Kisah dr Michael Leksodimulyo Menjadi ‘Spesialis Gelandangan’

Sejak kecil, cita-cita seorang Michael Leksodimulyo adalah menjadi dokter. Ketika keinginannya diutarakan kepada orang tua, mereka hanya bisa menangis haru lantaran tak punya biaya untuk mewujudkan impian putranya. Siapa sangka kini dia malah menjadi ‘spesialis gelandangan’.

Dr Michael adalah pendiri klinik keliling Yayasan Pondok Kasih. Sejak tahun 2009, dia memberikan layanan dan penyuluhan kesehatan gratis kepada warga yang tinggal di kantung kemiskinan di Kota Surabaya. Bahkan tanpa malu-malu, dia senang jika disebut sebagai ‘spesialis gelandangan’.

Perjalanan hidup dr Micheal hingga bisa menjadi spesialis gelandangan sebenarnya tidaklah mulus. Sebagai anak penjual pakaian di Pasar Turi Surabaya yang sudah beberapa kali terbakar, jelas dia tidak memiliki dukungan finansial yang memadai.

Walau demikian, keinginan Michael kecil tak kandas. Dia tetap rajin belajar dan mendapat nilai bagus di sekolah, kecuali dalam bidang matematika. Dia juga berdoa kepada Tuhan, apabila berhasil menjadi dokter kelak, maka dia berjanji akan menjadi pelayan masyarakat.

“Cita-cita saya akhirnya tersampaikan, bisa sekolah kedokteran di Universitas Airlangga. Saya juga mendapat kesempatan bersekolah manajemen rumah sakit dengan beasiswa. Saya masuk lagi di pemasaran rumah sakit,” kata Micheal Leksodimulyo kepada detikHealth.


Lulus dari sekolah kedokteran, dr Michael berpraktik di tempat terpencil di kabupaten Berau, Kalimantan Timur. Dia senang karena baru menjadi dokter muda sudah langsung menjabat sebagai kepala puskesmas. Belakangan dia tahu bahwa petugas di puskesmas tersebut hanyalah dia seorang.

“Ketika saya baru ditempatkan, saya ingin berkenalan dengan petugas di sana, ternyata tidak ada dokter lain. Bahkan perawat ataupun bidan tak ada yang mau bekerja di sana. Hanya ada satu orang yang dulu pernah dilatih menjadi perawat pada waktu jaman perang,” kenangnya.

Di tempat tersebut, dr Michael merangkap menjadi dokter umum, spesialis obgyn, hingga dokter gigi selama 3 tahun. Dia bahkan pernah diminta membantu sapi yang mau melahirkan. Pengalaman tersebut membuatnya belajar banyak hal hingga kembali ke Surabaya.

Di kota asalnya, karir dr Micheal melaju pesat. Dia berhasil menjadi wakil direktur rumah sakit swasta di Surabaya, RS Adi Husada. Hingga suatu saat, seorang ibu rumah tangga sekaligus Ketua Yayasan Pondok Kasih, Hana Amalia Vandayani, mengajaknya melihat-lihat kondisi masyarakat miskin di Surabaya.

“Saya sudah pernah melihat pasien di hutan terpencil, tapi belum pernah melihat pasien di kolong jembatan,” kata dr Michael.

Ketika sedang melintas di jalan raya dan melihat seseorang gelandangan ngesot di jalan raya di terik siang, ibu Hana seketika meminta mobil untuk berhenti dan berlari mendekatinya. Dengan kebaya mahalnya, dia menciumi dan mengusap wajah gelandangan tersebut.

Pengalaman tersebut membuat mata dr Micheal terbuka. Setibanya di rumah, dia menangis sampai membuat istrinya keheranan. Dia teringat janjinya bahwa bukankah dulu dia berniat menjadi dokter untuk melayani masyarakat? Maka tak lama kemudian, dr Micheal mengajukan surat pengunduran diri meskipun sebentar lagi mungkin dia akan menjabat sebagai orang nomor 1 di rumah sakit.

