Keterlibatan Mahasiswa Indonesia dalam Pembuatan Vaksin Covid-19

Pandemi Covid-19 terus menghantui seluruh dunia sejak pertama kali diidentifikasi di Wuhan, Tiongkok, pada akhir tahun 2019 lalu. Penelitian mengenai vaksin Covid-19 pun menjadi penelitian medis yang diprioritaskan oleh banyak negara di dunia.

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada Juni lalu mengatakan bahwa vaksin buatan AstraZeneca yang bekerja sama dengan Universitas Oxford di Inggris merupakan kandidat vaksin terdepan dan paling maju dalam hal pengembangan.

Vaksin Covid-19 yang dikembangkan oleh Universitas Oxford memiliki perkembangan yang cukup meyakinkan dengan hasil aman dan memicu respons imun pada saat dilakukan uji klinis. Percobaan tersebut melibatkan 1.077 sukarelawan dan tercatat bahwa injeksi vaksin berhasil membuat antibodi dan sel-T yang dapat melawan virus SARS-CoV-2.

Terkait hal tersebut, ternyata ada kontribusi dari anak bangsa Indonesia di sana. Dia adalah Indra Rudiansyah, mahasiswa program doktoral Clinical Medicine, Jenner Institue, Oxford University.

Pria kelahiran Bandung ini menjadi satu-satunya mahasiswa Indonesia yang terlibat dalam pengembangan vaksin Covid-19 di Oxford. Indra merupakan sarjana S1 lulusan Mikrobiologi ITB dan S2 Bioteknologi ITB.

mahasiswa oxford
Indra Rudiansyah | Foto : kumparan.com

Awalnya, Indra sebenarnya tidak terlibat dalam tim peneliti vaksin Covid-19. Namun pada Januari lalu, ia masih bekerja dalam tim yang meneliti penyakit malaria. Hingga kemudian Covid-19 dinyatakan sebagai pandemi yang melanda dunia.

Pemimpin pengembangan di Oxford pun mulai membuka lowongan untuk seluruh mahasiswa, staf, maupun post doctoral yang ingin terlibat menjadi bagian dari tim.

Indra yang sebelumnya menggeluti bidang vaksin malaria menerima tawaran itu agar bisa mengimplementasikan ilmunya untuk uji klinis. Keterlibatannya sebagai penguji antibodi mendapat respons positif dari para volunteer yang sudah divaksinasi. Menurutnya, hal ini penting untuk melihat efek samping maupun kemanjuran vaksin.

Berdasarkan wawancaranya dengan cnnindonesia, Indra bercerita bahwa tim di Oxford berjumlah ratusan orang, sebab Oxford mengembangkan vaksin dengan kecepatan luar biasa.

Indra juga menjelaskan biasanya untuk mendapatkan data uji klinis fase I vaksin baru dibutuhkan waktu 5 tahun namun tim Oxford mampu mendapatkan data uji klinis fase 1 hanya dalam waktu 6 bulan.

Dilansir dari kumparan, Indra Rudiansyah mengatakan bahwa vaksin yang sudah terbukti efektif melalui uji klinis dan mengantongi izin edar masih belum menjadi akhir dari pandemi. Vaksin masih harus diproduksi secara massal, melewati serangkaian pengujian kualitas agar menjadi efektif digunakan, dan tentunya melakukan vaksinasi kepada masyarakat secara luas.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here