MENCOBA BEREMPATI PADA AFI NIHAYA FARADISA

Oleh

Imam Prasodjo

Sosiolog, Dewan Pembina Gerakan Kebaikan Indonesia

Secara kebetulan saya membaca beberapa tulisan anak ini yang sekelebat lewat di layar telepon genggam saya. Saat membaca, saya terus terang langsung terkesan (impressed) pada kelincahan anak ini dalam merangkai kata dan juga isinya yang “tak biasa”. Saya pun penasaran. Saya coba menelusuri lebih jauh pada facebooknya. Saya bandingkan antara tulisan satu dengan lainnya. Tentu tak semua sempurna, tapi konsisten kualitas isinya. Saya pun berkesimpulan tulisannya asli, hasil buah fikiran dan tangan sendiri, bukan hasil jiplakan atau hasil “cut and paste” sebagaimana sering saya jumpai. (Note: Namun demikian, akhir-akhir ini ada kontroversi terkait dugaan plagiasi. Seberapa jauh kebenaran itu, perlu ada bukti kuat. Jangan sampai bunga yang baru perkembang, layu sebelum saatnya, 2 Juni 2017).

Saya tak menyangka, rupanya anak ini telah menjadi bahan pembicaraan begitu luas. Banyak yang memuji, tapi tak kurang juga yang mencerca. Bahkan melalui instagram yang beredar luas, anak ini bertubi-tubi menerima beragam komentar negatif hingga tuduhan dan ancaman. Saya tertegun saat membaca begitu banyak serangan yang terasa “overdosis” diarahkan pada remaja yang tengah tumbuh berkembang ini. Saya coba teliti lebih jauh tanggapan yang mengkritik dan menghujatnya. Masya Allah, begitu banyak kata-kata keras bertebaran. Bahkan terasa terlalu keras.

Mungkin para penanggap ada yang terlalu bersemangat sehingga lupa membayangkan bahwa yang tengah dihadapi hanyalah anak remaja yang tengah berproses perkembangan intelektualitasnya. Ini memang kelemahan berinteraksi di dunia maya. Seandainya ada buah fikiran yang kurang pas sekalipun, tentu masih terbuka untuk diperbaiki. Sekali lagi, ia hanya anak remaja yang mencoba mengekspresikan fikiran dan hatinya. Saya bersedih karena banyak tulisan yang diarahkan padanya, lebih bersifat “menghukum” daripada “membimbing” atau “mendidik”.

Saya bersimpati pada anak ini. Karena itu saya menulis untuk memberi dukungan psikologis. Saya akan coba, dan akan selalu coba, memberi dukungan pada remaja manapun yang tengah berjuang mencari jati dirinya. Tidakkah kita yang telah dewasa, apalagi yang sudah berkeluarga dan memiliki anak usia remaja, dapat membayangkan apa yang dirasakan bila hal serupa terjadi pada diri kita, pada anak kita? Remaja manapun, sekuat apapun, dapat berkecil hati dan bahkan kehilangan harapan bila menerima cercaan keras bertubi-tubi saat ia dalam proses belajar.

Untunglah, kelihatannya Afi mampu menjadi “psikolog” bagi dirinya sendiri. Ia mencoba membesarkan hatinya di saat ia merasa “down” mendapat tekananan demi tekanan akibat tulisan yang tersebar di dunia maya. Coba perhatikan tulisan dalam status facebooknya. Ia menulis:

“Tarik napas, kau akan baik-baik saja. Apakah kau masih ingat ketika keadaan buruk sehingga kau pikir kau takkan bisa melewati itu? Apakah kau masih ingat ketika kau sangat khawatir, cemas, menangis, dan hancur? Faktanya, setelah semua kekacauan itu, kau masih bertahan. Kau masih hidup. Kau masih kuat. Kau masih berdiri di atas kakimu sendiri. Tarik napas, kau adalah orang yang baik dan layak merasakan kebahagiaan hidup…”

Saya terharu. Saya ikut merasakan kesendirian Afi dalam menghadapi semua ini.

