KJRI Shanghai Pulangkan TKI Undocumented Yang Sakit

Oleh
Indah Morgan di Ningbo, Tiongkok.
Divisi Luar negeri Gerakan Kebaikan Indonesia (GKI)

 

Tenaga Kerja Indonesia di Tiongkok kebanyakan undocumented, di mana dengan status undocumented tersebut, menjadi dilema bagi dirinya sendiri, bagi masyarakat di sekitarnya dan bagi kantor perwakilan Indonesia di Shanghai.

Ketika TKI undocumented masuk ke negara yang tidak mengakui keberadaannya ibarat masuk ke hutan belantara dengan hanya mengandalkan sense of survival untuk bisa bertahan hidup. Ketika mereka menghadapi masalah seperti sakit, terancam pemutusan pekerjaan, kesulitan beradaptasi, hamil diluar nikah, pelecehan seksual dan banyak masalah lainya, akan dihadapkan pada kesulitan mencari perlindungan, pertolongan dan pencarian suaka dari sebuah lembaga bantuan yang bisa diharapkan. Karena memang belum ada organisasi (kelembagaan) seperti di Hongkong, Taiwan, Singapura atau negara pengimport TKI lainya.

Menjaga kesehatan merupakan hal yang paling penting untuk diperhatikan terutama dengan status ketidak resmian-nya, pertanggung jawaban dari majikan menjadi handalan satu-satunya untuk bisa membantu mengantar ke rumah sakit.

Komunitas Indonesia yang ada disekitarnya tidak bisa berbuat banyak karena kuatir akan konsekuensi yang harus ditanggung, mengingat pemerintah Tiongkok sudah jelas-jelas dalam undang-undangnya mengatakan bahwa: setiap anggota masyarakat yang membantu dan memberikan pertolongan kepada pekerja yang illegal akan mendapatkan denda sesuai dengan peraturan yang berlaku.

Adalah Iswati, salah satu TKI undocumented yang entah berapa lama berada di Shanghai. Niatnya hijrah ke Shanghai dari propinsi lain adalah untuk lapor ke KJRI Shanghai kalau dirinya berniat pulang ke Indonesia karena sakit yang di deritanya. Walhasil, penyakitnya semakin parah dan perlu di pindah ke rumah sakit yang lebih besar yang perlu biaya perawatan sekitar 140 juta Rupiah. Ibarat sudah jatuh tertimpa tangga; sejak keberadaannya di Shanghai tidak bisa bekerja malah jatuh sakit. Untungnya teman-teman sesama TKI memiliki kesadaran yang tinggi untuk saweran membantu Iswati.

Konfirmasi dari KJRI  Shanghai bahwa identitas Iswati tidak ditemukan di record imigrasi RRT, karena awalnya memberikan data paspor yang salah (bukan paspor yang dipergunakan ketika pertama kali masuk RRT). Ketika di wawancarai lebih lanjut, Iswati mengakui bahwa ia masuk RRT menggunakan passport lain dan dengan batuan KJRI paspor tersebut diminta ke agent guna pengurusan exit permit dari imigrasi Tiongkok.

Keadaan Iswati semakin parah, dengan terbatasnya uang yang dimiliki, Iswati dibantu oleh KJRI Shanghai dengan diberikan fasilitas akomodasi dan makan sehat, akibat dari sakit yang diderita, Iswati tidak diperkenankan tinggal bersama penumpang lainya ketika penerbangan ditunda dan maskapai menolak menerbangkan ke Jakarta karena tidak ada jaminan dari dokter terkait kesehatannya.

Dengan berbagai pertimbangan, bantuan dan dukungan serta kerja keras staf KJRI Shanghai maka Iswati bisa kembali ke Indonesia dengan dibelikan tiket baru dengan pesawat yang berbeda, sesampai di Jakarta, Iswati dijemput oleh keluarganya dengan didampingi BNP2TKI.

Sangatlah jelas, pemerintah telah hadir melindungi masyarakatnya yang dalam kesulitan di Luar Negeri, terlepas dari status legalitasnya. Namun bukan berarti anggota masyarakat take it for granted dengan fasilitas tersebut, alangkah baiknya bila perlindungan diawali dari diri sendiri dengan cara menjaga kesehatan, mengenali daerah sekitarnya dan lebih mandiri dalam mengatasi kesulitan yang dihadapi.

Konsul Jendral RI untuk Shanghai, Ibu Siti Nugraha Mauludiah menyampaikan pesan bahwa TKI undocumented di Tiongkok sangat rentan secara hukum dan sosial, oleh karena itu perlu dilakukan pencegahan agar tidak ada lagi BMI Indonesia yg datang ke RRT dgn maksud bekerja di sekor domestik, karena orang asing dilarang bekerja di sektor tersebut.

Ada orang bijak mengatakan; jangan menyalahkan kegelapan tetapi nyalakan lilin.

• Pengalaman ini menjadi pengingat kepada kita semua untuk memastikan niat untuk bekerja ke LN harus jelas sejak di-awal. Pastikan informasi dan peraturan hukum negara yang akan dituju telah dicatat akan hal-hal yang diperbolehkan dan hal-hal yang dilarang.

• Pergunakan waktu sebaik mungkin untuk menimba ilmu dan pengalaman  sebanyak mungkin dari kejadian sehari-hari melalui cara memasak, mendidik anak dan kegigihan majikan dalam menjalankan niaganya.

• Mulai dipikirkan dari sekarang, perencaan untuk kembali ke Indonesia berkumpul dengan anak, suami dan orang yang dicintai. Tidak selamanya akan bekerja di luar negeri, mulai dipikirkan kegiatan yang akan dikerjakan sesampai di Indonesia nanti untuk menunjang pemasukan dari gaji yang  tidak diperolehnya lagi.