Kopi Indonesia Mendunia, Bagaimana Kesejahteraan Petani?

Indeks pertumbuhan ekspor kopi Indonesia diprediksi akan terus tumbuh di 2018. Pada tahun lalu hingga November, ekspor kopi Indonesia tercatat mencapai 432 ribu ton untuk biji kopi dan 152,98 ribu ton untuk kopi olahan.

Direktur Industri Minuman, Hasil Tembakau dan Bahan Penyegar Kementerian Perindustrian (Kemenperin) Abdul Rochim mengatakan, pertumbuhan industri kopi dalam negeri di 2018 diperkirakan sebesar 7,5 persen. Angka tersebut tidak jauh berbeda dengan pertumbuhan di 2017 yang berkisar antara 7 persen-8 persen.

“Pada tahun 2018, industri pengolahan kopi masih akan tumbuh diantaranya didorong peningkatan konsumsi dalam negeri,” ujar dia saat berbincang dengan liputan6.com di Jakarta, Selasa (16/1/2018).

Dia menjelaskan, produksi kopi Indonesia di 2017 sebesar 650 ribu ton, yang terdiri dari jenis robusta sekitar 75 persen dan arabika sebanyak 25 persen. Industri di dalam negeri paling banyak menyerap kopi dengan jenis robusta, yang 65 persennya berasal dari wilayah Sumatera seperti Lampung, Sumatera Selatan, Bengkulu dan Jambi.

“Produksi kopi sekitar 650 ribu ton, sekitar sepertiganya untuk kebutuhan di dalam negeri,” kata dia.

Menurut Rochim, sebagian besar kopi yang dihasilkan di dalam negeri memang diperuntukkan untuk kebutuhan ekspor. Data dari Kemenperin ekspor biji kopi pada periode Januari-November 2017 mencapai 432 ribu ton dengan nilai US$ 1,094 miliar. Biji kopi tersebut diekspor ke Amerika Serikat, Jerman, Jepang, Italia dan Malaysia.

Sementara ekspor kopi olahan pada periode yang sama sebesar 152,98 ribu ton dengan nilai US$ 416,319 juta. Kopi olahan tersebut telah memiliki pasar di sejumlah negara seperti Filipina, Malaysia, Iran, Uni Emirat Arab dan Singapura.

Selain mengekspor, Indonesia juga mengimpor biji kopi dan kopi olahan dari negara lain. Namun jumlahnya, baik berupa volume maupun nilai, tidak sebesar ekspor yang dilakukan.

Untuk impor biji kopi pada periode Januari-November 2017 tercatat sebesar 10,077 ribu ton dengan nilai US$ 24,54 juta. Biji kopi tersebut berasal dari Vietnam, Brasil, Timor Timur dan India.

Sedangkan impor kopi olahan mencapai 10,772 ribu ton dengan nilai US$ 63,72 juta. Indonesia mendatangkan kopi olahan ini dari lima negara seperti Brasil, Malaysia, India, Vietnam dan Singapura.

“Impor biji kopi untuk blending, utamanya untuk menjaga cita rasa yang diinginkan,” ungkap dia.

Meski lebih banyak diekspor, namun Rochim mengakui harga biji kopi jika dijual di dalam negeri lebih mahal ketimbang harga ekspor. “Harga biji kopi di dalam negeri cenderung lebih mahal dari harga terminal di London (robusta) dan Amerika (arabika),” jelas dia.

Ketua Umum Gabungan Eksportir Kopi Indonesia (Gaeki) Hutama Sugandhi, mengatakan, sebenarnya produksi kopi nasional dalam beberapa tahun terakhir cenderung turun dan belum mampu kembali normal. Jika normalnya produksi kopi dalam negeri mencapai 750 ribu ton, dalam beberapa tahun terakhir produksi kopi lokal hanya mampu bertengger dikisaran 650 ribu ton.

“Tahun kemarin belum normal, dibandingkan panen normal di Indonesia. Biasanya kurang lebih 700 ribuan ton per tahun. Tahun 2016 kan turun karena cuaca, tahun kemarin belum bisa kembali (normal). 2018 ini juga diperkirakan antara 650 ribu ton. Masih belum bisa menembus 700 ribu ton. Itu untuk total semua jenis (robusta dan arabika),” ungkap dia.

Untuk tahun ini, kata Hutama, panen kopi akan dimulai pada Maret-April, khususnya untuk jenis robusta. Namun dengan intensitas hujan yang tinggi diperkirakan akan mengganggu proses pembungaan kopi sehingga berdampak pada biji kopi yang dihasilkan.

“Diperkirakan akan menurun, kemarin seharusnya pembungaannya cukup bagus. Karena panen tahun ini bergantung pada pembungaan kemarin (tahun lalu). Dengan hujan intensitasnya tinggi banyak yang meramal biji kopi yang masih kecil tapi sudah banyak yang rontok. Diperkirakan bisa berkurang antara 5 persen-10 persen,” tutur dia.

Namun lantaran dalam setahun masa panen kopi yang berlangsung sekali, maka petani harus pandai-pandai mengatur pengeluaran yang didapat dari panen kopi tersebut. Biasanya jika tidak sedang masa panen, petani kopi beralih ke usaha lain seperti menanam pisang hingga menjadi pedagang.

“Jadi bagi petani, hasil dari kopi itu dianggap tabungan. Untuk biaya hidup sehari-hari ya ada yang berdagang, menanam pisang dan lain-lain. Untk musim panen diperkirakan akan dimulai pada April sampai Agustus, jadi sekitar 4-5 bulan. Nah setelah itu kami bilangnya musim paceklik,” ujar dia.

Ke depan, Feri berharap pemerintah khususnya di daerah dapat memberikan perhatian yang lebih besar terhadap para petani kopi lokal. Sebab, kopi asal Indonesia ini bukan hanya dikonsumsi di dalam negeri tetapi juga sudah terkenal di pasar internasional.

“Kita para petani ini kadang kewalahan memenuhi permintaan kopi, karena berapa pun hasil panen itu orang rebutan (untuk membeli). Jadi harga bersaing, siapa yang berani menawar lebih tinggi di situ kami lepas. Dilihat dari situ jelas menyejahterakan petani. Dan kalau pembeli lokal (bukan untuk diekspor) biasanya menawar harga lebih mahal,” tandas dia.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here