Kisah Iwan Sunito Merantau Raih Sukses Bisnis Properti di Australia

Iwan Sunito, CEO Crown Group, perusahaan developer apartemen di Australia. (Dok. Crown Group)

Iwan Sunito adalah seorang ‘Raja Properti’ di Australia. Pria yang semasa kecilnya dijuluki si Anak Sungai itu siapa sangka akan menjadi akan bergelimang harta meskipun semasa sekolahnya ia tinggal di rumah Apung dan seringkali tinggal kelas.

Bermula dari pekerjaan keci seperti merenovasi pagar, kemudian kamar mandi, sampai membangun sebuah rumah, dan kini ia memiliki portofolio yang bernilai miliaran dolar di Australia berkat anugerah kemampuan menggambarnya hingga mengantarkan ia mendirikan Crown International Holdings Group, yaitu sebuah perusahaan properti raksasa berbasis di Sydney, Australia.

selama perjuangan tersebut Iwan kini Sudah dua dekade lebih Iwan Sunito eksis di dunia properti di Australia. Bermula dari sekadar merenovasi pagar, kamar mandi, sampai membangun satu rumah, Iwan kini memiliki portofolio properti bernilai miliaran dolar di negeri itu.

“Bagi orang Indonesia yang pengetahuannya , jaringannya, terbatas, staf juga enggak ada, one man show, itu sangat menantang pada awalnya,” kata Iwan kepada CNN Indonesia, dalam sebuah wawancara khusus di Jakarta, pekan lalu.

Dari awalnya tak berani mematok tarif, Crown, perusahaan yang didirikan Iwan dan rekannya, Paul Sathio pada 1994, kini dikenal sebagai pengembang spesialis properti mewah.

Kalau semula hanya berani mempekerjakan mahasiswa agar bayarannya lebih murah, Crown kini sudah punya banyak karyawan dan kantor perwakilan di beberapa negara.

Kata Iwan, semua bermula dari hal kecil. “You think big in a start really small,” kata dia, mengenang masa dirinya mengerjakan apa saja pekerjaan yang ditawarkan pelanggan. Dari sekadar merenovasi pagar, garasi, atau kamar mandi, sampai membangun satu unit rumah utuh.

memulai bisnis dengan network dari teman ke teman, dari saudara ke saudara, pelan tapi pasti, Iwan mulai menancapkan kukunya di dunia properti di Australia, tempatnya menuntut ilmu dari sarjana sampai master di bidang arsitektur. Kinerja Crown mulai diakui.

masalah demi maslah dalam berbisnis kerap dihadapi Iwan, diantaranya terjadi resesi ekonomi pada 2008. “Terjadi slow down, tapi kami belajar,” kata pengusaha yang besar di Surabaya dan Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah ini. “Positioning produk kami harus jadi best of the best.”

Pada saat resesi itu, kata Iwan, hanya ada dua pilihan: memotong ongkos supaya perusahaan bisa tetap hidup, atau membuat proyek yang terbaik kualitasnya. Crown memilih yang kedua.

Ramuan Crown adalah apartemen terbaik, harus disukai semua orang, desain arsitekturnya bagus, sense of arrival yang luar biasa, dan taman-taman hijau. “Pada masa-masa itu, hasilnya bukannya profit berkurang tapi malah berganda,” katanya.

Kini Crown Group berkembang menjadi pengembang dengan portofolio senilai Rp 48 triliun. Perusahaan ini sedang membangun V, sebuah menara hunian 29 lantai di Parramatta; Skye, hunian vertical 20 lantai di Sydney Utara; dan Crown Ashfield di barat.

Pernah Tinggal Kelas

sebelum dikenal sebagai seorang pengusaha properti sukses di Australia, siapa mengira Iwan Sunito pernah mengalami tinggal kelas saat sekolah dasar di Pangkalan Bun, Kalimantan Tengah.

berbagai Pengalaman tersebut diakui Iwan sebagai titik balik, karena setelah tak naik kelas, dia justru ditempatkan di kelas yang isinya orang-orang pintar. “Dan saya adalah the worst,” ujarnya terkekeh.

Sang orang tua, juga melewati masa-masa sulit. Sang ayah sempat kerja serabutan di Pangkalan Bun, setelah ‘gagal’ di Surabaya. Mulai dari memotong kayu, menyadap karet, sampai menjual karet dilakoninya.

Sampai akhirnya mereka bisa mendirikan toko kelontong kecil-kecilan. Itu pun sempat terbakar beberapa kali.

Meski hanya memiliki toko kelontong kecil-kecilan, sang orang tua rupanya memiliki mimpi yang lebih besar untuk pendidikan. Anak-anaknya harus disekolahkan di luar negeri. Itulah yang membawa Iwan ke Australia.

“Nama Chinese saya kan ada Huan, yang berarti gembira. Waktu saya dikandung dan dilahirkan, itu masa susah banget. Papa sakit dan mama waktu itu enggak ada income, jadi dia harus fighting,” katanya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here