Kolaborasi 4 Desainer “Menjaga Tradisi dan Merawat Bumi Lewat Fashion” di PARARA 2017

Motif Pelangka melambangkan kemakmuran dan pentingnya pelangka digunakan keluarga dalam menjalani kehidupan yang akan mempermudah pekerjaan berat menjadi lebih ringan.

Tidak berlebihan bila menyebut kain tenun Indonesia sebagai salah satu pesona budaya yang harus dijaga dan dilestarikan. Selain indah, kain tenun juga mengandung cerita dari sang penenun itu sendiri, yang biasanya terlihat dari motif. Tak hanya itu, proses pengerjaannya secara ‘hand made’ serta kemampuan penenun yang diturunkan dari generasi ke generasi. Tak heran, produk asli Indonesia ini juga menjadi pesona Internasional.

Pesan inilah yang ingin disampaikan dalam Festival Panen Raya Nusantara (PARARA) yang digelar di Taman Menteng, 13 – 15 Oktober kemarin. Beragam komunitas penenun dari seluruh nusantara mengenalkan kepada masyarakat luas, keindahan coraknya dan nilai historisnya. Tak hanya sekedar pameran produk, PARARA juga menggelar karya terbaik 4 desainer Indonesia yang menampilkan kain asli Indonesia ini. Keempat desainer tersebut berkolaborasi dengan komunitas lokal yang menjadi bagian dari Konsorsium, yaitu Teras Mitra dengan brand LAWE, Borneo Chic, Tenun Dayak Iban serta Gerai Nusantara.

Teras Mitra – LAWE feat Amber Kusuma menampilkan koleksi bertema “Langit Senja di Keifamenanu”. Amber Kusuma mengangkat desain dengan bahan kain tenun yang dibuat oleh anak-anak para penenun di Kefamenanu, Nusa Tenggara Timur. “Karya ini menggambarkan keindahan alam Kefamenanu yang terinspirasi dari perpaduan nuansa warna langit senja orange jingga berpadu alam yang hijau, dan dihiasi birunya langit,” jelas Amber kepada Kabarrantau.

Hasil Tenun Anak Kefamenanu menginspirasi Amber Kusuma mengangkat koleksi bertema ‘Langit Senja di Kegamenanau’.

Terdapat delapan setelan yang Amber pamerkan yang desainnya banyak menggunakan style Jepang seperti berbagai jenis outer kimono, tunik dan celana Hakama. Amber ingin desainnya fleksibel dan bisa dipadu padankan dengan outfit lain.

Sementara Yoga Wahyudi yang berkolaborasi dengan Borneo Chick mengangkat tema “Merindu Panjang” sebagai gambaran perantau yang rindu akan rumah adat Kalimantan (atau sering disebut sebagai rumah lamin panjang). Jenis kain tenun yang digunakan adalah kain sintang yang berasal dari Kabupaten Sintang, Kalimantan Barat. Ada lima motif yang digunakan Yoga Wahyudi dalam desain bajunya yaitu motif Merinjan, Pelangka, Perahu, Pucuk Rebung dan Tiang Imai.

Yurita Puji menampilkan koleksi yang menggunakan kain tenun Ikat Dayak Iban dari Kalimantan Barat, kain tenun Lombok Timur dan kain tenun dari Kabupaten Sawah Lunto, Padang. Pewarnaan benang pada kain-kain yang digunakan berasal dari beragam jenis tanaman seperti kunyit, pinang, indigo, kangkung Jawa, kulit kayu Makasar, Engkerebai dan Tebelian. Baju-baju yang dipamerkan didominasi dengan warna kuning, coklat, merah dan hijau.

Koleksi Yurita fokus pada pakaian simple dan ‘ready to wear’ dengan harapan produk yang didesainnya lebih cepat terjual sehingga memberikan impact bagi para penenun. Pada September lalu, Yurita berhasil memperkenalkan motif tenun Dayak Iban di ajang New York Fashion Week.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here