Latifah Maratun, Peneliti Muda Indonesia Raih Penghargaan Internasional

Peneliti Muda Indonesia Latifah Maratun Shotikhah (17 tahun) mengaku, tidak menyangka bisa mendapatkan juara ke-4 Grand Awards on Category of Social and Behavior Science pada Intel International Science and Engineering Fair(ISEF). Penelitiannya, berjudul “Anak-anak Terbuang: Studi Tentang Sikap Masyarakat Terhadap Anak dengan HIV AIDS di Surakarta”, bahkan membuat sejarah prestasi bidang Ilmu Sosial pertama kali pelajar Indonesia di ajang ini.

Dalam membuat penelitiannya, Latifah mengaku, terinspi-rasi dari iklan layanan masyarakat tentang penderita HIV AIDS. Iklan itu membuat hatinya tergugah dan merasa harus bergerak.

“Di situ saya merasa kasihan sama anak-anak ini. Terus saya konsultasi ke pembimbing untuk meneliti itu,” ujar Latifah dikutip dari laman LIPI.

Dari penelitiannya, siswa SMA Negeri 1 Teras, Boyolali, Jawa Tengah ini ingin mencari solusi bagi anak-anak penderita HIV AIDS, la ingin sikap masyarakat terhadap anak-anak penderita HIV AIDS bisa berubah jadi lebih baik dan menunjukkan empati. Menurut Latifah, anak-anak penderita HIV AIDS juga memiliki hak yang sama dengan anak-anak lain.

“Saya ingin attitude masyarakat bisa berubah jadi lebih baik. Bukan hanya di Surakarta atau di Indonesia, melainkan di seluruh dunia,” kata Latifah.

la melanjutkan, isu yang diangkat olehnya adalah isu global. Latifah ingin mengubah mindset masyarakat secara partisipatoris. Salah satu keunggulan penelitiannya adalah adanya angket kuesioner yang disebar di enam kecamatan di Surakarta. Latifah mengungkapkan, menyebarkan angket sebanyak 360 lembar, yang membuat peserta di kompetisi ini kaget,

“Interview juga yang lebih bicara ke solusi,” kata Latifah.

Kepala Sekolah SMAN 1 Teras Wagimun mengaku bangga dengan pencapaian Latifah. Sekolah mendukung penuh Latifah saat sedang melakukan penelitian. Mulai dari memberikannya kesempatan hingga pendanaan. “Dukungannya dengan memberinya kesempatan, kami juga sebagai fasilitator dan pendanaan,” ujarnya.

Kepala Subbag Pengayaan Ilmiah Masyarakat Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Yutainten mengungkapkan, prestasi ini merupakan gelar dalam kategori IPS yang pertama sejak pertama kali ikut pada 2011. Menurutnya, keberhasilan penelitian Latifah karena hasil penelitiannya bisa diaplikasikan ke masyarakat. Negara lain memang memiliki teknologi mumpuni soal isu HIV AIDS, tapi mereka tidak punya isu riil yang harus diselesaikan.

“Kalau di sini ada masalah riilnya. Itu yang bisa dijadikan inspirasi bagi anak-anak. Untuk itu juga, proses supervisi terkait penelitian anak-anak ini harus lebih diintensifkan lagi,” kata Yutainten.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here