Mengenang Pelukis Ekstrim Kelas Dunia, O Mara Tinggalkan Kita

Oleh

Maharani

Siang hari tgl 24 Maret 2020 penulis mendapat pesan messenger singkat Bezi Peter dari Hungaria mengirim pesan pendek di messenger, wah up dated breaking news covid-19 lagi yang membosankan pikirku. Ternyata lebih dari itu, O Mara lewat, demikian kira kira sms singkatnya. Sejenak ku terhenyak, di galeri di Batu ini kuas ditangan hampir terlepas, tak mungkin, ku terdiam, Sahabatku meninggalkan kita tanpa pesan, Peter pasti ikut berduka juga mengingat pesannya begitu singkat.

Di benakku antara kaget dan tidak mendengarnya, segera kucari info lebih lanjut dari Manager Pavilionsix Budapest. Mara meninggal di RS kota Salgotarjan DI USIANYA 74, menyedihkan akhir hidupnya. Ditambahkan pada pertemuannya terakhir bulan bulan lalu kondisi Mara terlihat sudah cukup rawan dengan keluhan utama matanya buram dan sendi kakinya setengah lumpuh, demikian keluhan O Mara waktu itu dalam perjalanan berkendaraan dari ”putri galerinya” dari kota kecil Szarvasgede ke Budapest yang berjarak 50 km.

Cerita seru dari Hungaria berlanjut meskipun telah menjadi kenangan manis. Selama di jalan Mara masih bicara tanpa berhenti seperti biasanya perihal sakitnya, segala sesuatu dalam hidupnya akhir akhir ini ataupun masa lalunya yang tak pernah tertinggal, sambil terkadang tanpa sadar menepuk keras ke pundak sebagai pemantas gerak badannya dalam berkomunikasi, lumayan sakit tapi terpikir itulah hiburannya dan beberapa tahun ini, itulah simbol keakraban bahasa tubuhnya yang harus dimaklumi bersama.

Mara tolong tutup kaca jendela, maklum udara masih dingin, apa! teriaknya, nggak, bisa mati aku kena udara palsu mobilmu, maksudnya A/C, aku mau udara segar pungkasnya. Segera penulis ingat kenapa Mara asingkan diri bertapa di galerinya yang kumuh (putri) Szarvasgede, kombinasi yang kontras antara luas tanah 5.000 M2 diapit kebun bunga matahari di lereng bukit karena udaranya diyakini pas dengan kesehatannya. Tak terasa, mobil berjalan perlahan memasuki tol M3 menuju Budapest.

Dalam berkendaraan sesuai aturan kita harus kenakan sabuk pengaman tanpa kecuali, posisi sudah masuk tol, bisa berabe ini, diingatkan Mara pakailah seatbelt nanti kita didenda mahal, nggak katanya, cuma pengemudi aja yang pakai, semauku dong kilahnya, sambil menikmati lintingan rokok murahan yang diraciknya sendiri itulah Mara, sosok tanpa ekpresi yang pro-yakin bangga akan dirinya dan tidak peduli akan aturan apapun. Sampai saat itu masih diakuinya sendiri tak seorangpun yang tahan bersamanya karena perangainya itu, termasuk putrinya dan diperkeras lagi kalo tidak nurut dia silakan pergi pungkasnya.

Semakin aneh semakin menarik sosok O Mara ini, cara cara, kelakuan dan apa yang terlintas dibenaknya dituangkan dalam kuasnya, ditambah dibubuhi kalimat yang sedang dipikirkan atau ditujunya dari hal yang baper sampai ke kritik ke pemerintah tak dipedulikan akibatnya.

Anehnya, hal corat coret kalimat tidak lazim dalam suatu lukisan, semakin dicela semakin bangga akan keistimewaannya dan diyakini mengangkat harga dirinya. Ranah Dunia seni ditohoknya dengan cuitan kuas dan kanvasnya yang fenomenal, bahkan para direktur Museum di jagad maya malah memburu lukisan naif nya ini, berapapun harganya dan mereka berdatangan ke Szarvasgede atau pun janjian di Budapest berebut mengkoleksi karyanya ini. Per hari ini, karya O Mara yang tersebar di mana mana sudah priceless, bagi yang cukup uang lebih baik mengkoleksinya.

O Mara sosok yang menarik seperti yang disebut Direktur Museum Nasional Hungaria (MNG) yang menyebutnya sosok perupa dengan penampilan/sikap nyentrik. Semakin bertambah julukannya atau di cap apapun, semakin senang dan naik nama O mara dan nilai karyanya. Dari ratusan pengalaman unik, dia pernah mau diwawancarai oleh ”New York Times” yang datang dari AS membawa crew nya, tapi karena kesalah fahaman gagal informasi ditolaknya wawancara tersebut. Bagi Mara siapapun tidak penting tapi jika dia menyukai suatu sosok maka semua pantangan tidak berlaku lagi, beruntunglah siapa dia. Ada beberapa yang penulis kenal mereka mereka ini, tak susah ditebak karena disetiap pembicaraan disinggungnya, yang penting kuping harus kuat dan bisa ngemong pembicaraannya dan sediakan waktu tak terbatas untuknya. Mara ngefans ke Alain Delon, Tom Jones dan fanatik ke Engelbert Humperdink. Sambil corat coret mengalun ber tahun tahun lagu Engelbert dan Tom Jones.