MENCOBA MEMAHAMI

Saya pun lebih jauh terbayang suasana hati yang dirasakan anak ini. Saya juga terbayang bagaimana perasaan dan sikap orang tuanya saat mengetahui tulisan anaknya menjadi pusat kontroversi. Pasti keluarga ini diliputi rasa campur aduk (mixed feeling) membaca reaksi publik; yang di satu sisi menggembirakan karena ada apresiasi, tetapi di sisi lain khawatir karena banyaknya komentar negatif hingga hujatan dan ancaman.

Saya coba mencari informasi lebih jauh siapa sebenarnya anak ini agar kita dapat lebih mudah berempati. Dalam facebooknya, ia menulis namanya: Afi Nihaya Faradisa. Nama ini sebenarnya baru dikenal belum lama, yaitu sejak bulan Maret 2016. Afi mengaku nama ini bukan nama sebenarnya, tapi nama samaran hasil ramuan nama aslinya: Asa Firda Inayah. AFI berasal dari singkatan “(A)sa (F)irda (I)nayah”, NIHAYA dari “Inayah”, dan FARADISA dari “Firdaasa”. Ini kreatifitas gaya anak muda jaman sekarang.

Mengapa Afi menggunakan nama anagram? Ia memberi penjelasan: “Saya ingin menyampaikan kebaikan-kebaikan secara anonim di dunia maya. Asalkan kebaikannya sampai ke banyak orang, maka orang tidak perlu tahu itu dari siapa…Saya akan tetap mengingat tujuan awal saya menulis adalah berbagi dan menginspirasi tanpa pamrih apapun.”

Afi lahir 18 tahun lalu di Banyuwangi, 23 Juli 1998 dari pasangan Imam Wahyudi dan Sumartin. Ayahnya bekerja sebagai pedagang kaki lima yang berkeliling di beberapa sekolah di sekitar desa tempat tinggal mereka. Ibunya sebagai ibu rumah tangga biasa yang sehari-hari lebih banyak di rumah karena menderita sakit. Sebagaimana anak Indonesia lainnya, Afi bersekolah melalui jalur biasa; mulai masuk TK pada umur 5 tahun (TK Islam Yosomulyo), kemudian 6 tahun di SDN 4 Yosomulyo, 3 tahun SMPN 1 Genteng, dan kini baru saja menamatkan SMAN 1 Gambiran, Banyuwangi, Jawa Timur.

Yang membedakan Afi dengan anak-remaja Indonesia pada umumnya adalah kesukaannya membaca dan menulis. Walaupun ada keterbatasan ekonomi, Afi tak kehilangan akal untuk mendapatkan bacaan yang ia sukai. Ia tak segan meminjam buku-buku dari teman-teman dan guru-gurunya. Sebelum dikembalikan, ia rajin mencatat gagasan dan kutipan inspiratif yang tertera dalam buku yang ia baca. Selain itu, tentu saja ia memanfaatkan informasi dan pengetahuan yang bertebaran di internet. Dengan bekal itu, ia coba buat refleksi diri dan menuliskannya di facebook yang dapat kita baca bersama. Bagi saya, Afi adalah contoh remaja produktif era digital, yang mampu memanfaatkan teknologi komunikasi yang tersedia untuk mengembangkan diri.

Kemampuannya Afi dalam menulis bahasa Inggris kelihatannya juga cukup baik. Saya sempat membaca tulisan pendeknya saat ia menghibur diri membaca kritik yang mengecilkan hati. Ini yang Afi tulis:

“It is okay not to be okay. You don’t have to be positive all the time. It’s perfectly okay to feel sad, angry, annoyed, frustated, scared, or anxious. Having feelings doesn’t make you a ‘negative person’. It makes you human.”

Oh…kasihan.

Lalu, apa cita-cita anak ini ke depan? Afi menulis singkat: “Saya ingin menjadi penulis, guru, dan psikolog yang bisa membantu lebih banyak orang.” Ini cita-cita yang tak muluk-muluk. Tapi masalahnya, akankah ia dapat meraih impiannya ini?

