Mengenal Kota Cantik Gyula di Hungaria

Oleh :

Maharani

( Koresponden Budapest, Hungaria)

Penulis kali ini hendak berbagi sebuah ”cerita yang tertinggal”, yaitu daya tarik luar biasa sebuah kota kecil berpenduduk hanya 30.000, di propinsi Bekes, di sebelah Selatan Hungaria, yang berbatasan langsung dengan Rumania.  Luasnya hanya 255 km2 namun memiliki daya tarik wisata dahsyat.   Berawal dari musim semi tahun lalu, tepatnya bulan April 2019 penulis dari Malang berkesempatan mengunjungi kota mungil ini namun tak disangka ternyata sarat sejarah erat terkait dengan kebudayaan islam Utsmaniyah Turki dan dengan Indonesia.

Foto Istimewa (maharani)

Dari Budapest berkendaraan sekitar 240 km menuju Selatan arah Rumania, dan ketika sampai di kota Besar Bekescsaba, ambil jalan nasional no 44 menuju Gyula. Semua jalan di Hungaria umumnya mulus. Sebelum memasuki pusat kota Gyula terlihat di sebelah kiri jalan sebuah lapangan terbang sipil, mini namun masih aktif.  Wah faktanya kota kecil tapi ada lapangan terbang, hal ini membuat penulis semakin kepo akan kota kecil dengan nama besar ini.

Foto Istimewa (Maharani)

Penulis sudah ditunggu oleh Jalecz lajos, senior kota Gyula yang akan mengantar dan beliau mengundang kami ke sini, kami bertemu di ”Sorpince Etterem”  di pojok depan kolam bertingkat di tengah kota paling strategis. Kesan pertama memasuki kota mungil lintas border ini ramai dan hidup.  Tak disangka kota ini menyandang label dan berpredikat ”Europe city”  berpenampilan cantik, tata kota apik dengan kolam di pusat kota (centrum) didisain khusus dengan tampilan kolam bertingkat dengan air mancur menambah nuansa segar, tampak bunga bunga yang indah menghiasi jantung kota dan sejak dahulu kala menjadi kota lintas border yang makmur, maju ekonominya sarat dengan hotel, apartman privat, gastronomi lengkap, tempat rekreasi seperti  Almassy Castle, Benteng Gyula/Gyulaivar) yang megah, Aquatic Center (komplek pemandian dan welness spa moderen), Erkel Ferenc Cultural Center dan 100 years (szas eves) bakery tradisional yang sangat terkenal lezat dan authentik, kesemuanya ini yang mendongkrak kota ini menjadi terkenal dan penduduknya sejahtera.

Foto Istimewa (Maharani)

Sambil berkeliling Lajos menjelaskan, pantas banyak wisatawan lokal dan dari negara tetangga yang datang pikir penulis, penduduknya nampak hidup makmur dengan sumber penghasilan utama seperti, menyewakan penginapan, pariwisata, budaya, rumah makan, cafe, catering, hotel, toko-toko privat, jasa, dagang dan pertanian serta wiraswasta lainnya.

Penulis menyempatkan meninjau benteng Gyula (Gyula var), dengan tiket masuk yang relatif terjangkau oleh turis manapun. Benteng berusia sekitar 600 tahun merupakan satu satunya benteng gothic tertua di Hungaria yang masih eksis dengan segala keunikannya. Dibangun di atas dataran biasa dengan keseluruhan temboknya terbuat dari batu bata tanah liat. Penulis mengitari sekitar puluhan ruangan yang berfungsi sebagai museum berisi peninggalan sejarah abad ke XIII sejak benteng berdiri.  Pada tahun 1405 dibangun oleh Maróti Janos (Macsói Ban) sampai pendudukan Turki Ottoman (abad XV), terlihat dibuat 13 patung peringatan dari 13 perwira Hungaria (Honved officers) yang dieksekusi oleh tentara Habsburgs setelah berakhirnya revolusi dan pertempuran pembebasan tahun 1848-1949. Cuplikan aktivitas kehidupan jaman dahulu baik sebelum dan sesudah pendudukan Ottoman ditayangkan dalam ruang-ruang terpisah.