Hari ini, kenyataan Dunia seni kehilangan seorang yang tidak ada duanya, seorang pelukis ethnis gipsy terbaik di Hungaria/di Dunia, bermata tunggal, peramal ulung gunakan garis tangan dan kartu tarod (selalu terjadi yang diramalnya), sehingga dia diburu terus oleh orang yang kepo nasib dari seluruh lapisan di Hungaria dan Mancanegara. Ramalannya selalu diimpikan sebelumnya, jarang orang menerima wangsit seperti itu. Terlebih dia tidak gampang memilih siapa yang diramalnya, yang dia suka diterima, yang kurang berkenan ditolaknya mentah mentah siapapun dia dan berapapun sanggup bayar.

Satu lagi keunggulannya yang tidak biasa, Mara asli fenomenal tak diragukan sebagai salah satu pelukis miniatur kondang kelas Dunia, boleh perupa bangsa manapun ditandingkan, tapi matanya hanya satu dan melukis ukuran sebesar jari kuku anda patut dimaklumi dan pantas berbangga diri Mara malang melintang sikapnya tak ada tandingannya dan boleh dicoba tantangnya. Mara pernah mendemo bagaimana melukis satu lukisan sebesar kuku di depan penulis, sangat trampil dan cepat entah gimana bentuk wajah manusia tampak di sana dan bahkan ada beberapa, itulah keajaiban Mara. Terakhir penulis dipameri dan diminta hitung 40.000 buah miniatur karyanya dalam kresek besar yang dan anehnya Mara tahu betul di sebelah mana yang mau diambilnya, sambil tertawa. di situlah kebahagiannya.

Mara seorang yang tak punya, dalam arti pensiunnya tidak memadai, hp nya model Nokia 3310, non digital, laptopnya sangat lemot, mungkin pentium satu, pernah kita tawarkan kalo mau yang baru dan cepat, ia malah marah dan ngomel macem macem, yah itulah Mara, internetnya pra bayar dg stik yang sudah usang namun dia tidak mau berpijak dari perangkat kuno yang sudah dikenal pengoperasiannya tsb. Loading yang lemot selalu memicu naik darah karena gapteknya. Namun keajaiban selalu menyertainya, energi lansia positif tak kenal lelah, itulah kuasa Allah. Pensiunnya minim bahkan tidak cukup, tapi dia bisa bertahan dengan karyanya yang dikoleksi kolektor yang bertandang membeli ke galerinya, karya nya tersebar di mana mana di Eropa dan AS. Pernah pameran di Venice Bienalle, Seluruh German, Holland dan bertemu dengan tokoh tokoh high ranks seperti Angela Merkel, Presiden Bank Dunia, Bangsawan Perancis dan Diplomat2 berbagai negara dan banyak lagi yang ngefans sosok nyentik ini.

Terlepas dari semua keunikannya Hungaria pasti kehilangan, Mara adalah pejuang sejati pembela kaum wanita dan anak anak terutama untuk etnisnya melalui cuitannya di kuasnya tak tanggung tanggung langsung di torehkan di lukisan, ke mana mana dia pergi selalu ingat ke anak anak dan membagikan coklat untuk mereka. Juga satu satunya perupa ethnis gipsy yang memiliki galeri/museum pribadi di Budapest dan Szarvasgede.

Demikian ulasan singkat sahabat O’Mara yang telah meninggalkan kita, nama besarnya akan terus berkibar, kepergiannya ke dimensi berikut telah membebaskan dirinya dari penderitaan dan kehidupannya yang rumit. Tentu banyak cerita tentang Mara ini yang inspiratif, semakin lama semakin menarik. Mara pernah menguji penulis melukis langsung dan menawarkan untuk mewarisi galerinya. Suatu hari kami juga pernah membantu O Mara malam malam dalam pengadaan air bersih di rumahnya dari sumur umum yang letaknya agak jauh dari galerinya. Mara sangat menghargai ini. Malam itu saya diminta 15 menit melukis di galeri Szarvasgede tentang kejadian tersebut yang tentu saja ditunggui langsung oleh Mara, hasilnya mengejutkan alih alih grogi, saya diam menggarap dengan baik dan tepat waktu, dan Mara pun puas dan lukisan tersebut sampai sekarang berada di galeri Szarvasgede entah bagaimana nasibnya.

Demikian kisah singkat dalam rangka mengenang pelukis kondang Hungaria yang telah meninggalkan kita. Meskipun cita cita O Mara untuk kunjungi Indonesia belum terlaksana, namun karya karyanya yang merupakan koleksi pribadi saya dari O Mara sempat kami tayangkan pada pameran persahabatan antara Pondok Perupa Batu dan perupa Budapest di galeri Raos Batu, Jawa Timur pada tgl 12-20 Februari 2020 yang menjembatani persahabatan seni rupa antara Timur-Barat. Selamat jalan O Mara, you are always the best and my inspiration, for me.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here