Memupuk Keberagaman dalam Satu Rasa Cinta Singkawang

Pada Hari Minggu (10/09) telah diselenggarakan acara “Keberagaman dalam Satu Rasa: Cinta Singkawang Hebat! Pasti Ke Singkawang” yang bertempat di Goethe Institute, Gondangdia Jakarta, Acara ini diselenggarakan oleh Harianto Tian, seorang pengusaha muda yang tergerak hatinya untuk memberikan konstribusi pada kampung halamannya, Kalimantan Barat. Acara ini didukung oleh berbagai kalangan: para pengusaha asal Kalimantan Barat yang telah lama dominisili di Jakarta, Pemkot Singkawang, dan berbagai intansi lainnya.

Sementara itu apresiasi juga diberikan oleh perantau Singkawang yang ada di Jakarta seperti yang diungkapkan Nusantio Amin Setiadi yang juga Ketua Gerakan Kebaikan Indonesia, “Indonesia yang dikarunia keberagaman yang begitu beraneka merupakan sebuah kekuatan nan Indah. Adalah tanggungjawab sesama anak kandung ibu Pertiwi untuk menjaga dan merawatnya. Sebab kalau bukan kita siapa lagi dan jika bukan sekarang kapan lagi, Dan kita apreasi apa yang telah Harianto Tian dan teman-temannya lakukan” Ujar Nusantio.

Harianto Tian, Penyelenggara acara Pentas Seni Budaya Singkawang yang juga seorang pengusaha muda yang tergerak hatinya untuk memberikan konstribusi pada kampung halamannya, Singkawang, Kalimantan Barat.
Tarian Nusantara dihadirkan dalam Pentas Seni Budaya Singkawang dalam Tema “Keberagaman dalam satu rasa, cinta Singkawang hebat! pasti ke Singkawang di Goethe Institute Jakarta, Minggu (10/3)

Keberagaman dalam Satu Rasa merupakan salah satu upaya untuk menjaga, merawat, memupuk, dan melestarikan budaya lokal. Tak hanya itu, melalui beberapa Tari Aur Parindu yang dipentaskan oleh anak-anak dari Sanggar Simpor, membawakan pesan untuk cinta pada lingkungan dan alam, Tari Tidayu (Tionghoa, Dayak, Melayu) tiga etnis besar di Singkawang, Kalimantan Barat memberikan keindahan pepaduan antar etnis dan keharmomisan. juga dihadirkan pemetik Sepak yang merupakan alat musik khas Dayak, dan juga ada pembacaan puisi dalam 4 bahasa (Dayak, Melayu, Inggris, Mandarin) dibacakan oleh Anak-anak dari Sekolah Kopisan.

Pembacaan puisi ini juga sebagai upaya untuk melestarikan bahasa ibu, bahasa daerah, tanpa lupa untuk belajar bahasa internasional. Dramatisasi puisi menceritakan pengorbanan seorang ayah yang mencari nafkah untuk biaya pendidikan dan biaya hidup keluar. Dramatisasi ini membawa pesan betapa besar cinta kasih orangtua dan anak setelah berhasil harus ingat (berbakti pada orangtuanya).Serangkaian acara ini ditutup dengan Tari NKRI diiringi lagu daerah dan diakhiri lagu Dari Sabang Sampai Merauke yang mengggambarkan “Inilah Indonesia”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here