Foto Istimewa (Maharani)
Foto Istimewa (maharani)

Sejarah singkat benteng ini erat terkait dengan kota Pecs dan Szigetvar dapat ditemui pada artikel penulis sebelumnya. Sekitar 2.000 pejuang Gyula dipimpin oleh Kapten benteng László Kerecsényi, terpaksa harus berjuang tak berimbang hadapi invasi pasukan Ottoman Turki yang berjumlah 30.000 dipimpin oleh Pertev Pasha, tahun 1566  (Pasha sebutan untuk kerabat Sultan Sulejman).  Meskipun dibantu oleh 300 serdadu koalisi dari Ceko, Jerman, Serbia,  Kroasia dan Austria dalam mempertahankan Gulaivar, namun ketidak seimbangan kekuatan membuat benteng Gyulaivar harus bertekuk lutut kepada pasukan simbol bulan sabit (baca artikel Eger, Pecs dan Szigetvar penulis). Laszlo Kerecseny juga menjabat sebagai kapten benteng di Szigetvar di masa pertengahan 1550-an.

Benteng tersebut sekarang dilindungi dan dilestarikan pemerintah sebagai warisan sejarah Hungaria di jaman Raja Sigismund 1368-1437 (Raja Hungaria-Kroasia 1387), keturunan laki-laki terakhir dari  Wangsa Luksemburg.  Sigismund adalah pemimpin Perang Salib Eropa Barat yang terakhir.

Kondisi benteng sampai sekarang nampak dilestarikan terpelihara baik dan megah. ”Rondella” tempat menara meriam sudah menjadi loket tiket masuk dan toko cindera-mata yang mana kita dapat membeli produk cindera mata khas lokal seperti jam, madu, sirup buah, souvenir, koin bergambar benteng, buku buku, selebaran, brosur tentang sejarah kota Gyula dan Gyulaivar sebagai info untuk wisatawan. Penulis lanjut terus menyusuri ke dalam benteng dimana tersedia ruang-ruang untuk pendidikan dan pembinaan pemuda pemudi, museum ”Erkel Ferenc” secara berkala menyediakan atraksi yang menarik untuk tua muda seperti 150 menit sesi upacara renaissance, tour keliling dengan pemandu wisata multi bahasa, demikian juga pengunjung diberi kesempatan bernostalgia kenakan atribut pakaian jadul. Sesi lain untuk pelajar TK dan SD disediakan 60 menit ”fabulous middle ages” yaitu membangun benteng dari tanah liat. Juga ada sesi yang disebut „the The Age of King” untuk pelajar yg tertarik dengan sejarah dan buku/naskah kuno.  Demikian pula untuk pelajar sekolah menengah dan atas terdapat sesi bergabung dengan kelas sejarah extramural dengan topik terkait oleh staf museum. Disampingnya terdapat danau kecil mengelilingi benteng membuat suasana tambah mediaval. Sangat menarik pikir penulis.

Foto Istimewa (Maharani)

Di dalam museum terdapat 24 ruang pameran, dengan ruang lantai dasar terdapat gudang makanan, toko roti, workshop pandai besi/smithy, ruang pembuat perabot,  ruang anggur dan sebuah kapel. Di lantai atas terdapat ruang tempat tinggal bangsawan, ruang kerja bangsawan,  ruang resepsi besar Sanjak-bey (komandan distrik Ottoman), ruang senjata/pedang dan ruang untuk para ksatria. Jaman kini Kapel kecil ideal untuk disewa sebagia upacara pesta pernikahan, sedang ruang ksatria untuk konperensi dan resepsi. Selain itu, setiap hari Sabtu diselenggarakan atraksi dan kegiatan antara lain, seperti demo burung elang, presentasi bersejarah di benteng, kaligrafi dengan pen khusus, kesempatan berpakaian masa lampau, mencoba kehidupan pandai besi (smithy live), dan tekhnik pengawetan buah buahan (elektuarium).

