Mahasiswa Difabel Surabaya Ini Gapai Prestasi Dunia

INSPIRATIF : Umar dipercaya menjadi moderator dalam Talkshow Golden Generation di kampusnya 31 Maret lalu. Talkshow itu mendatangkan bintang tamu artis Ine Febriyanti dan Koordinator PPI Dunia Intan Irani.

Mahasiswa prestasi tidak hanya dapat di raih oleh siswa berprestasi dengan kondisi fisik yang sempurna, namun dengan keterbatasan hal itu tidak menghambat Umar, Jumat (21/4) memang hari yang mendebarkan bagi mahasiswa jurusan Komunikasi Universitas 17 Agustus 1945 (Untag) Surabaya tersebut. Sebab, dia mengikuti seleksi pemilihan Mahasiswa Berprestasi tingkat Kopertis 7. Kalau lolos, dia bisa mengikuti seleksi nasional. ’’Presentasinya pakai bahasa Inggris. Aduh deg-degan,’’Ujar Umar.

Umar terlihat begitu percaya diri saat menyodorkan tangan kanannya untuk bersalaman dengan Jawapos. Tangan itu mungil. Ya, mungil. Tidak seperti kebanyakan orang dewasa, Umar memiliki tangan seukuran bayi. Mulai lengan hingga jari hanya sekitar 20 sentimeter. Tidak ada lima jari yang menghiasi bagian ujungnya. Bentuknya seperti mengerucut, menyisakan satu jari kecil yang cukup membantu Umar untuk memegang sesuatu.

Tangan kirinya tidak jauh berbeda. Lebih panjang sedikit dari tangan kanan dan ada jari yang cukup panjang seperti milik orang dewasa pada umumnya. Namun, hanya satu, tidak lima. Sesekali, dia menggaruk muka atau merapikan rambut dengan tangan tersebut.

 

Sebenarnya, itu bukan lomba yang kali pertama dia ikuti. Namun, mahasiswa semester 4 tersebut memiliki target tinggi. Karena itu, dia ingin memberikan penampilan yang terbaik.

Umar, laki-laki 21 tahun itu, lahir pada 2 November di Jeddah, Arab Saudi. Dua puluh tahun hidupnya dijalani di negeri orang. Kondisi itu bermula dari neneknya yang merantau ke Arab Saudi pada 1985 dan membawa ibunya saat masih muda. Kemudian, sang ibu bertemu dengan ayahnya dan menikah. Setelah itu, lahirlah Umar dan saudara-saudaranya.

Baru pada 2015 Umar menapakkan kaki untuk kali pertama di Indonesia. Saat itu keluarganya memang menyudahi kehidupan di Arab Saudi dan memulai hidup baru di tanah air. Selain itu, Umar memilih melanjutkan studi sarjana di Indonesia.

Ayah Umar, Syaroni Hai Nasrawi, merupakan keturunan Surabaya-Madura. Sang ibu, Ummiati Robafi, adalah keturunan Lumajang-Madura. Karena itu, mereka mencari tempat tinggal yang tidak jauh dari kampung halaman: Surabaya.

Selama tinggal di Arab Saudi, Umar menempuh pendidikan di Sekolah Indonesia–Jeddah. Dari TK hingga SMA. Meski di luar negeri, mereka tetap mengikuti kurikulum Indonesia.

Hidup di negeri orang memang gampang-gampang susah. Tidak terkecuali di Arab Saudi. Stereotipe Indonesia sebagai penyalur tenaga kerja untuk pembantu rumah tangga melekat kuat di sana. Karena itu, dia sering mendapat perlakuan tidak menyenangkan.

Untuk menghilangkan stereotipe tersebut, Umar memperdalam penguasaan bahasa Inggris. Selain menambah keterampilan, bahasa Inggris digunakan sebagai alat untuk menunjukkan bahwa Indonesia juga pintar dan bisa mengikuti perkembangan dunia. ’’Kan saya sangat nasionalis,’’ ucapnya.

Pernah suatu ketika dia pergi ke pasar untuk berbelanja beberapa bahan kebutuhan. Dari belakang ada orang asing yang menghardiknya dengan menyebutnya anak pembantu. Lalu, Umar berbalik. ’’Excuse me Sir, what are you talking about?’’ tanyanya kepada orang itu. Mendengar perkataan Umar, orang tersebut langsung meminta maaf.

Perlakuan tidak menyenangkan tidak hanya disebabkan dia orang Indonesia. Tetapi juga lantaran keterbatasannya. Bahkan sampai kekerasan verbal. Dia diolok-olok karena tidak memiliki kondisi normal seperti orang lainnya.

