Launching Jilid Buku Indonesia Menuju 2045: SDM Unggul & Teknologi Adalah Kunci

Lembaga Pertahanan Nasional atau Lemhanas RI bekerja sama dengan Kompas Gramedia serta Centre for Strategic and International Studies (CSIS) meluncurkan tiga jilid buku dengan tema “Indonesia Menuju 2045” pada Rabu (6/10/21). Peluncuran buku ini merupakan bentuk partisipasi Lemhannas RI dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka.

Berkaca pada situasi pandemi covid-19 yang melanda dunia pada awal 2020 lalu, tak terkecuali Indonesia tercinta, Lemhannas RI memutuskan untuk memberikan kontribusi dalam menyongsong 100 tahun Indonesia merdeka, sekaligus berpartisipasi bersama pemerintah mewujudkan cita-cita Indonesia menjadi negara maju, makmur, dan sejahtera.

Acara yang dihelat secara hybrid ini menghadirkan narasumber terkemuka di antaranya, Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo; Menteri Koordinator Bidang Pembangunan manusia dan Kebudayaan RI, Prof. Dr. Muhadjir Effendy, M.A.P; Direktur Eksekutif CSIS, Phillips J. Vermonte; Walikota Solo, Gibran Rakabuming Raka; Salah satu penulis Menuju Indonesia 2045, Nugroho Dewanto; dan Direktur Komunikasi Kompas Group, Glory Ojong.

Adapun tiga jilid buku atau paket buku diluncurkan ini masing-masing berjudul “SDM Unggul dan Teknologi Adalah Kunci”; “Mencapai Kemajuan Ekonomi Berbasis Inovasi dan Ilmu Pengetahuan”; serta “Catatan Kompas: Wacana Menuju Sejahtera Bersama”.

Tiga jilid buku Indonesia Menuju 2045 ini merupakan hasil refleksi bersama Lemhannas, CSIS, dan Kompas. Buku ini mengkaji, mendalami, dan mengulai berbagai persoalan relevan yang dihadapi bangsa Indonesia, serta menawarakan solusi alternatif yang dapat ditempuh.

Demi mewujudkan Visi Indonesia Emas 2045, seluruh elemen bangsa harus berbenah, mempersenjatai diri dengan SDM unggul dan tangguh di era Revolusi Industri 4.0 dan Society 5.0 yang berwawasan lingkungan. Paket buku ini diluncurkan pada Rabu, 6 Oktober 2021.

Dari ketiga buku tersebut, adapun yang menjadi fokus kajian Lemhanas adalah buku berjudul “Indonesia Menuju 2045: SDM Unggul dan Teknologi Adalah Kunci”.

Kegiatan ini diharapkan mampu menggambarkan capaian dan juga tantangan yang dihadapi Indonesia dalam menyongsong 100 tahun Indonesia Merdeka. Sehingga Indonesia mampu bersaing dengan negara lain untuk mewujudkan generasi emas Indonesia Maju.

Lemhanas Akan Perdalam Softpower

Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn.) Agus Widjojo menjelaskan bahwa perkembangan teknologi pada Revolusi Industri 4.0 telah menimbulkan “disrupsi” di berbagai sektor.

Kemajuan suatu negara dalam Revolusi Industri 4.0 berhubungan langsung dengan peningkatan kualitas sumber daya manusia untuk menyambut tantangan perubahan besar dan disrupsi dalam pola pikir, pekerjaan, dan gaya hidup.

“Disrupsi yang disebabkan Revolusi Industri 4.0 telah dan akan terus mengubah secara drastis kehidupan manusia. Tidak ada satu negara atau individu yang bisa menghindarinya. Kita optimistis kehidupan akan menjadi jauh lebih baik,”Ujar Gubernur Lemhannas RI, Letjen TNI (Purn) Agus Widjojo (4/10).

Lemhanas, kata Agus, sejak lama melakukan kajian yang bersifat hardpower berkaitan dengan militer dan pendahyagunaan kekuatan untuk menganalisis kehidupan bernegara maupun hubungan antar negara dengan memperhitungkan faktor geopolitis dan geostrategis.

Hardpower, tambahnya, biasanya dilakukan dengan pola penedekatan coersive atau memaksa maupun dengan pendekatan memujuk lewat pemberian ganjaran baik secara transaksional maupun mengancam.

“Pada akhirnya, tujuan hardpower adalah mencapai kemenangan atau membangun koalisi kemenangan,”

Pelengkap pendekatan hardpower adalah softpower yang lebih menekankan pendekatan berkarakter, inspirasional, berusaha menarik simpati pihak lain melalui kecerdasan emosional, kharismatik, komunikasi persuasif, daya tarik ideologi visioner serta pengaruh budaya.

