Menangkal Radikalisme di Era Digital

Para pemuka agama"serta tokoh masyarakat lintas organisasi hadir sebagai pembicara dalam konferensi pers Kompetisi Video Pendek bertajuk "karena kita Indonesia" di Gedung Tempo Jakarta

Dalam menangkal paham Radikalisme di Media Sosial, Tempo Institute Gelar Kompetisi Video Pendek dengan tema “karena kita Indonesia”, terlebih dengan generasi muda menjadi target utama penyebaran radikalisme.

Dunia maya atau Internet kini menjadi penyebaran informasi yang masif, ternyata menyebarkan informasi yang mengancam keberagaman Indonesia. Irendra Radjawali, dalam kajian penelusuran percakapan di dunia maya (web scrapping), Kedepannya era digital akan mendominasi kebutuhan masyarakat untuk mendapatkan informasi, untuk itu perlu adanya penangkal paham radikal. “Percakapan tentang radikalisme di dunia maya belum kita tanggapi dengan serius,”ujar Irendra, Saat konferensi pers “Kompetisi Video Pendek – Karena Kita Indonesia”, Rabu (12/10) di Gedung Tempo, Jakarta.

Irendra juga menjelaskan Sebagai dampaknya, kata dia, subrealitas bisa loncat menjadi hiperealitas.

“Subrealitas adalah dunia maya, sedangkan hiperealitas adalah interpretasi fakta yang didasarkan atas gambar, teks, statistik, angka-angka, yang belum tentu realitas sebenarnya,” ucap lulusan Universitas Bremen, Jerman itu.

Irendra meriset jejaring kata di Twitter yang berhubungan dengan radikalime. Ia mulai dari 300 kata kunci yang sering diperalat oleh para ekstremis dalam proses perekrutan seperti ‘kafir’, ‘jihad’, ‘ISIS’, ‘khilafah’, serta ‘Syiria’.

“Saya menemukan, kata-kata yang berhubungan dengan ‘jihad’ malah kata-kata yang sangat personal seperti ‘jalanku’, ‘berbuat’, ‘keluar’. Ada usaha personalisasi radikalisme,” ujar Irendra.

Dalam Konferensi pers yang digelar Tempo Institute tersebut juga dihadiri Dennis Adhiswara, aktor dan CEO Layaria, yang menjelaskan kekuatan audio visual dalam membentuk persepsi publik. dalam kompetisi Video pendek nantinya Dennis juga memberikan workshop pada 21 finalis dari 7 wilayah Indonesia mengenai pembuatan video yang menarik dan persuasif.

Selain itu komitmen bersama para pemuka agama untuk menjaga kerukunan dan kebhinnekaan di Indonesia menjadi sangat penting demi terciptanya Indonesia yang damai.

Imam Pituduh, selaku Pengurus Besar Nahdlatul Ulama, menjelaskan respon publik dengan menangkal sebaran info radikalisme dengan cara yang tradisional. “Hanya sesekali ada orang atau lembaga yang mencuit ajakan deradikalisme, itu pun sifatnya manual,” kata Imam Pituduh, “Ini merupakan bukti agar kita bersama-sam membangun benteng bagi generasi muda agar menangkal radikal dengan mendekatkan dengan agama,”

sementara itu Para pemuka agama yang hadir pada konferensi tersebut sepakat memerangi radikalisme di zaman digital ini dengan lebih serius. “Agama lahir untuk membawa perdamaian bagi dunia. Kita tak bisa membiarkan agama justru dijadikan senjata untuk saling menyakiti,” kata Suhadi Sendjaja, Ketua Umum Parisadha Buddha Dharma Niciren Syosyu Indonesia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here