Mahasiswa UI Raih Penghargaan di Konferensi Internasional Top Ten APACPH Poster Award di Jepang

Wicensius Parulian Hasudungan

Wicensius Parulian Hasudungan, mahasiswa Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia, berhasil meraih penghargaan internasional, Top Ten APACPH Poster Award pada ajang konferensi 48th Asia Pacific Academic Consortium of Public Health (APACPH) yang diselenggarakan tanggal 16-19 September 2016 yang lalu di Universitas Teikyo, Jepang.

Penyelenggaraan kompetisi APACPH merupakan berbagai gagasan terkait kesehatan masyarakat sebagai upaya mencapai tingkat kesehatan tertinggi bagi mayarakat di negara-negara di kawasan Asia-Pasifik. Tema yang diangkat pada APACPH tahun ini adalah “Create a Healthy Future with Competent Professionals”.

Dari pemilihan tema tersebut didasarkan pada beragamnya tantangan yang saat ini dihadapi oleh dunia kesehatan masyarakat. Sebut saja bencana alam, kemunculan infeksi baru, polusi lingkungan, dan gaya hidup berisiko seperti merokok.

Dalam penyelenggaraan APACPH 2016, selain berkesempatan mengikuti konferensi, seluruh peserta juga diajak untuk berbagi ilmu dan berkompetisi melalui abstrak penelitian. Wincensius Parulian Hasudungan, atau yang biasa dipanggil Sudung, mengirimkan abstrak penelitiannya yang berjudul “The Analysis of Knowledge, Attitude, and Practice of High Risk Pulmonary TB Community in order to Improve TB Case Detection Rate in Matraman District”.

Dalam presentasinya, Sudung harus mempresentasikan posternya dan bersaing dengan 490 abstrak lainnya. Dengan tenang, Sudung mempresentasikan abstraknya dihadapan para juri. Tak diduga, pada saat pengumuman, nama Sudung diumumkan sebagai peraih predikat Top Ten APACPH Poster Award atas hasil riset dan pemaparannya.

Latar belakang penelitian Sudung yaitu mengenai diagnosis komunitas angka deteksi Tuberkulosis (TB). Pada tingkat nasional, target deteksi TB nasional mencapai angka 90% pada tahun 2015. Namun di kawasan Matraman, Jakarta Pusat, angka deteksi TB dua tahun terakhir hanya mencapai 48%.

Rendahnya angka deteksi tersebut menarik Sudung dan kawan-kawan untuk mengetahui penyebabnya. Faktor apa yang menyebabkan angka deteksi TB di Matraman menjadi rendah, apakah dari sisi masyarakatnya yang masih enggan memeriksakan diri ataukah dari tenaga kesehatan yang belum maksimal melakukan skrining TB pada masyarakat.

Sudung dan kawan-kawan kemudian turun ke masyarakat. Mereka ingin tahu, faktor mana yang paling memengaruhi rendahnya angka deteksi TB di Matraman. Metode yang mereka lakukan adalah dengan mengunjungi rumah-rumah di kawasan Matraman untuk melakukan wawancara dengan masyarakat.

Secara umum, riset ini bertujuan untuk meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat terkait penyakit TB. Kesadaran dan pemahaman ini diharapkan dapat menggerakkan inisiatif masyarakat untuk secara sukarela memeriksakan diri mereka ke pusat pelayanan terdekat untuk mendeteksi kemungkinan terinfeksi TB.

Pada wawancara dengan Humas, Sudung berbagi tips kepada rekan-rekan sejawat jika ingin mengikuti konferensi internasional. “Kalau ingin ikut konferensi internasional, yang pasti harus suka dulu sama riset. Kemudian kita cari konferensi yang tema atau topiknya kita suka. Kalau saya kemarin lebih tertarik dengan tema layanan primer sekaligus menjadi persiapan kami untuk menjadi dokter internship,” ujar Sudung sekaligus menutup sesi wawancara.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here