Kreasi Indonesia Menang Good Design Award

Karya anak bangsa sukses menyabet tujuh penghargaan di ajang Good Design Award 2018 ke-62 yang diselenggarakan di Tokyo, Jepang, pada Rabu (31/10/2018) lalu.
Menukil situs resmi Good Design Award 2018, kompetisi desain berskala internasional yang dihelat sejak tahun 1957 tersebut memberi penghargaan G-Mark Best 100 kepada Singgih Kartono untuk karya Sepeda Bambu.

Sementara itu, keenam produk Indonesia lain meraih penghargaan di kategori G-Mark Good Design. G-Mark merupakan simbol sekaligus sebutan bagi para peraih penghargaan GDA.

Enam penghargaan diraih mobil Daihatsu Terios karya Mark Widjaja; Kursi Lukis Armchair karya Abie Abdillah; Kain Bamboo Batik Stole karya Lusiana Limono; Arang Gambar (Charcoal) karya Jindee Chua, Suriawati Qiu, dan Merlins; Lubang Angin ‘Dashdot’ karya Zenin Adrian; serta Cold Drip Coffee Maker karya Ronald Malone.

Dilansir Tempo, Direktorat Jenderal Pengembangan Ekspor Nasional (PEN) Kementerian Perdagangan, Arlinda, menuturkan bahwa kemenangan besar beragam produk asli buatan Tanah Air yang difasilitasi oleh Kemendag itu bakal meningkatkan peluang ekspor ke mancanegara.

Arlinda juga beranggapan prestasi membanggakan tersebut menunjukkan desain kreatif dan inovatif dari Indonesia memiliki nilai tambah sekaligus daya saing.sehingga berkemungkinan mendongkrak ekspor non-migas.

Secara menyeluruh, dari 17 karya Indonesia yang ikut serta, 14 di antaranya merupakan pemenang Good Design Indonesia (GDI) tahun 2017 dan 2018 untuk kategori GDI of The Year dan GDI Best.

Sementara tiga lainnya mengikuti G-Mark melalui ajang ASEAN Design Selection, yaitu kerja sama antara Ditjen PEN dengan ASEAN-Japan Center (AJC).

Sepeda bambu karya Singgih S. Kartonosang

Japan Times mencatat, The Spedagi Rodacilik, alias sepeda bambu karya Singgih,merupakan desain inovatif berteknologi rendah yang layak menerima penghargaan Best 100 setidaknya karena satu hal.

Yakni karena desain yang baik bukan hanya berguna di bidang industri, tetapi memungkinkan masyarakat luas memperoleh manfaat besar dalam kehidupan sehari-hari.

Benar saja. Jenis desain dan produk yang ditawarkan laki-laki berusia 50 tahun asal Desa Kandangan, Temanggung, Jawa Tengah itu pada dasarnya memanfaatkan konsep eco product dangreen design.

Menerapkan prinsip-prinsip keberlanjutan (sustainability) dengan memperhatikan faktor lingkungan sekaligus mengedepankan unsur-unsur reducing, reusing, dan recycling.

Untuk memproduksi karya-karyanya, ia mengaku menggunakan seluruh materi yang berasal dari tanaman yang tumbuh di kampung halamannya. Gagasan ini tentu saja menjadikan produknya memiliki nilai tambah.

Inti dari konsepnya, lanjut dia, adalah melihat desa sebagai sebuah inspirasi dan masa depan Indonesia.

Singgih berpendapat, jika digarap dengan serius, desa-desa di Indonesia memiliki potensi alam yang sangat besar sebagai modal dari suatu desain yang baik.

Untuk itu, menurutnya, revitalisasi desa diperlukan agar semua lini bisa ikut maju. Misalnya, kata dia, produk sepeda bisa menciptakan perubahan sosial, “Memberikan kontribusi bukan hanya dalam negeri tetapi juga pada isu global bagi dunia,” ujarnya.

Singgih berkaca pada yang terjadi saat ini di Jepang, “Negara ini (Jepang) rapuh tampaknya karena desa sudah kosong,” pungkasnya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here