Tak seperti anak yang lahir dan dibesarkan di tengah keluarga berada, Afi saat ini tentu dalam persimpangan jalan. Orang tuanya yang bekerja sebagai pedagang keliling, tentu memiliki kemampuan finansial terbatas untuk membiayai kuliah di perguruan tinggi. Saya tak tahu bagaimana nasibnya kemudian yang akan ditentukan beberapa minggu atau bulan ke depan ini.

Namun tantangan yang lebih berat sedang dihadapi Afi justru pada kebimbangannya yang kini melekat pada dirinya. Nampaknya, ada keragu-raguan dalam hatinya terhadap peran perguruan tinggi dalam mendidik dan memberikan pengajaran. Saya merasakan, Afi kecewa terhadap banyaknya orang, produk perguruan tinggi, yang salah memahami fikiran-fikirannya. Di sebuah media, ia mengatakan:

“Membaca komentar yang ditujukan untuk saya dan melihat penulisnya yang master atau doktoral, saya jadi pesimis sama kuliah.”

Jelas, kini Afi tengah merasakan ranjau-ranjau psikologis yang mengaburkan fikiran dan hatinya. Ini buah reaksi liar bernada keras masyarakat digital yang melemahkan tekad. Tentu, saya berharap Afi tak putus semangat dan mampu melewati ranjau ini. Untuk itulah mengapa saya menulis uraian ini.

TANTANGAN DI ERA DIGITAL

Pasti suasana psikologis Afi dan keluarganya tak sedamai biasanya. Ini konsekwensi dari “kehidupan ganda” yang dimasuki Afi, atau dialami oleh siapapun di era digital saat ini. Ketenangan dan keramahan interaksi yang umumnya dinikmati dalam komunitas tatap-muka “dunia nyata” , kini dalam satu “klik” dapat masuk ke “dunia maya” yang secara drastis mengubah segalanya, penuh sajian dengan aneka perilaku dari kalangan tua muda, terdidik tak terdidik, bijak dan tak bijak. Pendeknya pergaulan dunia maya adalah pergaulan tanpa muka yang tanpa batas.

Dunia maya ini adalah belantara kehidupan bagi siapa saja yang memasukinya. Di sini, seorang Afi, remaja desa, berjumpa dengan komunitas tanpa wajah (faceless society) dengan beragam pola interaksi– dari sapaan ramah hingga kebengisan. Itulah dunia maya yang sering tak mengenal belas kasihan.

Bisa jadi, ayah, ibu dan adik Afi yang menjalani hidup biasa di desa tak memahami sepenuhnya apa yang tengah dialami Afi. Dunia digital telah membawa Afi terbang melanglang buana di dunia maya, arena “kawah candradimuka” yang penuh dengan beragam “makhluq” yang tak semua ia ketahui asal rimbanya.

Akankah anak ini tahan dan mampu mengambil hikmah dalam berkelana ini? Kita lihat saja nanti. Yang jelas, perkembangan fikiran dan kejiwaannya juga sangat ditentukan oleh kecerdasannya dalam menyerap beragam informasi dan perilaku yang tumpah di dunia maya ini. Kita sebagai bagian dari dunia maya yang tentu ingin Afi selamat, sewajarnya ikut mendukung agar ia mampu menembus tantangan ini.

Bagaimana status perkembangan intelektual Afi pada akhir akhir ini? Kita pun dapat melihat dari status facebook yang ia tulis belum lama ini. Saya ikut menghimbau pada siapapun yang tertarik membaca, bacalah tulisan Afi dengan kepala dingin. Ingat fikiran anak ini akan terus berkembang dan berubah menuju kematangan. Kita semua bisa ikut menentukan corak perkembangan fikirannya pada tahap-tahap berikutnya. Bila anda ingin sumbang fikiran dan menanggapi tulisannya, atau memberi nasihat padanya, bacalah panduan sebagaimana tertera dalam ayat ini:

]ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَنْ ضَلَّ عَنْ سَبِيلِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ[

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhan-mu, Dialah yang maha mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS an-Nahl [16]: 125).

Semoga bulan suci Ramadhan ini dapat membawa kedamaian bagi kita semua, termasuk kedamaian bagi Afi Nihaya Faradisa, yang nama aslinya Asa Firda Inayah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here