“Menyambut Indonesia memasuki 100 tahun kemerdekaannya pada 2045 mendatang, Lemhanas memandang perlu mendalami pendekatan softpower. Kita mesti belajar dari beberapa negara yang mengalami kemajuan pesat dalam beberapa dekade terakhir,” ungkap Alumni SMA Negeri 3 Teladan Jakarta ini.

Jika sebelumnya, jelas Agus, musik barat lebih mendominasi, sekarang kondisinya berbeda. Kini, pop Korea atau KPop sudah merasuki anak muda di berbagai belahan dunia, termasuk Indonesia. Atas dasar itulah, Lemhanas memprakarsai penulisan buku Indonesia Menuju 2045.

“Dalam tempo 24 tahun menuju 100 tahun usia Republik Indonesia, kita mesti belajar bagaimana negara-negara itu berhasil membangun sumber daya manusia yang unggul. Generasi muda mereka memiliki fisik yang bagus dan kapasitas otak yang besar,” tambahnya.

Benahi Sektor Kesehatan dan Pendidikan

Penulis buku “Indonesia Menuju 2045: SDM Unggul dan Teknologi Adalah Kunci”, Nugroho Dewanto mengatakan dalam rangka menyambut Indonesia emas pada 2045, pemerintah dan seluruh elemen harus serius mengatasi masalah stunting.

Kondisi stunting, ia ibaratkan dengan sebuah PC. Stunting adalah hardware dan pendidikan adalah sofware. Jika hardwarenya bagus, kata dia, maka PC itu akan mudah menerima dan menampung berbagai software untuk dijalankan.

“Dari riset yang kita lakukan, ditemukan 54 persen angkatan kerja kita yang menyebar baik di sektor swasta ataupun pemerintahan menderita stunting saat mereka masih kecil atau usia anak-anak.

“Ini problem berat yang harus segera dan serius dibenahi. Karena kalo kita lihat perkembangan dan kemajuan yang terjadi di negara-negata lain, terutama negara-negara Asia, fondasi kemajuan mereka adalah investasi besar di bidang kesehatan, pendidikan dan pada saat yang bersamaan membangun infrastruktur besar-besaran,” kata Nugroho Dewanto yang juga sebagai Sekretaris Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI) dan Pemimpin Redaksi Kabarrantau.com.

Nugroho menambahkan, baru pada tahap selanjutnya, pemerintah fokus memperdalam riset untuk inovasi teknologi. Investasi bersar berikutnya yakni pada bidang yang disebut sebagai STAM atau Science, Technologi, Enginering and Mathematics.

“Sebetulnya, kalo kita bandingkan dengan negara seperti China, Jepang, Korea, bahkan juga Vietnam dan lain-lain, Indonesia masih jauh lebih baik. Karena saat mereka baru mulai melakukan pembangunan, itu kondisinya lebih berantakan dari Indoensia,”tutur Nugroho.

Nugroho mengungkapkan, pada saat ini Indonesia memang mengalami penurunan Gross National Income (GNI) yang semula sudah masuk dalam level pendapatan menengah atas, namun karena pandemi turun lagi ke level negara berpendapatan menengah ke bawah.

Kendati demikian, lanjut Nugroho, jika dibandingkan dengan negara lainnya di Asia seperti China, Jepang, Korea dan Vietnam kondisi mereka lebih buruk. Tapi toh mereka tetap bangkit dan menjadi lebih baik.

Hal tersebut karena negera-negara tersebut serius membenahi secara besar-besaran pada di bidang kesehatan, pendidikan, pembangunan infrastruktur. Sehingga menurutnya, pembenahan di bidang SDM melalui pendidikan adalah yang harus digenjot pemerintah sekarang ini.

Nugroho meminta Indonesia untuk belajar dari negara yang sudah maju seperti Korea yang pada 1950an masih terlibat perang dan pada 1960an berstatus negara miskin. Kemudian China yang pada awal 80an, Beijing kalah hebat dari Jakarta. Dan yang lebih mengagumkan adalah Vietnam yang pada 1979 masih terlibat perang saudara.

“Untuk menjadi negara maju di tahun 2045, kita harus mau belajar dari negara-negara lain yang lebih dulu maju dengan kultur, ideologi, agama dan sistem politik yang berbeda-beda. Pondasi kemajuan mereka adalah membenahi kondisi kesehatan dan pendidikan rakyat. Bersamaan dengan itu membangun infrastruktur fisik secara besar-besaran. Tahap selanjutnya mengembangkan riset dan inovasi teknologi,” ujar Nugroho Dewanto