’’Dulu sih masih kecil ya emosional. Paling nangis. Tapi sekarang, huh sabaarr,’’ katanya sembari mengelus dada.

Emosional boleh, tetapi jangan lama-lama. Anak kedua dari tiga bersaudara itu berupaya menunjukkan kemampuannya. Dia yakin bisa berprestasi melebihi orang-orang yang pernah menghinanya. ’’Orang kasar jangan balas dikasari. Tapi balas dengan prestasi,’’ tutur pelajar yang selalu mendapatkan ranking satu di sekolah tersebut.

Umar sadar bahwa dirinya cukup andal berkomunikasi. Pribadinya yang supel dan ramah membuatnya mudah dekat dengan orang. Karena itu, dia memanfaatkan kelebihan tersebut untuk menekuni lomba-lomba yang berhubungan dengan public speaking.

Sudah tidak terhitung berapa banyak lomba yang diikuti. Selain publicspeaking, ada lomba pidato dan storytelling. Dia rata-rata mendapatkan juara, runner-up, atau peringkat favorit.

Jauh dari tanah air tidak membuat Umar buta tentang ragam budaya dan ciri khas Indonesia. Dia suka menyaksikan acara televisi yang menampilkan tarian tradisional. Juga, sering menonton secara langsung pergelaran seni di sekolahnya.

’’SMP, kali pertama punya laptop, langsung coba-coba edit musik tradisional,’’ ungkapnya. Kemudian, Umar juga belajar tarian secara otodidak. Tarian yang sudah dikuasai adalah Jaipong dan tari Bali. Dia juga belajar membuat kreasi gerakan dan mengajarkannya kepada adik kelas.

Pada 2012 tarian karya Umar diikutkan dalam lomba apresiasi dan kreasi Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) di Denpasar, Bali. Selanjutnya, pada 2014 juga ada lomba serupa di Palembang. Umar memang tidak ikut ke tanah air. Hanya murid-murid binaannya yang berangkat. Namun, dia cukup bangga dengan hal itu.

Setahun kemudian, saat purna perpisahan Sekolah Indonesia-Jeddah, Umar kembali menampilkan karyanya. Kreasi tari dimainkan 30 penari yang merupakan adik-adik kelasnya. Penampilan itu disajikan di hadapan Konjen RI di Jeddah. ’’Di sana perpisahan selalu diadakan besar-besaran dan dihadiri petinggi-petinggi Indonesia di Jeddah,’’ ungkapnya.

Setelah itu, Umar kembali ke Indonesia dan menetap di Surabaya. Tujuan pertamanya adalah kuliah. Dia memilih jurusan komunikasi untuk menyalurkan bakatnya. Juga, sebagai sarana untuk menggapai cita-citanya. Yakni, menjadi seorang public relations, penyiar berita, dan dosen.

Bukan hanya itu, Umar juga tidak berhenti menggapai prestasi. Berbagai lomba yang berhubungan dengan keahliannya dijalani. Salah satu yang paling berkesan adalah menjadi juara favorit lomba newspresenter EMTEK Goes to Campus 2016.

’’Waktu itu berasa banget Upik Abu. Lawan saya cantik-cantik, cakep-cakep. Tapi, saya bisa jadi juara favorit dan trending topic se-Arab Saudi, itu nggak terlupakan,’’ paparnya.

Semangat untuk mengasah keterampilan di bidang publicspeaking pun tidak lepas dari hobinya yang suka melihat kontes kecantikan. Bagaimana cara para perempuan cantik di dunia memperebutkan gelar putri tercantik sejagat. Mulai cara berjalan, perilaku, tutur bahasa, hingga cara mereka menjawab pertanyaan dengan baik dan tepat sasaran.

Dari ajang itu, dia lebih banyak mengenal Indonesia ketika masih tinggal di Jeddah. Bagi dia, perwakilan Indonesia pun tidak kalah dengan peserta dari negara lain. Mereka cantik, pintar, dan bisa merepresentasikan negaranya dengan baik. ’’Saya juga harus bisa seperti itu,’’ kata pria yang mengidolakan Presiden Pertama RI Soekarno, Presiden ke-6 RI Susilo Bambang Yudhoyono, dan Puteri Indonesia 2014 Elvira Devinamira Wirayanti itu.

Seperti kata Elvira, tidak ada hasil yang mengkhianati usaha. Umar pun akan terus berupaya menggapai prestasi. Terdekat, dia berharap bisa meraih gelar tertinggi dalam kompetisi Mahasiswa Berprestasi. Kemudian, dia akan mewujudkan mimpi-mimpinya. ’’Kalau bisa jadi semuanya, kenapa tidak,’’ tegasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here