto Petrus Riski/VOA)
Lukisan 3 Maskot Asian Games 2018 yaitu Bhin bhin, Atung, dan Kaka menyambut orang yang masuk ke kampung Sekardangan. (Foto Petrus Riski/VOA)

Tidak hanya kaum laki-laki atau bapak-bapak, kelompok perempuan atau ibu-ibu di kampung itu juga mempunyai peranan penting untuk menjadikan kampung tematik Asian games 2018 terwujud dengan baik. Yati, salah seorang warga menuturkan, meski tidak mengerjakan hal yang rumit, para perempuan yang ada di kampung juga terlibat dalam menghias dan menjadikan kampung tampak bersih dan indah.

“Kita selalu tidak bosan-bosan untuk mengajak, langsung kita punya grup, yang di sebelah sana tolong dirapikan, yang sebelah sana tolong dibersihkan seperti itu, jadi saling mengingatkan. Tidak terlalu susah untuk mengajak mereka berkomunikasi, kita punya grup sendiri, jadi kalau ada hal-hal yang sifatnya hanya sepele-sepela yang bisa diselesaikan oleh ibu-ibu, kita yang kerjakan. Mungkin masang pernak-perniknya, bendera-benderanya yang bisa dikerjakan ibu-ibu. Dengan mengecat juga yang bisa dikerjakan, yang rumit-rumit ada yang mengerjakannya sendiri,” tukas Yati.

Hariyanto, warga RT 23 Sekardangan menambahkan, meski mengharapkan kampungnya menjadi pemenang lomba kampung Asian Games, namun ia lebih senang mengetahui semua warga bersemangat untuk terlibat mewujudkan kebersihan, keindahan, dan kerapian di kampungnya secara guyub dan gotong royong.

“Memang kita untuk meraih itu, yang terbaik kan. Tapi dengan adanya lomba gapura nasional Asian Games ini, ternyata ini membuat kita itu menjadi semakin guyub dan warga itu semakin senang, karena ada sesuatu yang dituju. Karena dengan itu warga semakin senang untuk melakukan kerja bakti bersama-sama, untuk menghias gapura, kemudian menghias lingkungannya, menata lingkungannya, sehingga menjadi lebih rapi,” pungkas Hariyanto.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here