Yang menarik lagi, selain benteng Gyula var dengan museumnya, daya tarik kota kecil tersebut pernah eksis sebuah ”Restoran Aszia” yang khas menjajikan masakan Indonesia khususnya dengan top menu sate, gado gado, rendang, nasi goreng dan mie goreng, ikan acar kuning dan lain lain pada tahun 90-an.  Pemiliknya tak lain Jalecz Lajos, seorang pakar gastronomi dan wine setempat sangat cekatan, menjiwai dan nge-fans berat Indonesia yang mengakui belajar masakan indonesia hanya dari buku buku masakan,  Lajos menjelaskan sambil mengenang masa keemasannya,  taman di luar restoran saya tata dengan suasana tropis dikelilingi pohon bambu, ditambah lampu lampu taman dan bakaran grill di luar dengan api besar memberikan kesan daya tarik yang tidak bisa ditolak dan luar biasa bagi tamu tamu restoran Aszia pada masa itu.  Hebatnya lagi penyandang lambang restoran gastro berkualitas ”chain de rottisiere” Perancis ini pernah terpilih sebagai 10 restoran terbaik di Hungaria sampai 3 kali berturut-turut, yaitu 1999-2000-2001 dari ribuan restoran kompetitornya, sungguh prestasi besar dan membanggakan.  Ide cerdas Lajos pada waktu itu menuai hasil brilyan. Menurut Lajos, pada waktu itu para pelayan wanita yang cantik dan prianya tampil mengenakan pakaian seragam Jawa dan blankon serta cara penyajian makanan yang spesial menjadi daya tarik tersendiri bagi tamu dan turis yang berkunjung. Penyajian sate contohnya gunakan anglo kecil dengan arang bara, serta bumbu kacang kecap manis menjamin rasa lezat yang beda, sehingga tamu merasa puas dan gembira membakar sate sendiri.  Ditambahkan Jalecz Lajos sangat menjaga keluwesan dan keramahan dalam pelayan/staf selayaknya budaya Timur.  Seluruh masakan di menu, apapun digandrungi pengunjung.   Pernah Lajos menyajikan ikan acar kuning resep yang dipelajarinya langsung dari kunjungan ke Indonesia disajikan dengan ikan hiu muda, juga sup ikan hiu populer pada waktu itu yang mudah diperolehnya hasil pasokan tamu tamu dari Rumania yang memiliki laut.

Penyajian sate contohnya gunakan anglo kecil dengan arang bara, menjamin rasa lezat yang beda, sehingga tamu merasa puas dan gembira membakar sate sendiri. Ditambahkan Jalecz lajos sangat menjaga keluwesan dan keramahan pelayan/staf selayaknya budaya Timur. Seluruh masakan di menu, apapun digandrungi pengunjung. Pernah Lajos menyajikan ikan acar kuning resep yang dipelajarinya langsung dari Indonesia mdisajikan dengan ikan hiu muda, juga sup ikan hiu populer pada waktu itu yang mudah diperolehnya hasil pasokan tamu tamu dari Rumania yang memiliki laut.

Foto Istimewa (Maharani)

Di restoran tersebut, setiap periode Duta Besar RI semasa menjabat, selalu diundang dari Budapest untuk tayangan demo kuliner masakan Indonesia bersamaan sambil diadakan Indonesia gastronomi days dengan dihadiri oleh tokoh2 pejabat dan walikota serta anggota dewan kota semakin menyemarakkan suasana. Terakhir restoran ini berganti profil menjadi restoran lokal ketika kepemilikan berganti. Selang beberapa tahun kemudian pada tgl 30 September 2011 restoran Hungaria ”kis kosmond” tsb diambil alih kembali oleh Jalecz Lajos dengan suntikan dana dari Indonesia dan menjadi ”restaurant Garuda” yang pada upacara pembukaan kembali hadir Duta Besar RI dan segenap staf KBRI Budapest, kalangan diplomatik, walikota Gyula dan beberapa walikota kota kota sekitar serta pejabat2 setempat, komunitas vip dan undangan lainnya.

Foto Istimewa (maharani)

Selain dua tempat terkenal di atas, terdapat pemandian/spa moderen hasil renovasi pemda Gyula bernilai milyaran Forint pada tahun 2015 agar dapat bersaing mengikuti tren terkini pemandian lainnya di Hungaria yang sudah sangat maju. Pemandian baru semakin menjadi sumber daya tarik Gyula yang terkenal memiliki air mineral alami di beberapa kolamnya. Pengunjung datang dari berbagai negara di sekitarnya setiap tahun merupakan sumber pemasukan devisa Pemda setempat. Demikian cerita yang tertinggal dari penulis, cerita singkat ini menunjukkan betapa eratnya sejarah Gyula-Hungaria, Turki dan Indonesia hadir di kota kecil tersebut dimana dalam musim Semi dan musim Panas, yaitu April sampai September Gyula dibanjiri dengan 500 – 600 ribu pelancong termasuk dari negara sekitar dan Eropa lainnya karena terkenal sarat obyek, infrastruktur dan fasilitas wisata ramah lingkungan, murah, yang selalu siap memanjakan wisatawan.  Tak lupa tersedia untuk pengunjung anak anak dan orang tua kereta gandeng berbentuk kereta api mini dengan biaya murah dan jadwal teratur selalu siap membawa keliling kota Gyula.  Pesan penulis, bagi wisatawan Indonesia jika ke Hungaria kami himbau jangan lupa untuk mengunjungi kota Gyula.  Terima kasih tak lupa kepada Jalecz Lajos, Gyula yang sangat ramah dan profesional selama kunjungan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here