Mengenal 5 Perempuan Berprestasi Asal Indonesia di Bidang STEM

National Science Foundation di Amerika Serikat menjelaskan masih ada perbedaan yang signifikan terhadap jumlah perempuan yang bekerja di Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). Hal ini terlihat dari jumlah perempuan dengan gelar sarjana di bidang teknik dalam 20 tahun terakhir yang walaupun meningkat, angka tersebut masih berbeda jauh dengan laki-laki.

Berdasarkan data dari American Association of University Women hanya 28 persen wanita yang bekerja dalam bidang STEM. Hal yang tidak jauh berbeda dengan Indonesia. Di Indonesia sendiri, tingkat partisipasi tenaga kerja perempuan di bidang STEM masih jauh dibandingkan laki-laki.

Rata-rata Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) pada bidang STEM, laki-laki mendapatkan peluang 84 persen, sementara perempuan hanya 50 persen. Namun, hal ini bukan berarti bahwa Indonesia tak memiliki perempuan hebat di bidang STEM. Berikut 5 perempuan yang menorehkan prestasi dalam bidang STEM.

1. Moorissa Tjokro

Moorissa Tjokro

info gambar

Salah satu perempuan asal Indonesia yang membanggakan adalah Moorissa Tjokro. Dikutip dari VOA Indonesia, ia adalah orang yang membuat sistem full self driving di perusahaan otomotif dan penyimpanan energi dari Amerika Serikat. Perempuan tersebut merupakan lulusan Georgia Institute of Technology dan Columbia University.

Moorissa bekerja sama dengan timnya sebagai Autopilot Software Engineer untuk mengembangkan dan meningkatkan sistem kendali untuk mobil Tesla. Perempuan yang lahir pada tahun 1996 ini berhasil meningkatkan sistem otonom level lima dalam sistem full self driving sehingga mobil dapat bergerak tanpa campur tangan manusia.

Dikutip dari VOA Indonesia, Moorissa mengaku sangat menikmati pekerjaan yang ia tekuni saat ini karena ia telah menyukai hitungan sejak kecil. Mata pelajaran kesukaannya ketika kecil adalah “Aku matematika dan aljabar. Hal itulah yang membuatnya terjun ke dunia engineering. Morrissa juga mengaku bahwa ia terinspirasi untuk bergelut di dunia ini karena sang ayah yang merupakan seorang insinyur.

Tak hanya berkarya di belakang Tesla, Moorissa telah lama bergelut di banyak industri yang berkaitan dengan teknologi dan ilmu pengetahuan. Sebelum bergabung dengan Tesla pada tahun 2018, ia sudah menjadi asisten pengajar di Georgia Institute of Technology untuk rumpun ilmu komputer dan statistik pada tahun 2012-2013. Setelah itu, Morrissa menjadi asisten peneliti pada program pangan dunia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) periode 2013-2014.

Moorissa juga pernah menjadi analis data di Target Marketeam, Inc pada Juli 2014-2016. Pada tahun 2017, ia juga pernah magang di NBC Universal sebagai ilmuwan data. Masih di tahun yang sama, ia juga bekerja sebagai asisten pengajar pascasarjana di Columbia University.

2. Pratiwi Pudjilestari Sudarmono

Pratiwi Pudjilestari Sudarmono

Perempuan yang lahir pada 31 Juli 1952 di Bandung ini merupakan anak pertama dari enam bersaudara. Ia menunjukan ketertarikan terhadap dunia sains sejak kecil terutama antariksa. Pratiwi kemudian mengambil jurusan kedokteran di Universitas Indonesia hingga meraih gelar master pada tahun 1977.Tak hanya itu, Pratiwi pun melanjurkan studi ke Jepang di i Research Institute for Microbial Deseases, Osaka University dan menjadi perempuan pertama yang mendapat gelar doktor dalam bidang kedokteran dari perguruan tinggi di Jepang.

Dikuti dari Kompas, Pratiwi pernah terpilih sebagai salah-satu orang yang ikut serta dalam misi Space Shuttle yang merupakan kerja sama antara National Aeronautics and Space Administration (NASA) dan pemerintah Indonesia. Ia mengalahkan 207 kandidat dalam misi ini.

Namun, sayangnya Pratiwi harus menguburkan mimpinya karena proyek ini memutuskan untuk tidak melibatkan astronom asal Indonesia karena melihat kecelakan yang terjadi beberapa bulan sebelum misi ini dijalankan. Walaupun begitu, Pratiwi terus menorehkan prestasi yang membanggakan Indonesia melalui berbagai hal yang ia lakukan. Kini, Pratiwi menjadi guru besar ilmu mikrobiologi di Universitas Indonesia.

3. Premana Wardayanti Permadi

Premana Wardayanti Permadi

Perempuan berpretasi lainnya dalam bidang STEM adalah Premana Wadayanti Permadi yang menjadi astronom pertama dari Indonesia yang aktif mengajar di program studi Astronomi Institut Teknologi Bandung. Dikutip dari TheConversation, Ia bahkan memiliki asteroid yang dinamakan atas nama dirinya yaitu Asteroid 12937 Premadi.

Tak hanya aktif dalam dunia STEM, Premana juga aktif dalam dunia sosial. Ia menggerakan pendidikan astronomi ke anak –anak melalui organisasi Universe Awareness for Children(UNAWE) Indonesia. Walaupun ia mengidap amyotrophic lateral sclerosis(ALS) yang merupakan penyakit yang mengerang Stephen Hawking, ahli fisika dari Inggris, ia tetap mampu menorehkan berbagai pretasi lewat mengajar, meneliti, berdiskusi hingga kampanye pendidikan astronomi untuk anak-anak.

4. Eniya Listiani Dewi

Eniya Listiani Dewi

Tak kalah dari deretan perempuan di bidang STEM lainnya, Eniya turut memberikan kontribusi dalam membanggakan Indonesia dengan berhasil menyelesaikan proyek fuell cell yang dapat memproduksi listrik hingga 5 kilowatt. Dikutip dari femina, Eniya berpendapat bahwa di kemudian hari, alat ini sangat bermanfaat bagi manusia terutama untuk mencukupi kebutuhan energi.

Penemuan fuell cell inilah yang membuat Eniya menerima penghargaan dari presiden BJ Habibie pada tahun 2010. Eniya juga menemukan membran sel bahan bakar lokal menggunakan materi lokal yang diberi nama Thamrion, berbentuk plastik super tipis yang mampu mereaksikan hidrogen menjadi listrik. Penemuan ini tak kalah dengan Jepang dan Amerika Serikat yang membuat alat transportasi berbasis bahan bakar hidrogen.

5. Silvia Halim

Silvia Halim

Siapa di sini yang kerap meggunakan alat transportasi publik berbasis moda raya terpadu atau MRT? Alat transportasi ini tersedia bagi masyarakat Jakarta karena campur tangan Silvia Halim. Perempuan ini berprofesi sebagai Direktur Konstruksi PT MRT Jakarta yang bertanggung jawab untuk mengeksekusi, mengontrol sekaligus mengelola proyek MRT.

Perempuan yang lahir pada 18 Juni 1982 ini menempuh pendidikan di Teknik Sipil Nanyang Technologycal University di Singapura. Berkat dedikasinya, masyarakat Jakarta dapat menikmati moda transportasi ini sejak tahun 2019.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here