“Saya tidak tahu karir saya bakal seperti apa. Tapi saya menjadi dokter bukan untuk mendengarkan apakah dia sakit batuk pilek lalu saya memberikan resep obat batuk pilek, apakah dia sakit diare lalu saya memberikan obat diare, tetapi penyakit di Indonesia ini adalah penyakit kemiskinan,” ujarnya.

Sampai saat ini, Yayasan Pondok Kasih sudah menangani 167 komunitas miskin dengan rata-rata memuat 200 – 300 keluarga. Yayasan ini juga sudah mendirikan 10 klinik dan sub klinik permanen di sejumlah titik di Kota Surabaya. Salah satu klinik ini berada di pemukiman Gang Dolly, yang terkenal dengan tempat prostitusinya.

Dia juga pernah mengadakan memberikan pelayanan gizi bagi masyarakat terpinggirkan yang tinggal di atas makam, juga menyelenggarakan kawin massal yang diikuti 5.451 pasangan se Jabodetabek tahun 2011 lalu sampai sempat diliput media internasional dan mendapat rekor MURI.

Menurut dr Michael, pengabdian kepada masyarakat tak hanya bisa dipandang dari kacamata kesehatan saja. Oleh karena itu, dia memfokuskan pada penanganan yang mengutamakan kebersamaan, bukan berjalan lewat proyek yang berjalan sendiri, tapi yang diciptakan bersama dengan program pengentasan kemiskinan.

Mengobati orang-orang miskin dan terpinggirkan memiliki keunikannya tersendiri. Berbeda dengan orang yang berkecukupan, di mana sakit sedikit saja sudah bingung, dr Micheal menceritakan bahwa warga kurang mampu justru cenderung lebih tahan banting fisik dan kesehatannya.

Masalahnya, mereka tidak bisa mengatur pola hidup yang sehat. Maka penyakit yang perlu diubah adalah behavior atau kebiasaan. Misalnya, ada beberapa warga miskin yang bilang bahwa hidup dengan sampah di sekitarnya saja anak-anaknya sudah bisa gemuk, jadi tidak perlu khawatir.

“Tapi apakah anaknya nggak cacingan? Apakah gemuknya bukan karena busung lapar? Gemuknya itu ada yang sehat dan tidak sehat, ada yang cacingan gemuk dan ada yang diabetes gemuk. Jadi yang kita terapi adalah behavior. Kalau batuk pilek mereka tahan, lebih tahan dari kita. Dia makan sembarangan nggak diare, kita makan salah sedikit saja diare,” jelas dr Michael.

Tak hanya itu, warga miskin juga lebih enggan mengunjungi klinik. Oleh karena itu, yayasannyalah yang lebih sering turun ke lapangan dan kantung-kantung kemiskinan. Inilah yang membuat dr Michael hanya memilih orang-orang yang punya hati dan menjadikan medis sebagai dunianya.

“Jangan bilang nanti datang ke tempat praktik saya, mereka tak akan datang. Mereka tak punya uang untuk angkutan ke tempat praktik. Kita yang harus ke situ, melahirkan juga harus di bawah jembatan, di pinggir sungai, kita lakukan di situ. Nggak mungkin kita kasih uang untuk pergi ke bidan, dia nggak akan datang,” terangnya.

BIODATA
Nama : dr Michael Leksodimulyo, MBA, M.Kes
Tanggal lahir : 6 Januari 1968
Nama Istri : Herlina Apriontonita

Pendidikan :
Fakultas Kedokteran Universitas Sam Ratulangi (1994)
Pasca Sarjana Universitas Airlangga (2002)

Praktik:
Kepala Puskesmas Talisayan Berau, Kalimantan Timur
RS Gotong Royong Surabaya
RS Adi Husada Undaan, Surabaya
Director Community Health Yayasan Pondok Kasih.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here